
Queen menatap benda berwarna ungu ketuaan yang berlumur dengan cairan lengket milik nya. Ia membuang benda itu dan menangis segukan.
Aaron tak boleh membuangnya begitu saja, miliknya hanya pernah di masuki oleh Aaron. Tak ada pria lain yang memasukinya selain milik Aaron dan benda tadi.
Lelah menangis Queen berjalan mengambil benda yang tadi membuatnya *******. Masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan dirinya di dalam bathub. Ia menatap benda tumpul di tangan nya, andai saja Aaron tak membuangnya, dia pasti akan membuang benda ini jauh jauh hari.
Tak lama ia terkekeh kecil, ia membeli benda tumpul ini saat ia mencari Aaron, yang tak tau dia pergi ke Indonesia. Seminggu ia mencari keberadaan kekasihnya dan tak sengaja ia membeli alat mirip kepala pria ini. Sebelum nya ia memakai benda seperti ini berkali kali. Tapi setelah ia mengenal Aaron, ia membuang nya dan tak pernah lagi menggunakan nya. Ia hanya cukup mencari Aaron dan mereka akan bercinta sampai berkali kali.
Siapa sangka, ia yang tak sengaja membelinya waktu itu dan hari ini ia memakainya lagi. Memuaskan hasrat birahinya yang selalu ingin di jamah oleh Aaron.
Queen memejamkan matanya menikmati hangatnya air hangat di dalam bathub. Miliknya yang perih dengan benda di tangan nya terasa lebih baik. Tangan nya masuk ke dalam air bersama dengan benda tumpul di tangan nya. Ia mencoba menciptakan sensasi panas yang belum terpuaskan hanya dengan sekali saja.
"Sstt.. Ahhh...."
Ya dengan cara ini Queen bisa terpuaskan. Bunyi kecipak air pertanda Queen memaju mundurkan benda tumpul di tangan nya. Bersandar di bathub dengan tangan di bawah sana aktif bergerak. Hingga Setengah jam kemudian Queen menjerit tertahan di dalam bathub. Nafas nya memburu, saat ia melepaskan hasratnya lagi dengan bantuan benda tumpul itu.
*
Sedangkan di ruang makan, David berjalan menuju ruang kerjanya berada. Emosi nya akan kembali memuncak saat berdekatan dengan Aaron. Sementara Zoya, menatap punggung suaminya yang menjauh. Ia lalu beralih pada Almira yang masih makan bersama Aaron.
Aaron sama sekali tak terusik dengan David yang meninggal kan meja makan. Padahal pria itu baru saja memakan sedikit dan masih tersisa banyak di piringnya.
"Bunda.."
"Ya pergilah,"
Zoya berdiri dari duduknya, ia mengikuti langkah suaminya yang menuju ruang kerja miliknya. Ia melirik ke arah putri nya yang menunduk. Almira juga tau jika David masih marah padanya.
Melihat Almira yang menunduk, Aaron mengeraskan rahangnya. Dadanya bergemuruh saat melihat mata istrinya meneteskan air matanya. Ia berdiri dan melangkah di mana keberadaan David saat ini. Langkah lebarnya mendahului Zoya yang baru saja membuka pintu.
"Kau...."
Zoya kaget saat tiba tiba saja Aaron masuk begitu saja di ruang kerja suaminya.
"Apa kau tak punya sopan santun masuk begitu saja, di ruangan orang lain,?"
David menatap datar pada Aaron, ia sama sekali tak ingin satu rumah dengan pria brengsek seperti nya. Hati nya tetap tak terima, meski ia juga mendengar jika Aaron akan membahagiakan putri nya. Tapi ia tak akan pernah percaya begitu saja. Ia tau Aaron pria yang seperti apa? Hiperseks, dia sering mencelupkan kejantanan miliknya pada sembarang wanita. Ia yakin dia tak akan puas dan setia pada satu wanita. Apalagi putri semata wayangnya, yang jauh dari kriteria wanita yang selalu tidur dengan Aaron.
"Jangan pernah kau tunjukan kemarahan mu pada istriku."
__ADS_1
Aaron menjawab datar, sama sekali tak mengalihkan pandangannya pada David yang tak jauh di depannya. Ia juga tak kalah menatap tajam menatap David.
Cih... "Istri... Kau yakin menganggap Almira istrimu, ingat Aaron, kau tak bisa mempermainkan putriku Almira. Apa kau yakin kau akan puas dan setia pada satu wanita, aku tau dirimu."
Aaron masih tak menjawab, ia menatap datar wajah David.
" Ceraikan putriku, dan aku akan memaafkan mu."
Nafas Aaron memburu menahan emosi yang memuncak. David memintanya menceraikan istrinya berkali kali.
Brakk...
Zoya berjengit kaget di depan pintu. Ia melihat dengan jelas, Aaron menendang kursi sofa di depannya.
" Sampai kau masuk ke lubang kubur pun, aku tak akan pernah menceraikan Almira."
David mengeratkan giginya emosi mendengar perkataan Aaron. Pria ini menyumpahi nya mati, di hadapannya langsung.
Brakk...
"Brengsek..."
" Bunda...."
Zoya berjengit kaget saat mendapati Almira berada di belakangnya. Ia mengusap pipinya yang basah, dan berbalik menatap wajah cantik putri nya.
"Ada apa sayang,"
"Maafkan Al jika Al banyak salah sama bunda."
Zoya memeluk tubuh Almira, sampai kapan suaminya dan Aaron akan bersitegang seperti ini. Sedangkan Almira menyembunyikan wajahnya di dada ibunya.
Aaron berbalik dan menatap bersalah pada Almira. Jika saja Almira tak datang kemari, ia yakin rumah mewah ini akan menjadi hancur berantakan.
Aaron melangkah mendekati Almira dan menggendongnya pergi dari ruangan kerja David. Sementara Zoya sendiri menatap tak percaya pada Aaron yang menggendong Almira. Mereka berdua memang sama sekali tak terlihat seperti sepasang suami istri. Aaron akan terlihat seperti ayah untuk Almira.
"Apa yang kau lihat Zoya.?"
David mendengus melihat Zoya yang menatap ke arah Aaron. Zoya menghela nafas nya perlahan, ia menghampiri suaminya yang masih duduk di kursi kerjanya.
__ADS_1
"Jangan terlalu keras kasihan Almira, maaf mas, aku bukan ingin membela Aaron, tapi aku tak ingin Almira tertekan."
David berdiri melangkah mendekati Zoya, ia memeluk tubuh istrinya yang bergetar. Ia tau meski kecewa, Zoya tetaplah seorang ibu. Entah kenapa ia juga tak bisa menerima Aaron di rumah ini. Setiap kali melihat wajah brengsek nya, ia teringat bagaimana dia yang mengancam akan mengambil Zoya dan membawa pergi bersama nya.
"Maaf.."
Zoya mengangguk mengiyakan, ia melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya. Masih mencoba untuk ikhlas dengan semua yang terjadi. Ia tak mungkin akan mempermasalahkan semua ini lagi. Memang benar kata Aaron jika jodoh sudah di takdirkan tuhan.
Sementara di kamar berwarna pink, Aaron mengusap pipi Almira yang basah. Semua ini gara gara dirinya yang tak bisa mengontrol perasaannya sendiri. Ia menikahi gadis yang tak tau apa apa tanpa orang tuanya tau. Tapi semua ini sudah terlanjur, ia akan mencoba untuk menekan emosi nya saat bertemu David nanti. ia tak ingin Almira yang merasa sedih.
"Sayang, apa tak ada warna lainnya selain warna pink. Mataku sakit melihat semua nya berwarna pink." Aaron mencoba mengalihkan perhatian nya, ia tak ingin istrinya merasa bersalah atas kebodohannya.
Almira mendongak, ia menatap tajam pada Aaron. Dan Aaron terkekeh geli mencubit hidung kecil Almira gemas.
"Rupanya Om memang menikahi anak kecil,"
Aaron mengeratkan pelukannya pada Almira. Ia meneliti kamar berwarna pink yang mengelilingi kamar istrinya. Apa iya kamar di Mension nya juga akan berubah menjadi pink.
*
Dirga dan Cristi memasuki rumah milik ibunya. Begitu mendengar penuturan Queen saat di telpon, ia dan suami langsung pulang ke negara asal mereka.
" Nyonya,..."
pembantu rumah tangga shock saat mendapati majikannya pulang ke mari. Padahal tak ada yang tau jika majikannya ini akan pulang sekarang. Setaunya majikannya akan pulang saat nona Queen fashion show di gelar nanti.
" Dimana Queen..?"
Cristi bertanya sambil melangkahkan kakinya menuju kamar Queen.
" Nona di kamar nyonya."
Cristi melangkah menaiki anak tangga, sedangkan Dirga ke kamarnya menyimpan koper nya di kamarnya.
Clekk...
.
.
__ADS_1