Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 15


__ADS_3

Queen menatap Mension mewah milik Aaron. Ia datang mencari keberadaan kekasihnya. Sejak kemarin malam ia menelpon kekasihnya tapi Aaron sama sekali tak menjawabnya. Ini tak bisa di biarkan, Aaron tak bisa mengacuhkan dirinya. Ia sangat mencintai pria itu dan lagi ia sudah memberikan semua untuk nya.


Setelah penjaga membuka gerbang. Queen menginjak pedal gasnya perlahan. Masuk ke halaman mension kekasihnya. Berharap jika ia datang Aaron tak mengacuhkannya.


Queen turun dari mobil dan masuk ke dalam mension. Sedikit berlari sambil membawa tas branded di tangan nya.


Tap...Tap...


"Pelayan... Pelayan..."


Seorang pelayan berlari menghampirinya Tak ada yang berani menatap Queen. Mereka tau jika Queen adalah kekasih tuannya. Ya walau hanya beberapa kali wanita di depannya ini datang kemari, tapi Queen sudah mengatakan jika ia adalah calon nyonya mension Kenan Galaxy. Tentu saja semua pelayan mematuhi perintah Queen dan menghormati nya.


Aaron sendiri tak perduli dengan Queen mau berkata apa dengan pelayan mension.


"Di mana kekasih ku.?"


Pelayan itu mengangkat wajahnya bingung, mereka memang tak ada yang tau di mana tuannya berada.


"Apa kau tuli,"


Bentaknya pada pelayan. Sedangkan pelayan itu menunduk, ia sama sekali tak tau di mana keberadaan tuannya. Queen mendengus berjalan menaiki anak tangga. Pelayan itu mengikuti langkah calon nyonya di mension ini. Lagi pula ia tak ingin wanita yang berjalan di depannya ini berteriak kembali. Sampai di sana, Queen mengetuk pintu kamar Aaron berkali kali.


"Sayang... Sayang..."


" Nona Seperti nya tuan sejak dua hari belum pulang. Kami tak melihat kepulangan tuan Aaron."


Queen menatap pelayan yang menunduk, ia mengumpat nya dan melotot tajam. Jika dia tau Aaron tak ada, kenapa dari tadi dia tak mengatakan nya. Ingin rasanya ia menendang wanita paruh baya ini. Akan ia pastikan jika ia sudah menjadi nyonya Kenan ia akan menendang pelayan yang menurutnya tak berguna itu.


Queen berbalik dan pergi meninggalkan mension Aaron. Sejak kemarin malam ia menelpon kekasihnya, tapi Aaron sama sekali tak menjawab telponya. Kemana dia sebenarnya, dan apa yang Aaron lakukan sehingga dia tak menjawab telponya. Apa Aaron sedang bercinta dengan wanita lain di luar sana.


Membayangkan itu tangan Queen terkepal erat. Bagaimana jika Aaron sedang bergelut di atas ranjang dengan wanita penggoda yang ingin merebut Aaron darinya.


"Tak ada yang bisa merebut Aaron dariku."


Queen mengusap pipinya kasar, saat pulang ke Singapura ayah nya meminta nya menikah. Tentu saja semua orang tua menginginkan anaknya menikah. Apalagi dia sudah dua puluh sembilan tahun lebih.


Usia yang cukup matang untuk segera menikah. Tapi Aaron, dia tak pernah membahas tentang pernikahan mereka. Dia dan dirinya hanya bercinta setiap kali bertemu. Dan itu terjadi sejak pertama kali ia meminta Aaron agar menjadi kekasihnya.


"Kau tak bisa memanfaatkan aku Aaron."


*


Aaron mengumpat Nathan, ia mengusap keningnya yang sedikit benjol. Tak lama kemudian pintu hotel terbuka dan menampilkan wajah Nathan yang menyebalkan.

__ADS_1


"Tuan ini pakaian anda."


Aaron menatap Nathan dengan sorot matanya yang tajam. Nathan sendiri mendesah lirih. Dia tau apa yang di tunggu tuannya.


"Dia masih sekolah tuan, minggu ini putri nona Zoya baru saja menyelesaikan ujian terakhir nya tuan."


Aaron tak menyahut, pikiran nya melayang memikirkan dirinya dan Almira. Gadis belia itu benar benar masih sekolah, sedangkan dia. Tak lama ia mengusap wajahnya kasar. Usia yang cukup terbilang sangat gila, jika ia menginginkan gadis belia itu. Putri Zoya, bagaimana ia akan mendapatkan nya. Dan lagi, apa gadis belia itu menerimanya sebagai suami nanti nya.


Brakkk..


Lagi lagi Aaron menendang meja hotel. Nafasnya memburu membayangkan dirinya yang sudah tua. Apa Almira akan mau dengan nya yang tua.


Tak lama kemudian ia mengambil amplop dari tangan Nathan. Di membukanya dengan tergesa gesa.


Deg...


Bibirnya terkekeh kecil saat melihat foto di tangan nya. Seorang gadis belia dan kedua temannya tersenyum lebar dengan seragam sekolah nya. Itu artinya gadis yang hampir mereka tabrak pagi tadi adalah putri Zoya, Almira. Tentu saja Aaron bisa mengenali wajah Almira. Dengan melihat mata bundar nya ia tak mungkin salah menebak yang mana putri Zoya.


Aaron terduduk di sofa hotel, ia menatap kembali wajah imut dan sangat kecil. Memang terlihat sekali mata bulatnya yang besar, dia memang seperti boneka yang ia sebut mainan anak-anak. Pantas saja pagi tadi jantung nya seperti mau copot, saat melihat matanya. Ternyata gadis itulah penyebabnya.


Gadis belia ini lah yang selalu ada dalam pikirannya. Pertemuan nya yang tak sengaja tadi, apa ini yang di maksud jodoh. Tak lama kemudian ia mengumpat gadis itu. Bagaimana dia ceroboh sekali, bukannya tadi dia hampir tertabrak mobil olehnya. Kemudian ia bangkit dan berjalan keluar hotel.


Ia tak perduli dengan semua orang jika mereka tau ia menguntit gadis belia yang masih labil.


*


"Kak, "


Almira berseru lagi, ia sama sekali tak tau kenapa ada tempat seperti ini. Dia mengencangkan pegangan tangan nya pada kemeja Bastian. Takut saat Bastian mengajaknya masuk ke dalam lagi. Di tambah lagi, suara musik yang memekakkan telinga nya membuatnya merinding.


"Al tunggu di sini yah, jangan kemana mana. Aku akan masuk kesana cari kakak."


Almira menggigit bibir bawahnya kemudian ia mengangguk. Ini pertama kali nya Almira keluar dari rumah saat malam. Itupun Bastian sendiri yang meminta izin pada David dan Zoya. Sebelum nya mereka akan pergi ke rumah ketua OSIS. Mereka akan berdiskusi tentang perpisahan sekolah nanti. Padahal mereka tak hanya berdua tadi, ada Qinan bersama mereka. Tapi entah kenapa Qinan pulang terlebih dahulu. Dan Bastian di telpon oleh kakak nya agar datang kesini.


Ya Bastian tak mungkin meninggalkan Almira sendiri di mobil. Itu sebabnya ia mengajak Almira bersamanya.


"Hay... Sendirian?"


Almira berjengit kaget, ia menatap pemuda yang datang menghampirinya.


"Tunggu teman kak."


Pria itu mengangguk dan tersenyum miring. Gadis di depannya ini sangat cantik apalagi terlihat matanya bundarnya yang mencolok sangat imut. Meski tak terlalu jelas ia melihat nya, tapi ia yakin gadis ini sangat cantik.

__ADS_1


Arkkkkk..


Almira kaget dan berteriak keras saat pria di depannya ini tiba-tiba saja menarik tangan nya dan memangkunya.


Almira berontak dia memukul dada pria yang memangkunya.


"Kak lepaskan Al," Keringat dingin sudah membasahi kening Almira. Tak lama kemudian ia tersentak kembali saat seseorang menarik tangan nya dan tangannya yang lain meninju wajah pria yang memangkunya.


Bug....


"Oh ****..."


Pria itu meludah, merasakan panas di mulut dan gigi yang bergoyang, sepertinya akan lepas. Ia menatap pria dewasa yang menatapnya tajam. Tubuhnya bergetar, ia yakin dia ayah dari gadis yang di pangkuannya.


"Maafkan saya Om." Almira melirik pada pria yang berlari dan menghilang di kerumunan banyak orang. Ia mendongak menatap pria yang menolongnya.


Deg...


Lagi lagi Aaron mengumpat, melihat pemilik mata besar dan bundar menatapnya. Apa jantung nya sakit saat melihat mata besarnya.


Tak lama kemudian ia mengeratkan gigi nya emosi. Mengingat kembali, untuk apa Almira datang ke tempat ini. Dan dengan siapa gadis ini datang. Ia menarik tangan Almira membawanya keluar. Sedangkan Almira sendiri, masih diam saja. Ia masih memikirkan pria dewasa di depannya ini. Sepertinya ia pernah melihatnya. Tak lama kemudian ia menjerit takut saat sadar pria inilah yang hampir saja menabrak nya pagi tadi.


Arkkk.. Hmmmm...


Aaron membungkam bibir Almira dengan tangan besarnya, saat ia melihat gadis ini berteriak. Dengan sigap tangan nya membungkamnya.


"Jangan berteriak, jika kau tak ingin pria itu mencari mu kembali." Aaron berbisik.


Almira mengangguk mengiyakan, ia beringsut saat tangan besar itu menjauh dari bibirnya. Tak hanya bibir, bahkan tangan besar itu bisa saja menutupi seluruh wajahnya.


Aaron menghembuskan nafasnya perlahan, melihat Almira yang menunduk saat melihat wajahnya di lampu yang terang.


"Apa aku terlihat seperti penjahat.?" Sebisa mungkin ia bertanya halus, ia tak ingin gadis incaran nya ini lebih takut lagi dengan suara Bas nya.


Almira mengangkat wajahnya, menatap wajah pria dewasa yang menolongnya. Sedangkan Aaron sendiri tak mengalihkan pandangannya dari wajah Almira yang membuatnya menjadi gila sampai saat ini.


"Om seperti monster.."


Hah...


.


.

__ADS_1


__ADS_2