
Aaron keluar dari dalam mobilnya, mata tajam nya menatap bangunan tua yang jauh dari kota. Ia berjalan menuju pintu masuk, bersama dengan Nathan yang mengikutinya dari belakang.
"Tuan Aaron,!"
Semua shock saat mendapati Aaron tiba-tiba saja datang ke markas besar milik Tony Caesar.
Nathan dengan sigap mengambil kursi kayu untuk tuannya duduk.
"Aku punya hadiah untuk kalian,?"
Nathan membuka kotak besar yang berisi jasad Tony di hadapan mereka dan menendangnya.
Brukkk..
Semua anak buah Tony shock dan ketakutan melihat tuan mereka tak bernyawa tepat di hadapan mereka.
"Apa kalian ingin menemaninya, aku bersedia mengabulkannya,?"
"Tidak tuan, ampuni kami."
Mereka bersimbuh di hadapan Aaron, mana mungkin mereka akan melawan pria seperti Aaron. Pemimpin mereka saja sudah menjadi mayat, bagaimana bisa mereka melawan nya.
"Aku tak suka jika hidup ku di usik oleh siapapun. Apalagi dengan kalian, tapi jika kalian ingin mencoba nya aku akan senang."
"Tidak tuan.."
Aaron menipiskan bibir nya dan berdiri, lalu meninggalkan markas Tony Caesar. Mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi, sedangkan Nathan sendiri masih di markas Tony Caesar.
*
Aaron mengusap wajah Almira yang tertidur pulas. Tangan nya berpindah ke perut buncit istrinya. Ia terkekeh saat mengingat jika Baby nya yang selalu menyiksanya.
Cup...
"Sehat di dalam perut mommy sayang."
Almira dan Aaron memang tak ingin mengetahui jenis kelamin buah hatinya. Biarkan semua itu menjadi kejutan untuk nya dan istri.
Aaron membaringkan tubuhnya yang lelah. Ia memeluk tubuh Almira ke dalam pelukan nya. Tak lama ia terkekeh saat perut Almira menghalangi nya.
Hah...
" Bergerak... Sayang, sayang, Al bangun dia bergerak."
Almira menguap saat suaminya membangunkan nya.
"Hubby sudah pulang.?"
"Sayang dia tadi bergerak Al," Ucapnya semangat.
"Iya..."
Almira memejamkan matanya kembali. Sedangkan Aaron sendiri menatap istrinya dengan dahi yang mengkerut.
"Sayang apa tidak sakit.?"
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Almira. Aaron menghembuskan nafas nya perlahan. Ia mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Zoya.
"Untuk apa kau menghubungi istri ku brengsek,?"
Semburan pertama di telinga Aaron saat sambungan telepon nya di angkat. Aaron menjauhkan ponselnya dari telinga nya saat mendengar suara keras dari David.
"Aku hanya bertanya kenapa perut nya bergerak apa tidak sakit."
"Tentu saja tidak bo_"
Tut...Tut..
Aaron membanting ponsel miliknya di kasur dan berbaring di samping Almira. Telinga nya sakit mendengar ocehan David, padahal ia hanya ingin bertanya saja.
"Menyebalkan.."
Sedangkan David mengumpat Aaron yang mematikan ponselnya. Ia melirik ke arah Zoya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Siapa yang menelpon, mas?"
"Aaron.."
*
Aaron menatap tajam pada wanita yang berjalan berlenggak lenggok mendekati nya. Ia mengeraskan rahangnya melirik ke Nathan yang berdiri di samping nya.
"Maaf tuan, saya tidak tau."
"Jika istri ku mengetahui nya, aku akan memenggal kepala mu Nat."
"Selamat malam tuan Aaron,"
Sapa pria yang mendudukkan dirinya di kursi sofa. Dan Aaron sendiri tak menjawab, ia hanya melirik pada wanita yang baru mendudukkan dirinya bersama dengan pria yang menyapanya.
"Ku pikir anda sudah banyak berubah tuan,"
Nicholas, rekan bisnisnya yang baru beberapa hari ini bekerja sama dengan nya. Pria yang lebih muda lima tahun darinya adalah rekan bisnis Aaron yang baru.
Aaron tersenyum simpul, menatap pria yang lebih muda darinya.
"Aku tak suka berbasa basi, istri ku menunggu ku di rumah."
Ucapnya menatap pria di depannya. Sedangkan Nicholas sendiri shock, ia sama sekali tak tau jika Aaron Kenan Galaxy sudah menikah.
"Wow, siapa yang sudah menaklukan seorang Kenan, bukankah kau tak percaya dengan wanita tuan."
Nicholas melirik pada wanita yang duduk bersamanya.
Aaron sendiri tersenyum lebar, membayangkan wajah imut Almira yang membuatnya tergila gila padanya.
"Tentu saja dia sangat spesial untuk ku tuan. Selain cantik dia juga akan menjadi ibu dari anak ku."
Jawabnya bangga. Sedangkan Nathan sendiri melirik ke arah wanita cantik di samping rekan bisnis tuannya. Ia seperti pernah melihat wanita di depannya ini. Tapi siapa dia,?
Sedangkan Helena sendiri lebih shock mendengar Aaron sudah menikah. Apalagi saat telinga nya mendengar jika istri nya sedang mengandung. Helena menundukkan wajahnya ciut, ia pikir Aaron belum menikah.
__ADS_1
" Nona Helena, tuangkan minumnya,"
Nathan terbelalak mendengar jika wanita yang bersama Nicholas adalah Helena, mantan tuan Aaron saat beranjak dewasa dulu.
"Iya,"
"Sayang sekali tuan Aaron kau sudah menikah, padahal aku ingin mengenalkan anda dengan nona Helena, tuan Aaron."
Aaron tersenyum lebar, menatap wajah Helena, wanita itu lebih muda darinya tiga tahun. Wanita yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Karna wanita inilah dia menjadi pria Casanova. Wanita yang mematahkan hati nya dengan memilih pria yang lebih kaya darinya.
"Sayang sekali, tanpa anda perkenalkan pun, aku sudah mengenalnya, mana mungkin aku tak mengenal nona Helena Wilson. Dia temanku dulu, bukan kah begitu nona. Lagi pula saya memiliki bidadari di mension ku."
"Ya.."
Tangan Helena bergetar karna gugup mendengar suara berat Aaron padanya.
"Benarkah nona Helena teman anda tuan, kenapa saya baru tau, padahal nona Helena sudah lama bekerja dengan ku. Tapi nona Helena tak pernah menceritakan jika dia mempunyai teman seperti anda tuan."
Aaron tersenyum miring, menatap wajah Helena. Ia menuangkan wine di dalam gelas nya sendiri lalu menenggak nya.
"Aku pernah mengenalnya dulu, tapi aku sendiri lupa jika tak melihat nya lagi. Maaf ingatanku hanya terisi dengan wajah istriku. Jadi aku sudah melupakan semua nya."
Ucapnya tanpa melirik ke arah Helena.
"Aku penasaran dengan wanita yang bisa menaklukan dirimu tuan. Ku pikir dia wanita yang sangat spesial untuk anda."
"Lebih spesial untuk ku tentunya."
Nicholas mengangguk, tak lama mereka berdua berbicara seputar bisnis. Aaron sendiri fokus pada lembar kertas di depannya, begitupun dengan Nicholas.
Hingga satu jam lamanya, mereka mengakhiri perbincangan seputar bisnis.
"Tuan Aaron, Minggu depan saya akan mengadakan pesta kecil kecillan di Luxuri hotel. Jika berkenan saya ingin anda menghadiri nya tuan Aaron. Suatu kehormatan besar jika anda bersedia datang."
Aaron menatap datar pada Nicholas, tak lama Aaron menipiskan bibir nya.
"Maaf saya tidak janji, akan saya usahakan datang."
Nathan menatap tuannya tak percaya, sejak kapan tuan nya suka ke pesta.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan Nicholas."
Aaron berdiri dan mengancing jas milik nya. Ia lalu berbalik tanpa menoleh lagi.
*
"Aku akan membunuhmu Nat, bagaimana jika istri ku mencium parfum wanita bodoh."
Aaron menendang kursi kemudi tempat Nathan duduk dan mengemudikan mobil nya.
"Tidak akan tuan, lagi pula tuan tidak berpelukan mana mungkin akan menempel."
"Mana sudi aku juga berpelukan dengan nya sialan, Almira jauh lebih cantik dan menggemaskan."
Ucapnya tersenyum lebar membayangkan wajah cantik Almira.
__ADS_1
Sedangkan Nathan sendiri mendengus, sebal dengan tuannya yang terlewat menyebalkan baginya.