Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 92


__ADS_3

Sampai di mension mewah nya Aaron menurunkan Almira di ranjang milik nya.


"Sayang, apa kau membutuhkan sesuatu,?"


"Al mau pipis,"


Aaron tersenyum dan kembali lagi menggendong Almira ke dalam kamar mandi. Mendudukan nya di kloset dan membuka celananya.


"By, keluar ih, gak mau keluar pipis nya kalau masih di situ, malu."


Aaron terkekeh mendengar nya. Tak lama kemudian ia berbalik membelakangi Almira.


"Udah belum sayang,"


Almira mencebikkan bibirnya, saat Aaron masih tak berpindah hanya berbalik saja. Tak lama kemudian Aaron mendengar suara yang mengalir di telinga nya.


"Sayang udah kebelet ya."


"By..."


Almira merengek mendengar suaminya menertawakan nya.


"Sini Om bersihkan sayang,?"


"Al bisa by,"


Aaron tak menggubris ucapan Almira, ia membersihkan milik istrinya dan menggendong nya lagi. Keluar dari kamar mandi ia mendapati David di kamar nya.


"Kau tak sopan datang ke kamar ku papa mertua."


"Putri mu ingin ibunya."


David keluar lagi dari kamar Aaron, ia menggelengkan kepalanya saat melihat banyak nya foto Aaron dan Almira di kamar mereka.


Tak lama kemudian Aaron membawa istrinya ke kamar sebelah, di mana kamar putrinya berada.


"Sayang dia lucu, sangat imut Al,"


Bisik nya menurunkan Almira perlahan di ranjang.


Aaron juga membantu Almira membuka kancing bajunya, dan mengeluarkan sumber nutrisi untuk buah hati nya.


"Tahan Aaron,"


Aaron bergumam dalam hati saat tangan nya tak sengaja menyentuh buah kenyal milik Almira. Apalagi saat matanya melihat buah yang semakin besar keluar dari persembunyiannya. Tubuh bagian bawahnya menegang dan berkedut.


Selama ini memang Aaron tak pernah lagi melihat dan memegang buah yang menjadi kesukaan nya.


"Sayang," Ucap Aaron sembari mengangkat tangan nya.


"Aaron kau belum memberikan nama untuk putri kalian.?"


Zoya mengagetkan Aaron dan Aaron langsung menarik tangan nya kembali., Ia lupa jika di samping nya ada Zoya, hampir saja tangan nya mendarat saat buah kenyal itu keluar dari persembunyiannya.


"Apa," Tanya nya gugup.


"Kau belum memberikan nama untuk putri mu.?"


Mata tajam Aaron melihat bagaimana Zoya memberikan putrinya di tangan Almira. Menatap wajah merah dan mungil yang menghisap ****** milik nya. Dia merebut nya....

__ADS_1


"Aaron..,"


Hah....


Aaron berjangit lagi, mendengar suara Zoya. Tak lama Aaron mengalihkan pandangannya pada putrinya.


"Aku akan memberikan nama Arora Jennifer, seperti nya bagus. Aku dan Almira juga huruf depan nya A jadi aku akan memberikan nama itu untuk nya."


Zoya tersenyum, nama yang sangat cantik pikir nya.


"Bagaimana sayang,?"


"Cantik by, pasti nanti kaya Al, cantik nya ya bunda.?"


Aaron tersenyum, istrinya memang benar benar masih kecil.


*


Aaron celingukan mencari keberadaan Almira, bangun tidur ia tak mendapati istrinya di ranjang miliknya.


"Al, sayang..."


David mendengus mendengar suara teriakan Aaron menggema di mension yang mencari istri nya.


"Kenapa kau berteriak,"


Aaron berjengit mendengar suara David yang mengagetkan nya. Tak lama ia mengumpat dirinya yang bodoh dan lupa. Istri nya pasti ada di kamar putri nya.


"Aku lupa,"


Cih...


David berdecih dan meninggalkan Aaron masuk ke dalam kamar nya. Sedangkan Aaron sendiri masuk ke dalam lift menuju kamar milik nya.


"Sayang.."


Almira mendongak melihat suaminya yang membuka pintu kamar putrinya.


"Ada apa by,"


Tangan Aaron mengusap pipi mungil di pangkuan Almira. Aaron menoleh ke sembarang arah, mencari keberadaan Zoya.


"Sayang, di mana bunda,?"


"Ya di kamar nya dong by,"


Aaron mendelik, ia menatap tak percaya pada istrinya.


"Siapa tadi yang mengangkatnya sayang,"


Almira tersenyum, Aaron pikir bundanya ada di sini dan membantu nya. Almira tak menjawab pertanyaan suaminya. Tapi tangan nya memberikan putri nya di pangkuan Aaron.


"Sayang sama daddy dulu, mommy mau kekamar dulu."


Tanpa menunggu lama Almira keluar dari kamar putrinya.


"Sa_yang, ini.."


Tubuh Aaron menegang dan tak berkutik saat putri nya berada dalam pangkuannya. Sementara Almira sendiri sudah menghilang di balik pintu.

__ADS_1


"Sayang, Oh ya ampun semoga dia tak bangun."


Aaron sama sekali tak menggeser tubuhnya barang sedikit pun, matanya menatap tak berkedip wajah mungil di pangkuan nya. Tangan nya terulur menyentuh pipi dan hidung yang sangat kecil.


"Kau sangat kecil,"


Aaron terkesiap saat tubuh mungil di pangkuan nya menggeliat. Tak lama kemudian matanya terbuka dan merengek. Panik, tangan nya gemetar ketakutan saat dia bergerak menggeliat lagi di pangkuan nya.


"Hus, hus.. diamlah, aku tak akan mencubitmu."


"Oek.. Oekk..."


Wajah Aaron semakin pucat, ia sama sekali tak bergerak, dan membiarkan putri nya menangis di pangkuan nya. Tak lama kemudian David datang menghampiri nya.


"Aaron apa yang kau lakukan bodoh,"


Aaron bernafas lega saat mendengar suara David, ia mengalihkan pandangannya pada papa mertua nya itu.


"Aku tak tau,.dia bergerak sendiri dan menangis. Tolong aku papa mertua, dia tak mau diam."


"Jelas saja dia menangis, coba kau peluk dia dan tepuk bokong nya pelan."


" Bagaimana aku takut, dia licin, tak mau diam."


Gigi David gemerutuk menahan emosi saat melihat Aaron yang terlewat bodoh. Jelas saja dia menangis, di biarkan begitu saja.


"Ya sudah tepuk saja bokongnya tidak usah di peluk"


Aaron mengangguk mengerti, perlahan menepuk kan tangan nya pada bokong putrinya.


"Nah begitu, dia sudah mau tidur lagi Aaron,"


Bisik David saat melihat cucunya berhenti merengek dan menutup kembali matanya.


"Pelan pelan, nanti dia bangun,"


Balas Aaron pada David dan dia angguki oleh David. Sepertinya mereka berdua lebih kompak saat merawat bayi mungil di tangan Aaron. Mereka tak tau jika Zoya melihat kedua nya, dia menggelengkan kepalanya kembali lagi ke dapur memasak.


Di meja makan...


"Aku dan Zoya akan membawa Almira ke tanah air."


Aaron menatap David tajam.


Apa maksud nya membawa istri dan anaknya pergi ke Indonesia dan meninggalkan nya. David dan Zoya akan membawa mereka berdua.


"Hanya sebulan, Oma dan dan adik nya merindukan mereka. Mereka tak bisa datang ke sini, Asraf dan Arhas tak bisa di tinggal sekolah nya. Lagi pula Almira tak pernah pulang selama ini kan."


Ucap David lagi. Ia tak melihat tatapan tajam Aaron padanya.


"Aku tak mengijinkan kalian membawa istri ku. Aku bisa merawatnya sendiri, tanpa bantuan kalian. Jadi jangan coba coba membawanya pergi dari ku."


Zoya mendesah lirih, saat mendengar penolakan Aaron. Lagi pula ia tak mungkin memaksa Aaron agar mengijinkan mereka membawa Almira. Almira sudah hak Aaron dan ia tak bisa memaksa nya.


"Tapi apa kau tak kasihan, dia sendirian di sini. Lagi pula jika kau pergi ke perusahaan siapa yang akan menemaninya di mension sebesar ini."


"Sudah ku bilang, aku tak akan membiarkan kalian membawa Almira."


Prang....

__ADS_1


.


.


__ADS_2