
Zoya menatap kosong jauh ke depan. Langkah kakinya seperti mengambang, menuju kamar yang David katakan kamar mereka. Pernikahan mendadak yang sama sekali tak ada di benaknya.
Jauh sebelum ia meninggal kan kota A. Ia hanya ingin, hidup damai dengan putrinya. Tak ada yang ia inginkan. Hanya kebagian putri nya. Apa pria itu tak ada maksud lain, yang tiba-tiba saja datang menikahinya.
Clek...
Zoya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan putrinya. Tak ada, dimana?
"Dia ada di sebelah kamar kita,"
"Apa tujuan anda tuan?"
"Mengurung mu, di sisiku." Zoya menatap tak percaya pada David.
"Tidur lah hari sudah larut. Maaf jika aku memaksamu. Karna tak ada lagi kamar yang lain, masih di renovasi. Tidur lah, aku tak akan meminta hak ku jika kau tak mengizinkan."
Zoya gelisah di kasurnya, matanya tak ingin terpejam barang sedikitpun. Ia tak ingin David mengetahui trauma berat nya.
Sedangkan David yang melihat Zoya gelisah, menatap nanar pada istrinya. Ia yakin Zoya takut dengan dirinya. Tak mudah bagi Zoya melupakan perlakuannya terhadap nya.
David berjalan mendekati Zoya. Ia membaringkan tubuhnya di samping Zoya. Sedangkan Zoya yang menyadari bahwa David di sampingnya. Segera bangkit dan tangannya meremas gaun tidur panjangnya.
"Zoy.."
"Tuan mau apa?"
"Aku tidak akan menyentuhmu, jika kau tak mengijinkan aku. Aku hanya ingin tidur, Zoy. Sofanya kekecilan, tubuhku bisa pegal."
"Maaf biar saya yang tidur di sofa tuan.."
"Zoy.."
Ragu ragu Zoya duduk kembali di kasurnya. Dadanya berdegup kencang. Tak lama ia membaringkan tubuhnya di samping David. Mencoba memejamkan matanya. Hingga kantuk benar benar menyerangnya. Entah takut atau apa. Zoya tidur untuk pertama kalinya setelah sekian tahun. Saat almarhum Rangga masih hidup saja, Zoya tak pernah tidur berdua seperti ini. Rangga selalu menghindarinya.
Lewat tengah malam David mengerutkan keningnya, mendapati Zoya gelisah dalam tidurnya. Ia berbalik dan betapa shock melihat Zoya yang menggigil ketakutan. David mengguncang tubuh Zoya.
"Zoya, bangun sayang. Ada apa?"
Zoya membuka matanya dan berlari ke arah kamar mandi, memuntahkan isi dalam perutnya.
__ADS_1
David mengikuti langkah Zoya, ia juga mendobrak pintu kamar mandi. Mematung melihat Zoya yang memuntahkan isi perutnya.
"Maaf kan saya tuan."
Zoya memandang wajah David berkaca kaca. Inilah trauma berat yang ia alami semenjak penghianatan sang suami.
Vidio yang pernah ia lihat dan hinaan Rangga serta David tertampung di pikirannya. Rasa rendah sebagai seorang istri menghantui nya.
David merengkuh tubuh Zoya, ia menangis melihat keadaan Zoya yang tersiksa. Yang di pikiran David Zoya hamil bersama pria lain.
"Apa kau hamil Zoy, maafkan aku yang merebutmu dari pria itu. Aku akan mengatakan padanya jika kau hamil anaknya. Maafkan aku yang terlalu egois."
Zoya menggeleng kan kepalanya dan segukan di pelukan David. Tangan nya mengulur mendekap tubuh tinggi David. Biarkan saja untuk kali ini, ia mencari sandaran. Ia ingin hidup normal seperti yang lainnya. Ia tersiksa setiap malam harus seperti ini.
Begitupun dengan David, ia meneteskan air matanya di pelukan Zoya. Apa dia sama sekali tak ada kesempatan untuk membahagiakan Zoya.
"Tuan maafkan saya, bantu saya keluar dari siksaan ini. Ku mohon, saya siap menjadi istri yang baik untuk anda. Tapi lepaskan saya dari mimpi buruk ini tuan.?"
David menegang di tempat nya berdiri. Apa maksud Zoya? Ia melepaskan pelukannya. Menatap dalam mata Zoya.
"Apa maksudnya Zoya?"
"Zoya.."
David menekan kata katanya, melihat Zoya yang hanya diam saja membuat nya tak bisa mengontrol dirinya.
" Saya bukanlah wanita baik. Saya bukan wanita yang bisa menyenangkan suami. Saya juga tak bisa merias diri. Tubuh saya sudah mengendur. Saya juga tak bisa memuaskan suami di atas ranjang. Dan Vidio itu_."
Ia merengkuh tubuh bergetar itu ke pelukannya. Ia menyesal telah melukai Zoya sedemikian rupa.
"Maaf.."
Hanya satu kata yang keluar dari bibir David. Membuat Zoya sedikit tenang. David membawa Zoya keluar dari kamar mandi. Air matanya kembali mengalir. Ia sangat menyesal telah menyakiti Zoya. .
Ya David memang sangat mencintai Zoya. Itu sebabnya melihat keadaan Zoya yang sesungguhnya meremas hati yang paling dalam. Inilah dampak dari perlakuannya terhadap Zoya dulu.
Ia membaringkan Zoya perlahan, menyelimuti seluruh tubuh istrinya. Tangan nya meraih ponsel dan menghubungi seseorang.
Sedangkan Zoya kembali meringkuk di kasurnya. Tubuh yang menggigil masih di rasakan David yang duduk di sampingnya. Hingga menjelang subuh Zoya bangun. Ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya.
__ADS_1
Ia masuk kedalam kamar mandi, menangis sejadi jadinya di sana. Menumpahkan segala sesak yang menghimpitnya. Kenapa ia tak bisa lepas dari bayang-bayang video itu.
Zoya lalu menggelar sajadah nya, menunaikan kewajiban sebagai orang muslim. Tak ada yang Zoya inginkan, ia hanya ingin membahagiakan putrinya.
Sementara David masih bergelung di atas kasur. David memang seorang muslim, tapi ia sama sekali tak menunaikan ibadah nya. Itu sebabnya ia selalu selisih dengan ibunya.
Zoya sudah di sibukkan dengan aktivitas paginya. Sepuluh menit ia berputar putar mencari keberadaan dapurnya. Ternyata ada di sebelah ruang makan. Memang Zoya tak tau, ia pikir itu bukanlah dapur. Karna di dalamnya semua yang tersimpan bukankah barang murah.
Hingga Lala mengagetkannya, mengatakan memang ini adalah dapur nya.
Dan satu jam lamanya ia berkutat di sana, lalu kembali lagi ke kamar. Dua orang yang membantunya memasak sedang menata di meja makan. Ia tak tau siapa mereka, sungguh ia merasa asing di sini.
Clek...
Zoya mematung melihat David yang hanya memakai celana bahan miliknya.
"Zoy.."
Zoya menundukkan wajahnya. Ia tak berani menatap tubuh telanjang dada David. Ini baru pertama kalinya, ia tak sengaja melihat tubuh bagian atas seseorang selain almarhum suaminya Rangga.
"Pakaikan kemejaku Zoy.."
"Maaf tuan aku akan ke kamar Al, dia pasti mencari ku."
Miris rasanya David melihat wajah ketakutan Zoya.
"Aku tak akan membiarkan kau pergi dari sini. Sebelum kau menunaikan tugasmu sebagai istri."
David menarik tangan Zoya, dan memberikan kemeja putih bersih padanya. Dengan tangan gemetar Zoya mengambil kemeja di tangan David ,lalu memakainya.
"Mandilah aku menunggumu,"
Cup...
Setelah mengecup kening Zoya, ia melenggang pergi meninggalkan Zoya yang mematung. Ia berbelok ke kamar putrinya, di sana sudah ada bibi Lili yang baru saja mengikat rambut Almira.
"Addy.."
David tersenyum membopong tubuh putrinya keluar. Bibi Lili hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Memang mungkin tak mudah bagi David. Pria yang kaku dan arogan itu beradaptasi dengan mereka. Mungkin ia beralasan menikahi Zoya hanya karna rasa bersalahnya. Sementara cinta,ia sendiri tak tau. Mana mungkin pria seperti David mencintai Zoya. Wanita janda punya anak dan miskin.
__ADS_1