
Nathan terperanjat mendengar suara bariton Aaron padanya.
'Bukankah tadi dia lemas, kenapa teriak nya keras.' Gumam Nathan.
"Aku akan memecat mu jika sudah menemukan penggantimu. Bodoh sekali kenapa tak bisa beralasan jika aku sakit. Lama lama dia yang kutendang bukannya papa mertua, menyebalkan."
Aaron menggerutu sepanjang jalan masuk ke dalam ruang pribadi nya. Ia sama sekali tak melirik ke kanan dan kirinya. Aaron tak melihat jika David sudah berada di depan nya.
Sementara Nathan yang melihat kedatangan David, menunduk kan wajahnya. Ia melirik ke arah tuannya yang masuk ke dalam ruangan nya tanpa menyapa David. Ia yakin tuannya tak tau jika tuan David datang ke perusahaan nya.
David berjalan masuk ke dalam ruang Aaron. Matanya berkeliling menatap isi ruangan CEO milik Aaron. Dan Aaron sendiri, belum menyadari jika yang masuk adalah David bukannya Nathan.
"Ruangan mu cukup rapi dan bersih"
Aaron berjangit kaget mendengar suara David yang tiba-tiba mengagetkannya. Ia menatap wajah David, yang menatap ke sembarang arah.
"Sejak kapan kau disini.? Dan bagaimana kau tau di sini ruangan ku. Apa kau menguntit ku,?"
Tanya nya tak suka, David tak menjawab pertanyaan Aaron. Ia justru melangkah mendekati sofa dan mendudukkan dirinya di sana.
"Apa kau yakin bukan kau yang menghamili Queen.? Wanita itu hamil dan keguguran."
"Aku tau, dan aku tak bodoh." Potongnya cepat.
"Awas saja jika kau berani melakukan nya lagi bersama wanita lain selain putriku."
Cih....
"Tanpa kau ancampun aku bukan pria yang bodoh seperti yang kau pikirkan."
"Baguslah,"
Aaron mendengus mendengar nya, ia mengabaikan David yang duduk di sofa menatap nya tanpa berkedip. Hingga satu jam lamanya, David masih berada di ruangan Aaron. Entah kapan papa mertua nya itu akan pergi dari hadapan nya.
"Bisakah kau pergi dari sini, aku sangat terganggu dengan mu."
__ADS_1
",Aku lupa.."
David keluar dari ruang pribadi Aaron. Sedangkan Aaron sendiri mendengus dan mengumpat pria yang selalu membuat nya emosi.
"Dia pikir aku akan menyambut papa mertua, tapi kapan dia datang kemari. Kenapa bisa dia dulu yang datang.?"
Aaron menggelengkan kepalanya mengusir pikiran bodohnya. Mengingat jika David sudah berada di ruangan nya. Itu artinya pria itu datang lebih dulu dari pada dirinya.
"Mungkin saja pria tua itu datang terlebih dahulu, saat aku muntah di lobi."
*
"Apa kau sudah melihat keperusahaan Aaron mas.?"
"Sudah, aku bahkan mengobrol lama dengan nya tadi. Aku yakin jika sebentar lagi pria itu akan pulang. Kapan kita pulang Zoya? Perusahaan ku juga tak bisa di tinggal lama sayang."
Cup...
David mendekat dan mencium tengkuk Zoya dan melepas jilbabnya. Sedangkan Zoya sendiri mendelik tajam pada suaminya.
David mendengus mendengar nya. Ia menoleh ke arah pintu yang terkunci.
"Sayang hanya sebentar saja, lagi pula Al juga sedang tidur di kamar nya dan Aaron juga tak ada di Mension. Ayolah Zoya, aku sudah tak mendapatkan nya seminggu ini."
Zoya mendesah, ia menatap wajah David yang memelas padanya, tak lama ia mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Dan itu membuat David langsung melabuhkan bibirnya pada bibir Zoya.
Cup...
David ******* bibir Zoya bergantian, tangan kirinya menekan tengkuk Zoya agar memperdalam ciuman nya. Sedangkan tangan kanannya nya masuk ke dalam gamis syar'i Zoya. Mencari buah kesukaan yang biasa ia sesap. Sudah hampir seminggu lamanya David tak mendapatkan sentuhan Zoya di tubuhnya. Kali ini ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk nya saat Zoya sudah bersedia. Lagi pula akan lama jika harus menunggu sampai pulang ke rumah mereka. Sedangkan dia sudah tak tahan menahan hasrat birahinya.
Ahh...
Desah Zoya saat David menyesap lehernya. Seperti biasa, Zoya akan aktif saat mereka bercinta. Zoya memang sudah terbiasa menyenangkan suami nya. Semenjak David sakit, Zoya lah yang lebih aktif dan itu sudah menjadi kebiasaan Zoya. Tangannya mengelus benda tumpul milik suaminya yang mengeras dan masih terbungkus. Elusan tangan Zoya membuat David menggeram dan merem melek. Maklum saja sudah seminggu, sebelum mereka datang ke mension Aaron David dan Zoya tidak bercinta. Dan hari ini, tangan Zoya benar benar nakal mengelus benda tumpul milik nya yang masih terbungkus.
"Ahh sayang aku tak tahan Zoy," Erang David yang merasakan tubuhnya memanas dan bergairah akibat sentuhan tangan Zoya pada benda tumpul milik nya.
__ADS_1
Tok..Tok...Tok...
Zoya berjengit kaget mendengar pintu di ketuk dari luar. Ia langsung melepaskan diri dari David dan membenarkan gamis yang di pakai nya. Berjalan menghampiri pintu dan membukanya.
Sedangkan David berdiri kaku nafasnya memburu menahan hasrat yang memuncak dan tubuh yang semakin panas.
"Aaron.."
Zoya kaget saat mendapati Aaron berdiri di depan pintu kamar nya. David mengeratkan giginya emosi mendengar Aaron yang mengetuk pintu. Ia berbalik dan mendapati Aaron yang tersenyum lebar padanya.
"Ibu mertua di cari istri ku,?"
Zoya mengangguk mengerti dan keluar kamar pergi mencari putrinya.
Sedangkan Aaron menatap David dari ujung kepala sampai di tengah pahanya. Aaron menipiskan bibir nya melihat rudal David mengembang sempurna. Ia yakin jika David sudah tak tahan, melihat benda tumpul itu yang mengembang.
"Pasti sakit, maafkan aku papa mertua,"
Ucap nya pergi meninggalkan David yang menatapnya tajam. Nafas David memburu menahan emosi pada Aaron yang kurang ajar padanya.
"Aaron sialan.."
"Jangan mengumpat ku papa mertua, aku memang tak mengijinkan mu bercinta di Mension ku. Apa kau tak malu bercinta di kamar milik menantumu."
Tiba-tiba saja Aaron datang lagi mengagetkan David. Terang saja wajah David memerah, bukan karna malu, tapi karna emosi dan gondok terhadap Aaron yang kurang ajar padanya.
"Kau.."
Aaron berbalik dan pergi meninggalkan David, tersenyum penuh kemenangan melihat wajah merah padam David karnanya.
Sedangkan David berjalan ke kamar mandi, bibir nya mengumpat Aaron berkali kali. Pria kurang ajar yang sengaja melakukan ini padanya tentunya. Membuang pakaian milik nya dan mengguyur tubuhnya di bawah shower yang mengalir. Menghilangkan rasa panas yang sudah menguasai diri nya. Hasrat yang memuncak dan rasa gondok terhadap Aaron membuat kepala nya terasa ingin meledak.
"Pria sialan itu benar benar membuatku darah tinggi, awas saja aku akan membalasmu nanti, menantu sialan."
.
__ADS_1