Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 8


__ADS_3

David melangkah kearah kamar nya. Pasti Zoya akan marah jika ia keluar rumah. Apalagi ia keluar sendiri. Semua ini gara gara pria sialan itu. Dia pikir Zoya mainan yang akan dia rebut, mimpi saja.


Clekk...


David tersenyum masam melihat mata istrinya menatap tajam ke arah nya. Berjalan melangkah mendekati Zoya yang duduk di atas ranjang.


"Dari mana,?"


"Hanya keluar sebentar sayang."


Zoya tak lagi bicara, ia menatap David. Pria yang menjadi suaminya sudah hampir tujuh tahun lamanya. Bagaimana mungkin David masih meragukan cinta nya.


"Maaf.."


Merasa bersalah telah pergi meninggalkan rumah tanpa pengawasan. Apalagi Zoya terlihat sangat menghawatirkan dirinya. Ia hanya tak ingin Zoya meninggalkan nya. Ia tak bisa jika wanita cantik di depannya ini berpaling dari nya. Ia pikir cukup Bisma yang menginginkan istrinya, ternyata masih banyak lagi pria yang menginginkan Zoya. Apalagi pria itu jauh lebih tampan dan mapan darinya. Dan lagi dia sangat muda, sepuluh tahun lebih muda dari dirinya.


Tentu saja ada ketakutan tersendiri di hatinya.


" Lain kali jangan pergi tanpa Zoya mas. Aku menghawatirkan mu, kumohon jangan lagi. Aku tak bisa kehilangan mu mas. Jangan ragukan cintaku padamu mas, aku tak ingin kau terluka di luaran sana. Cukup kau terbaring satu tahun, aku ingin kita merawat sama sama anak kita."


David memeluk istrinya erat, ia tak menyangka, Zoya sangat menghawatirkan dirinya. Cemburu buta dan merasa infil dengan keadaannya yang cacat, ia pergi menemui Aaron dengan mengendarai mobilnya sendiri.


"Maaf..."Zoya menangis membayangkan David mengendarai mobil nya sendiri setelah kecelakaan. Apalagi ini adalah yang pertama setelah sembuh dari sakit. Bagaimana mungkin suaminya ini pergi begitu saja.


"Harusnya Zoya yang minta Maaf mas. Zoya tak bilang akan menemui Aaron. Tapi percayalah, Zoya hanya mencintai mas David, jangan ragukan cintaku mas. Jangan seperti ini, aku takut kau terluka."


" Maaf.."


*


Aaron menatap wanita tua yang berdiri di depannya. Ia tau dia lah pemilik Club malam tempatnya duduk. Tak lama kemudian dua wanita cantik dengan tubuh molek dan dada yang hampir tumpah datang menghampirinya.


Bergelayut di lengan kiri dan kanannya.


Aaron tersenyum tipis, rupanya mereka tau jika dirinya pria berkantong tebal.


Maklum saja ia juga baru datang ke kota ini. Lagi lagi membayangkan bagaimana ia bisa sampai di sini karna Zoya. Ia meninggalkan pekerjaan nya di Venesia hanya ingin menemui Zoya. Wanita cantik yang beberapa bulan yang lalu pernah bertemu dengan nya. Pertemuan pertama kalinya dengan wanita berkerudung itulah yang membuat ia datang kemari. Siapa sangka, wanita yang ia pikir bersuami cacat dan hanya terbaring di atas ranjang nyatanya bisa berjalan normal dan datang menemuinya. Apalagi David menantangnya. Jelas saja pria itu sangat percaya diri jika Zoya tak akan berpaling darinya.


"Sialan.." Umpatnya dalam hati.


Wanita tua di depannya ini duduk mengangkat satu kakinya menumpang di kakinya yang lain.


"Mereka barang baru tuan. Tuan adalah pelanggan pertama mereka."


Cih...


Aaron berdecih, dia pikir ia akan tertipu dengan wanita didepan nya. Apalagi saat kedua wanita di sampingnya ini meraba raba tubuh bagian bawahnya yang masih tertutup rapat.

__ADS_1


"Apa aku harus merasa senang, mendapatkan yang baru. Aku bukan pria bodoh seperti yang kau lihat nyonya."


Aaron mencium salah satu dari mereka. Dan wanita tua di depannya hanya mendengus.


"Tapi sepertinya tak masalah, aku akan memilih salah satunya."


"Tidak bisa kah kami berdua tuan." Aaron tertawa terbahak mendengar permohonan mereka.


Ia lalu mencengkram dagu salah satu wanita di sampingnya.


"Bukankah kau yang di bilang masih baru. Wanita murahan seperti kalian memang sedang menunggu pria hidung belang memasuki lubang mu bukan. Berapa mereka membayar mu, hmm."


"Tuan.."


Dia meringis menahan sakit yang luar biasa akibat cengkraman tangan Aaron. Sementara wanita tua di depannya ini menatap wajah Aaron yang tak terlalu jelas, akibat lampu remang remang.


Aaron melepaskan cengkraman pada dagu wanita di depannya. Ia lalu beralih menatap wajah tua di depannya.


Dan melemparkan uang pada wanita tua di depannya ini. Tentu saja wanita itu tersenyum lebar, menyambar uang di atas meja. Lalu memasukkan pada penyangga dua gunung yang menonjol di depan.


Cup.. "Terima kasih, bersenang senang lah tuan."


Ia lalu meninggalkan Aaron dan kedua anak asuhnya. Sedangkan Aaron sendiri bersandar menatap kedua nya. Ia masih bisa menatap wajah cantik wanita yang duduk di sampingnya. Meskipun terhalang lampu yang remang. Ia bisa melihat salah satu dari mereka berdua sepertinya memang baru pertama kalinya.


Entah baru atau hanya sekedar tipuan, ia yakin mereka siap menukar keperawanan mereka dengan uang.


Sshhhh...


Celia wanita pertama yang pernah Aaron cintai dan wanita itu juga yang sudah membuatnya patah hati. Hingga ia melampiaskan dengan bersenang senang. Ia pikir setelah pertemuannya dengan Zoya, wanita itu adalah jodoh nya.


"David sialan.."


Aaron tersentak saat merasakan miliknya di hisap oleh salah satu wanita di depannya. Ia membuka mata lebar lebar dan mendorong wanita yang asih mengemut miliknya.


"Beraninya..."


Wanita itu beringsut, bukankah ini yang harus nya di lakukan. Ia menunduk saat melihat mata Aaron yang menatap tajam padanya.


"Tuan apa anda butuh privasi,?"


"Pergi,"


"Tapi tuan,_"


Prang....


"Pergi dari sini nona, atau aku akan menghabisi mu sekarang. Aku sedang tak ingin, jadi pergi dari sini." Aaron mencengkram erat dagu wanita di sampingnya ini. Lalu melepaskan kasar hingga dia tersungkur ke lantai.

__ADS_1


Sedangkan Aaron tak perduli, ia bangkit membenahi celananya dan pergi meninggalkan Club malam.


"****** sialan...."


Sementara wanita yang tersungkur itu mengejarnya. Ia berlari mengejar Aaron yang sudah pergi menjauh.


"Tuan,..Tuan.. Tunggu,"


Hap...


Ia berhasil mengejarnya dan langsung memeluk tubuh tinggi tegap Aaron. Aaron sendiri mengepalkan tangannya, ia berbalik dan menatap wanita itu tajam.


"Beraninya kau,"


"Maafkan saya tuan, jika saya mengecewakan anda. Anda tak bisa pergi lebih dulu, sebelum kami melayani pelanggan kami."


*


David menatap wajah cantik yang tertidur pulas. Setelah percintaan mereka Zoya langsung tertidur di pelukannya.


"Kau hanya milikku, dan akan selamanya menjadi milik ku."


Ia mengeratkan pelukannya pada istrinya. Wanita cantik yang setia merawat nya saat terbaring sakit. Wanita yang sudah memberinya anak, mana mungkin ia akan mengalah dengan Aaron. Zoya adalah miliknya, tak perduli dengan Aaron yang lebih kaya dan masih muda. Ia yakin Zoya tak akan menghianati dirinya.


*


Zoya tersenyum melihat perkembangan David. Ya saat ini mereka berdua sedang di rumah sakit. Dokter Peter meminta mereka mengunjungi di sini.


"Jangan terlalu jauh berjalan, banyak banyak lah beristirahat. Dia akan terasa linu jika anda terlalu capek. Ingat tuan, anda sudah beberapa kali melakukan operasi."


"Apa aku harus meminum obat lagi.? Kau pikir aku apa, menyuruhku meminum obat sialan mu itu." David membentak pria di depannya ini. Ia tau pria itu menulis apa.


"Mas..." Zoya berseru, ia tak habis pikir dengan suaminya. Sejak tadi David selalu mengumpat dokter di depan mereka.


"Tidak tuan, ini hanya pereda nyeri jika sewaktu-waktu terasa linu kembali."


Zoya mengangguk dan mengambil kertas resep di tangan dokter.


"Terima kasih dokter.."


"Ingat Peter jangan membohongi ku dengan obat sialanmu itu."


David berjalan bersama Zoya setelah mengatakan itu pada Peter. Dokter sialan itu selalu menyuruhnya meminum obat setiap hari. Sudah bosan, selama empat tahun ia tak meninggalkan butir kecil yang selalu menghantuinya.


Zoya sendiri tersenyum tipis, ia tau kenapa suaminya marah. Dia tak bisa meminum obat, ia akan menggerus nya terlebih dahulu sebelum meminumnya.


"Menyebalkan.." Rutuknya kembali.

__ADS_1


.


.


__ADS_2