
Nathan mengemudikan mobilnya meninggalkan mension mewah Aaron. Ia melirik kearah tuannya yang tak berhenti tersenyum.
Aaron memang sudah gila oleh Almira, pria dewasa yang hampir kepala empat itu, terlihat seperti ABG Yanga baru merasakan indahnya jatuh cinta.
Nathan menggelengkan kepalanya, melihat senyum Aaron yang sangat lebar. Ia yakin jika tuan nya ingat ia akan pergi kemana senyum lebar nya akan langsung menghilang dari bibir nya.
"Apa kau hilang ingatan Nat, kenapa ke arah sini, bukankah perusahaan ku ke arah sana."
Tanyanya saat menyadari jika bukan jalan ini yang akan membawanya ke perusahaan milik nya.
Nathan menghembuskan nafasnya perlahan, benarkan jika tuannya tak ingat jika mereka akan pergi ke apartemen Queen.
"Apa tuan lupa, bukankah kita akan pergi ke apartemen Queen. Menemui wanita itu, tuan."
Aaron mendesah kasar, ia baru ingat jika ia tak mengajak istrinya karna ingin menemui Queen, bukan karna Almira yang lelah karna ulahnya semalam.
"Sialan.."
Duk...
Nathan berjengit kaget saat kursi yang di duduki nya di tendang keras oleh Aaron. Tak lama ia menggelengkan kepalanya melihat tingkah tuannya yang sangat menyebalkan menurut nya.
Setengah jam kemudian, Nathan memarkirkan mobilnya di basmen apartemen. Ia turun terlebih dahulu, dan tak menunggu Nathan membukakan pintu untuk nya. Ia melangkah lebar menuju lift di depannya. Dan Nathan sendiri mengikuti langkah tuannya dari belakang.
Di dalam lift, Nathan melirik ke arah tuannya. Ia yakin jika Aaron akan membongkar rahasia Queen selama ini. Tuannya bukanlah pria yang bodoh dan tak tau apa-apa. Ia hanya memanfaatkan Queen sebagai teman ranjang dan melampiaskan nafsu birahinya.
Wanita itu sama sekali tak berarti bagi Aaron.
Aaron melangkah lebar saat pintu lift terbuka, sampai di depan pintu apartemen Queen, Nathan menekan tombol bel.
Clekk..
"Tuan Aaron..."
Aaron tersenyum tipis saat melihat wanita paruh baya yang membukakan pintu untuk nya. Ia berjalan masuk tanpa di persilahkan. Sedangkan Dirga yang berada di ruang tamu kaget saat melihat Aaron tiba tiba saja ada di hadapannya.
"Tuan Aaron, bagaimana anda bisa di sini.?"
Aaron menipiskan bibir nya, ia mendudukkan dirinya di sofa empuk ruang tamu Queen. Sementara Dirga mendudukkan dirinya kembali. Ia menatap wajah tampan Aaron yang jauh lebih muda dan lebih segar tentunya.
"Aaron, sayang kau ada di sini.?"
__ADS_1
Queen tersenyum lebar mendapati kekasih nya berada di ruang tamu milik nya. Tak lama ia mendekati kekasih itu.
Sedangkan Aaron yang melihat Queen berjalan ka arah nya menipiskan bibirnya.
"Maaf nona Queen, anda tak sopan terhadap tamu mu sendiri, menjauh dari ku."
Queen terkesiap mendengar perkataan Aaron padanya. Tak lama ia mundur dan menggelengkan kepalanya, mendengar ucapan pedas Aaron padanya.
Sementara Dirga dan Cristi, menatap nanar pada putrinya yang terlihat sangat kecewa.
"Tuan Aaron, ada apa datang kemari.?"
Tanya Dirga pada pria yang di cintai oleh putri nya.
"Jangan menemui ku lagi, ku harap kau mengerti maksud ku."
Aaron bangkit dari tempat duduknya, tapi Queen lagi lagi membuatnya geram sekaligus.
"Kau sudah mengambil mahkota milik ku Aaron dan kau juga sering meniduri ku setiap kali kita bertemu."
Queen melampiaskan amarahnya pada Aaron. Nafasnya memburu menahan emosi yang memuncak jika Aaron benar benar mengabaikan nya dan tak lagi membutuhkannya.
Aaron mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Queen.
Sedangkan Dirga menatap wajah Aaron yang mengeras. Ia shock dan emosi mendengar jika Aaron dan Queen sering melakukan nya.
Tapi tidak dengan Cristi, wanita paruh baya itu menangis mendengar jika Queen terlihat murahan, melemparkan tubuhnya pada pria yang bukan suaminya. Meski ia sudah mendengar jika Aaron sudah mengambil milik putrinya, tapi tidak dengan berulang kali. Bukankah jika kesalahan harus nya di lakukan sekali saja, dan tidak berulang kali bukan. Dan Queen melakukan nya berulang kali.
"Kau, benar kah apa yang di katakan oleh putri ku.?"
Dirga tak bisa menerima jika Aaron memperlakukan putrinya seperti itu.
"Kau sudah puas dengan putri ku dan kau seenaknya saja membuang putri ku tuan Aaron. Anda sangat memalukan tuan, sebagai seorang pria sejati, seharusnya anda tak berperilaku seperti ini, ini sangat memalukan tuan."
Ucap Dirga berapi-api. Sedangkan Queen, tersenyum penuh kemenangan mendengar jika daddy nya membelanya. Apalagi saat melihat Aaron yang masih membelakanginya. Ia yakin jika Aaron malu dan takut jika reputasi nya akan tercoreng karna ulahnya.
Aaron berbalik dan tersenyum lebar melihat mereka berdua. Sedangkan Queen mengerutkan keningnya saat mendapati wajah Aaron yang sama sekali tak menunjukan bahwa dia bersalah padanya.
"Benarkah tuan jika aku sangat memalukan, bagaimana dengan putri mu sendiri yang melempar tubuhnya padaku dan merayuku setiap kami bertemu tuan. Dan lagi, putri mu lah yang menginginkan tubuh ku. Putri mu lah yang menginginkan aku menjamah tubuh nya. Bukankah begitu Queen."
Queen menatap tak percaya pada Aaron yang tersenyum lebar pada nya.
__ADS_1
"Jika anda mengira akulah yang mengambil keperawanan putri mu, anda salah tuan."
Tubuh Queen menegang mendengar penuturan Aaron. Jantung nya berdetak kencang, mendengar perkataan Aaron, bagaimana jika Aaron mengetahui sesuatu darinya.
"Apa kau mengenal Rodric Queen, aku yakin jika dia menyumbangkan bibit milik nya padamu.?"
Queen menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Aaron. Dari mana Aaron tau tentang pria itu.
"Tidak Aaron, a_ ku."
Dirga maju kedepan dan melayangkan tangan nya pada Queen.
Plakkk....
"Permisi, urusan kita sudah selesai Queen."
Aaron melangkah lebar keluar dari sana, ia sudah mengatakan pada Queen. Ia lebih lega saat ini, ia yakin jika Dirga tak akan membiarkan putri nya bodoh dan melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya sendiri.
Sedangkan Nathan yang berdiri di depan pintu dan melihat tuannya keluar langsung mengikuti nya. Ia tersenyum tipis mendengar jika Aaron masih bersikap sopan tadi. Ia pikir tuannya akan membongkar kasar perlakuan Queen selama ini, yang mengatakan jika tuannya lah yang mengambil harta berharga nya.
"Ke perusahaan, atau pulang tuan.?"
Aaron mendelik mendengar penuturan Nathan saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Maaf tuan,"
Nathan menunduk dan melajukan mobilnya menuju mension mewah tuannya. Ia melirik pada tuannya dan di balas tatapan tajam oleh Aaron.
"Apa kau menertawakan ku, brengsek.?"
Sembur nya pada Nathan, ia tau jika Nathan mengejek nya yang tak bisa lepas dari istrinya.
"Tidak berani tuan."
Huh... Aaron mendengus mendengar jawaban Nathan. Tak lama ia tersenyum lebar, mengingat percintaan panas nya semalam dengan istrinya.
"Benar benar menggemaskan,"
Aaron tak menghilangkan senyum lebarnya, sementara Nathan yang melihat tuannya menggeleng kan kepalanya melihat wajah tuannya yang terlihat aneh.
.
__ADS_1