
Nancy tersenyum kecut, mendengar David yang memanggil Zoya dengan sebutan sayang. Mau tidak mau ia harus menunjukan wajah ramahnya.
Sebenarnya Nancy ingin sekali bertanya, sejak kapan David menikah dengan Zoya. Apa memang pria itu sudah mempunyai istri dan anak. Lalu berpisah kemudian kembali lagi. Seingat nya, David saat dia datang kesini semua orang mengatakan jika dia masih lajang. Dan tiga tahun yang lalu ia membatalkan pernikahan nya dengan Rania Wilson.
Apa David membatalkan pernikahan nya karena wanita itu? Yang tiba tiba saja datang mengakui jika dirinya hamil dan sudah punya anak.
Ah mungkin saja David sudah di jebak oleh Zoya. Ya perempuan itu memang terlihat lugu itu hanya agar David percaya padanya. Padahal yang sebenarnya David mungkin saja di jebak oleh perempuan itu.
"Nancy, apa yang kau pikirkan. Ambilkan aku makan siang dan juga istri ku?"
"Ah ya tuan"
Zoya mengedarkan pandangannya melihat ruangan David. Sangat besar dan luas. Tak lama kemudian Zoya hampir saja berteriak keras melihat David yang sudah ada di depannya. Kenapa pria itu suka sekali mengagetkan nya.
David menatap wajah ayu Zoya, wajah cantik itu yang selalu menghantuinya. Melihat David memandanginya, ia jadi salah tingkah.
"Maaf semalam aku tak pulang ke rumah dan mengabaikan mu."
Zoya mendongak, melihat wajah David. Bukankah pria itu sama sekali tak pernah menginginkannya. Untuk apa dia meminta maaf. David sangat membenci nya bukan. Pernikahan mereka itu adalah sebuah kesalahan. Dan Zoya memakluminya, ia juga tak berharap banyak dengan pernikahannya bersama David.
Melihat wajah Zoya David menundukkan wajahnya. Sementara Zoya yang melihat David, menunduk, dadanya berdegup kencang. Untuk apa David menunduk apa pria ini ingin menciumnya.
Clekkk...
David langsung menegakkan tubuhnya mendengar pintu di buka. Ia lalu berjalan mendudukkan tubuhnya di atas sofa.
"Ini tuan makan siang nya."
"Sayang kemarilah..."
Zoya melirik wanita cantik yang masih berdiri di samping suaminya. Tak lama ia mengangguk dan berjalan mendekati suaminya. Mendudukkan tubuhnya di samping David. Sementara David dengan cekatan mengambil piring lalu mengisinya.
"Pergilah Nancy.."
Mendengar David mengusir nya seketika tangan nya terkepal. Ia tak suka jika David mengacuhkannya. Wanita itu mungkin benar istrinya. Tapi jelas saja David mungkin belum tau jika wanita itu hanya memanfaatkan nya, menjebaknya.
__ADS_1
"Nona Nancy, apa anda tuli"
Deg....
Nancy terkesiap mendengar bentakan David. Apalagi Zoya, dia berjengit kaget. Seumur umur Zoya baru mendengar nada bentakan keras, meski itu bukan di tujukan untuk nya. Tapi dia yang merasa sakit dan rasanya ingin menangis.
"Iya maafkan saya tuan"
Nancy buru buru pergi meninggalkan ruangan CEO. Dari luar ia mengumpat Zoya. Gara gara perempuan itu David kasar padanya. Padahal sebelumnya ia tak pernah sekasar ini.
David mengambil sendok makan dan menyuapkan pada Zoya. Sedangkan Zoya masih mematung, ia masih shock mendengar David berkata kasar. Apalagi sekarang David adalah suaminya. Apa dia juga akan memperlakukannya seperti itu?.
"Zoy.."
"Ah ya tuan.."
David melirik kearah sendok di tangannya berharap Zoya mau membuka mulutnya.
" Saya bisa sendiri tuan.."
"Buka mulutmu.."
Ragu Zoya membuka mulutnya dan makan dari sendok David. David tersenyum tipis ia lalu menyuapkan makanan dari sendok yang sama juga. Zoya yang melihat itu membuka mulutnya.
"Tuan anda makan dari sendok yang sama. Sebaiknya anda mengganti nya lebih dulu."
"Kenapa kau jijik?" Zoya menggeleng.
"Bukan seperti itu, tapi tak pantas rasanya kita makan di sendok yang sama."
"Lalu apa lebih pantas makan di sendok yang sama dengan orang lain. Jika dengan suaminya sendiri tak pantas."
Zoya menunduk, kenapa David selalu mengingatkan saat dia bersalah. Lagi pula dia lupa. Dan saat itu David bukan siapa siapa baginya.
Melihat Zoya yang diam saja David mendengus. Ia memakan tanpa melirik ke arah Zoya. Sementara Zoya menautkan kedua alisnya melihat cara makan David. Ada apa?
__ADS_1
Selesai makan Zoya membereskan piringnya. Ia hendak berdiri membawa piring kotor itu. Tapi David mencegah nya.
"Diam disini,"
"Tapi ini piring nya."
"Ada yang mengambil nya nanti"
"Biar a_"
"Zoya.."
Zoya langsung menunduk takut dengan tatapan mata tajam David. Ia lalu mendudukkan dirinya lagi.
David menghembuskan nafasnya perlahan. Istrinya itu ingin sekali di kasari. Padahal David tak suka jika Zoya bekerja. Cukup ia menemaninya di sini. Ya David memang menginginkan Zoya berada di samping nya. Itu sebabnya ia harus membuat Zoya ikut ke kantor ini. Yang memang pada dasarnya David memang memberikan hotel ini untuk nya.
Saat ijab Kabul kemarin, memang inilah mas kawinnya. Tapi sepertinya Zoya tak menyadari atau tak fokus. Jika David menyebut Gren hotel sebagai mas kawin nya. Zoya terlalu shock sehingga tak mendengar ucapannya.
Satu jam kemudian Zoya di buat gelisah di tempatnya duduk. Dari tadi tak ada yang ia kerjakan. Hanya sesekali ia memainkan ponselnya. Dan membaca buku yang tersedia dimeja. Bosan, tentu saja ia bosan. Biasanya ia akan beraktivitas membuat kue dan pergi mengantar kan nya.
Setengah jam kemudian David berdiri dan menggandeng tangan Zoya. Sementara Zoya hanya menunduk. Ia tak mau lagi David membentaknya apalagi saat ini mereka ada di kantor. Akan malu jika David membentaknya. Seperti yang pernah ia alami. Dengan teganya David membentak bahkan mencaci maki, menghina, merendahkannya. Itu semua yang membuat Zoya membatasi diri dari David. Apalagi saat ini mereka berdua adalah suami istri.
Mental Zoya tak setinggi wanita lainnya. Dia sangat rapuh. Itu sebabnya saat David selalu merundung nya. Zoya bertekad pergi dari kota A ke kota B. Semua itu Zoya lakukan karena ingin menghindar dari David. Zoya ingin kehidupan yang tenang. Sudah sakit dirinya di hianati oleh almarhum suaminya Rangga. Dan David menambah beban pikiran nya.
Tapi entah apa rencana Tuhan padanya. Saat ini justru David lah yang menjadi suaminya.
Nancy menatap tak suka pada Zoya yang di gandeng oleh David. Wanita itu sama sekali tak pantas menjadi istri seorang David Aderson.
Zoya mengerutkan keningnya melihat rumah mewah berlantai dua. Rumah ini sangat mencolok di antara dengan yang lainnya. Ada para pekerja yang berlalu lalang di dalam dan di luar. Sepertinya rumah ini sedang di renovasi oleh pemilik nya. Untuk apa David membawa nya kemari. Dan rumah siapa ini?
David menggandeng tangan kecil istrinya. Mengajaknya masuk ke dalam. Begitu masuk kedalam Zoya di buat menganga lebar. Rumah ini sangat mewah dalam nya juga terlihat sangat wah.
"Bagaimana dengan rumah nya."
Lamunan Zoya buyar begitu David mengagetkan nya.
__ADS_1
"Bagus..."
Hanya itu...Apa Zoya tak suka dengan rumahnya. Begitu pemikiran David..