
Rania mengamuk di mension nya. Sudah seminggu sejak ia di tampar oleh Zoya. Ia mengurung di kamarnya. Ia kecewa dengan sikap David yang membuatnya seperti ini. Selain cacat kaki akibat kecelakaan mengejar David, ia juga cacat sebagai wanita.
"Aku membencimu Dav."
Di depan pintu kamar nya, ibunya mengusap pipinya yang basah. Ia tak menyangka kehidupan nya akan seperti ini. anak satu satunya, cacat seumur hidup. Dan mungkin sebentar lagi mereka akan menjual mension mewah yang ia tinggali saat ini.
" Kenapa kau selalu membuat masalah untuk keluarga kita Rania."
Ia menatap nanar pada anaknya yang duduk bersandar di ranjangnya. Tak ada semangat hidup, bagi Rania. Akibat perselingkuhan nya, hidup nya menderita seumur hidup.
Padahal, pria yang pernah menyentuh dirinya hanya Rangga, dan David. Ya Rangga Yudistira yang menjebol keperawanan nya. Ia tergila gila pada suami Zoya, yang pendiam. Ia tertantang menaklukan Rangga dan akhirnya mereka berdua berakhir di kamar hotel. Mereka sering melakukannya, hampir setiap hari mereka melakukan di kantor. Dan akan menginap di hotel saat ingin bercinta lebih leluasa.
Pria mana yang tak menginginkan Rania. Selain cantik bertubuh proposional, dia juga pintar dan terkenal. Model majalah dewasa ini memang melepas selaput dara nya pada Rangga.
*
"Sayang aku mencintaimu,"
Bibir tebal David mendarat di punggung kecil istrinya. Ia tak menyangka akan di beri kepercayaan menjadi seorang ayah secepat ini.
Zoya menggeliat, merasakan sapuan bibir panas suaminya di punggung nya. Ia berbalik dan menatap wajah David.
" Mas belum tidur..?"
" Gak bisa tidur sayang.." Zoya mengerutkan keningnya mendengar penuturan David.
"Apa mas sakit..?" Ia menempelkan telapak tangannya pada kening suaminya. Ia tidak merasakan apa-apa di sana.
Tapi David mengambil tangan di kening dan membawanya ke bawah sana.
"Sayang, Plis."
Zoya menggelengkan kepalanya, ia pikir suaminya kenapa. Ternyata dari tadi dia tak bisa tidur lantaran menginginkan dirinya.
"Tapi mas harus hati-hati, dia masih terlalu kecil."
__ADS_1
Tentu saja David akan berhati-hati, sudah tiga hari semenjak dari rumah sakit. David belum pernah menyentuh Zoya. Alasan nya, ia terlalu bahagia dan tak ingin menyakiti Zoya. Apalagi sampai menyakiti buah hatinya, seperti yang pernah ia lakukan. Menyentuh Zoya hingga mereka kehilangan buah cintanya.
Cup... Zoya mengalungkan tangannya pada leher David. Ya semenjak ia di nyatakan hamil oleh dokter. Suaminya tak pernah meminta haknya. Mungkin karna dia takut, padahal mereka akan baik baik saja jika melakukan nya dengan lembut.
"Kau tau, aku mencintai mu mas, dan mereka ingin di jenguk Daddy nya."
David tersenyum lebar dan tanpa menunggu lama, ia menyatukan bibir mereka. Tak hanya itu tangan besar meraba raba masuk ke dalam gaun tipis istrinya.
Ia sungguh merindukan hal seperti ini dengan istrinya. Padahal baru tiga hari ia tak menyatu dengan istrinya.
Uh....
Zoya melenguh saat David menyesap leher jenjangnya. Bibirnya membuat tanda merah di seluruh tubuh putih dan mulus Zoya.
Tangannya meloloskan baju Zoya dan membuangnya asal. Tak lama kemudian ia juga melepaskan pakaian nya sendiri. Lalu dengan hati hati ia menindih tubuh istrinya yang sudah polos.
Tangan besarnya menyentuh perut yang jika berbaring akan terlihat menonjol. Ya David baru melihat nya sekarang.
Cup... Bibir nya mendarat di perut Zoya dan turun ke bawah. Tangannya membelai gundukan sempit yang tersembunyi di tengah pahanya.
Tak lama kemudian ia mendaratkan juga bibirnya di sana.
Zoya menggelinjang, saat lidah panas David menari nari di lipatan miliknya. Entah efek dari kehamilan nya atau apa, Zoya justru melebarkan kedua pahanya.
Tangannya meremas kain sprei bermotif bunga. Ia di buat gila oleh suaminya. Rasa geli dan nikmat menjadi satu. Apalagi bibir itu akan menyesap kuat di bawah sana. Tentu saja hal itu membuat Zoya semakin melambung tinggi. Dan tak lama kemudian, tubuhnya bergetar dan ia menjerit.
David tersenyum puas, dan merangkak naik mendaratkan bibirnya di seluruh tubuh polos istrinya. Dan berakhir di bibir mungil Zoya.
"Sayang aku akan mulai..."
Ia berbisik di telinga istrinya, tak lama kemudian ia mencoba menyatukan di bawah sana dengan hati hati. Meski ini bukan gaya nya, tapi ia akan sabar, dan bermain pelan. Ia tak ingin menyakiti bayi nya kembali.
"Aku mencintaimu suamiku."
David tersenyum, entah sudah berapa kali Zoya mengatakan padanya, jika dia mencintai nya. Bukan hanya Zoya yang mencintai nya, ia lebih mencintai wanita yang di bawah kungkungan nya saat ini.
__ADS_1
Ia menggerakkan pinggulnya naik turun sangat pelan. Tangan nya mengelus perut istrinya yang bergerak. Dan buah yang menggantung di depan nya dan itu semakin bertambah besar.
Setengah jam kemudian, ia mempercepat gerakannya sedikit. Tak lama kemudian ia mengerang bersamaan dengan jeritan Zoya yang memenuhi kamar luas milik mereka. Tubuh inti bawahnya berkedut hebat.
Ahhh....
Nafas keduanya memburu, menikmati sisa sisa pergumulan mereka di atas ranjang. Ia juga masih di atas tubuh Zoya, dan tersenyum sendiri. Lalu melepaskan penyatuan nya pada Zoya. Sedangkan Zoya, matanya langsung terpejam terbang ke alam mimpi secepat kilat.
Dert....Dert...
David mengeryitkan kedua alisnya mendengar bunyi ponsel nya bergetar.
"Ya..."
David mengeraskan rahangnya mendengar suara di sebrang telpon. Tak lama kemudian ia menutup telponnya dan berpakaian.
Ia mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju salah satu rumah sakit terbesar di kota A.
Brakk... Pintu mobil di tutup kencang oleh sang pemilik. David melangkah lebar menuju ruang di mana pria tua itu terbaring.
"Dav..."
Disinilah David, di depan pria paruh baya yang sangat menyedihkan.
Tak ada kata yang keluar dari bibir, saat Dewa memanggil namanya. Matanya masih melihat tubuh menyedihkan Dewa. Untuk apa pria brengsek ini pulang ke Indonesia.
" Aku pikir kau sudah di makan belatung di sana Dewa. Seperti Luna yang sudah di makan belatung, ku pikir kau menyusulnya. Ternyata Tuhan masih sayang padamu, membiarkan mu bertaubat, itu juga kalau kau sadar diri dan ingin bertobat."
Dewa tak kaget, jika Luna meninggal dunia. Ia juga seperti mayat hidup tak bisa bergerak. Tapi sakit nya luar biasa, seolah memang menggerogoti tubuhnya saat ini.
"Kenapa, kau ingat mempunyai anak Dewa, saat kau sudah sekarat kau baru mengingatnya. Apa kau sudah puas menjajakan tubuhmu ke sembarang wanita. Ya enakmu yang dulu berganti dengan yang sekarang. Kau pikir aku akan berbelas kasih. Aku terlalu senang melihat mu sekarat seperti ini."
David mendudukkan tubuhnya di kursi yang tersedia. Ia menatap tubuh menyedihkan Dewa. Kulit kering, wajah keriput nya hanya terlihat matanya saja. Semuanya seperti mengelupas, dan berganti kulit.
"Dav, aku ingin bertemu ibumu,"
__ADS_1
.
.