
"Ada apa lagi sih, Ma? Hampir setiap hari kok ngoceh terus. Kapan Mama berhenti ngedumel," sahut Jonathan yang ternyata sudah pulang dari kantor.
"Ini ni istri kamu, lihat tu tempenya gosong. Gimana sih memasak aja gak becus. Makannya kamu pinter-pinter milih istri dong Jo. Anak kecil yang masih belum bisa apa-apa aja kamu nikahi," jawab Mama Mutia, sewot.
Bukannya ikut menyalahkan Miranda, Jonathan malah tersenyum ke arah Miranda, "Baru juga khursus beberapa hari ini Ma. Masak langsung bisa sih. Ya udah Mama kedepan aja gih, biar Jonathan dan Miranda yang masak!"
Jonathan harap pilihan itu adalah yang terbaik. Ia tidak ingin Miranda terus menjadi bulan-bulanan Mama Mutia hanya karena menganggap Bara meninggal akibat kesalahan Miranda yang menolak untuk kembali bersama.
"Tapikan kamu abis pulang kerja, Jo. Pasti kamu capek banget kan?" Mama Mutia kembali melirik Miranda dengan tatapan penuh kebencian.
"Udah, Ma. Gak perlu khawatirkan Jonathan!" Pria 37 tahun itu meyakinkan lagi.
"Ya udah deh, terserah kamu. Bikin kesel aja kerjanya. Kapan peremuan itu bisa berguna!" Mama Mutia terus memaki sambil melenggang pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Jonathan jadi tak enak hati karena harus melihat kesedihan di wajah Miranda. Sejujurnya Jonathan tidak mempermasalahkan apa pun. Mau Miranda bisa masak apa gak. Tapi Mama Mutia selalu saja berkata merendahkan dan itu tentu sangat menyakiti hati Miranda.
"Ya udah kamu gak usah pikirkan kata-kata Mama ya, mending kita masak aja lagi!"
"Iya Om, maaf ya. Aku selalu menyusahkan hidup Om!"
Jonathan menggeleng, lalu menjawabnya setenang mungkin agar Miranda terhibur dan melupakan ucapan Mertuanya itu, "Kata siapa? Mama mutia berkata seperti itu bukan karena gak suka kok sama kamu hanya saja itu di lakukannya karena masih belum terima saja kalau Bara sudah gak ada. Tapi aku yakin kok. Seiring berjalannya waktu. Mama akan mengerti kalau kamu adalah menantu idaman!"
Miranda mencoba menerima itu, Ia juga tidak mau jadi mudah tersinggung karena ucapan Mama Mutia.
Sekitar tiga puluh menit berkutat di dapur, Miranda dan Jonathan menatanya di meja makan. Lalu berlanjut masuk ke kamar guna membersihkan diri lebih dulu.
"Apa besok masih khursus?" Tanya Jonathan disela-sela kesibukannya mengenakan pakaian.
__ADS_1
"Enggak Om, Miranda mau ambil ijazah dulu sebentar!"
"Oh iya, itu artinya Om harus datang kesana untuk mengambil ijazah Bara!"
"Iya Om, tapi Miranda mau minta tolong sama Om buat jemput teman Miranda di rumahnya. Apa Om bisa? Miranda udah janji soalnya?"
Jonathan mengiyakan, toh baginya itu bukanlah hal yang sulit untuk di lakukannya, "Tapi ada syaratnya?" Jonathan ikut mendudukkan diri di tepi ranjang sambil menggenggam tangan Miranda.
"Apa itu?" Miranda jadi penasaran.
"Selama menikah kita baru saja menjalani hubungan sekali. Jadi Om berencana untuk mengajak kamu ikut Om keluar kota lusa. Itung-itung bulan madulah tapi sambil bekerja!"
Miranda mengerutkan dahinya sesaat, Ia masih tak percaya kalau Jonathan akan melakukan hal itu. Sebab dua minggu lamanya Jonathan sempat tak mau mengajak dia bicara karena masih syok dan berduka. Baru tadi Jonathan mau bicara lepas saat Mama Mutia memarahinya.
__ADS_1
"Iya Om, Miranda mau?"