Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)

Harga Setetes Benih (Dinikahi Om Duda)
Bab 11 Bertemu Sahabat


__ADS_3

"Lalu bagaimana Bel, apa perceraianmu dengan Agung sudah selesai?"


Jonathan masih belum tahu seperti apa masalah Bella dengan suaminya itu yang sudah dianggap Bella sebagai mantan.


"Entahlah Jo, aku malas bahas Mas Agung. Pokoknya aku udah gak mau lagi balik sama dia!"


"Oke, kalau nanti kamu sudah benar-benar bercerai sebaiknya kamu fokus saja bebenah diri!"


Bella mengangguk, pada dasarnya Ia punya rasa pada Jonathan akan tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan hal itu.


"Ya udah deh, aku balik dulu Jo. Sekalian mampir kerumah Nadya. Udah lama banget gak ketemu!"


"Oh.. baiklah hati-hati dijalan. Makasih hadiahnya!"


"Sama-sama Jo, aku seneng kok bisa lihat Miranda seneng!"


Bella pun berlalu keluar untuk mampir dulu kerumah sahabatnya Nadya. Baru bertatap muka saja mereka sudah heboh. Tak lupa cipika-cipiki dan sambil berpelukan. "Ayo duduk dulu Bel?" Nadya menghantarnya ke arah di sofa.

__ADS_1


"Ya ampun Nad, aku kangen banget tauk sama kamu? Kenapa sih susah banget mau ketemu kamu aja. Kayak mau ketemu pejabat tau gak?"


"Maaf Bell, namanya juga single parent dengan seorang anak gadis. Kalau gak cari uang tiap hari siapa lagi yang mau ngasih uang. Papanya Silla aja udah gak mau tahu sama anaknya. Dia terlalu sibuk dengan si pelakor itu!"


Bella sangat mengerti bagaimana perasaan Nadya saat ini. Tapi ya mau bagaimana lagi. Keadaan memaksanya untuk bisa hidup mandiri.


"O ya? Gimana dengan Rass? Kenapa kalian gak jadian aja sih? Kan Rass juga duda?" Ledek Bella kemudian dengan senyumnya yang terlihat sedikit menggoda.


"Ah... Mana bisa begitu. Diakan sahabat kita. Bukankah Kita sudah bersahabat sangat lama. Jadi aneh saja kalau tiba-tiba sahabat menjadi suami!" Timpal Nadya dengan di balut kekehan kecilnya. Meski tak munafik juga sih kalau sebenarnya Nadya merasa nyaman saat dekat dengan Rass.


"Soal apa?"


"Tapi kamu jangan kasih tahu Jonathan ya?"


Nadya sempat menatap dengan aneh, "Emangnya kenapa sih?"


"Kan sebentar lagi aku mau cerai sama Mas Agung, jadi aku mau mendekati Jonathan lebih dari sekedar sahabat. Menurutmu aku salah gak? Sebab menurutku dia jauh lebih sempurna ketimbang Mas Agung yang menyebalkan itu. Apa-apa nurut banget sama orang tuanya. Bahkan cenderung gak perduli dengan aku!"

__ADS_1


"Hahaha...!" Nadya terpingkal-pingkal, "Iya deh aku bakal support kamu nanti. Asal udah lewat masa iddah ya!"


Bella tersipu malu. Ia tidak tahu mengapa support Nadya sangat berarti untuknya.


"O ya putrimu mana?"


Bella celingukan untuk memeriksa sekitar. Biasanya Silla akan sering terlihat saat Nadya ada di rumah.


"Ada di kamar Bel, tapi ya itu. Aku gak tahu kenapa Silla jadi sering mengurung diri dan juga kayak mual-mual gitu."


"Wah, kok gitu sih Nad, lebih baik kamu ajak dia periksa deh. Jangan-jangan dia mengandung lagi," lirih Bella di ujung kalimatnya.


Deg!


Berdetak dada Nadya mendengar ucapan Bella, karena hal itu bisa saja menimpa Silla di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun.


"Maaf ya Nad, aku ngomong gini gak ada maksud apa-apa kok. Kita kan sahabat. Jadi aku mau yang terbaik buat putrimu. Tau sendirikan pergaulan anak jaman now tidak bisa di percaya sedikit pun!"

__ADS_1


__ADS_2