
Queen berjalan mendekati Almira yang akan masuk kembali ke ruang pribadi Aaron.
"Zoya....."
Almira mengerutkan keningnya saat mendengar seseorang memanggil nama ibunya. Ia menoleh dan mendapati wanita cantik yang berjalan ke arah nya. Almira menatap wanita berpakaian tertutup, ia seperti pernah melihat nya.
"Aunty,"
Gumamnya lirih, tapi Queen bisa melihat bibir Almira mengatakan aunty padanya. Queen berjalan mendekat pada wanita yang di bencinya.
"Kau hamil anak Aaron?"
Almira mengangguk mengiyakan ucapan Queen. Dan Queen sendiri mengepalkan tangannya melihat anggukan kepala Almira.
"Kau tau, gara gara kau, aku keguguran dan gara gara kau juga Aaron membuang_"
Arkkk...
"Beraninya mendekati istri ku."
Almira terkesiap saat tiba-tiba saja Aaron datang dan mencengkeram erat dagu Queen.
"Aaron"
"Sekali lagi aku katakan Queen, menjauh lah sebelum aku membunuhmu. Tapi sepertinya aku tak akan membiarkan mu kali ini. Jangan salahkan aku jika sebentar lagi hidup mu lebih menderita."
"Sa_,kit,"
Sedangkan Nathan yang berdiri di samping nyonya nya tersenyum tipis. Tuannya tau jika wanita itu sudah berani datang kemari.
"Kau salah nona."
*
Sedangkan Dirga yang mendapat kan telepon dari seseorang yang tak di kenalnya, kakinya bergetar. Ia berjalan menuju mobilnya dan pergi ke perusahaan Aaron yang di sebutkan pada pria yang menelponnya.
Sudah lima hari ia mencari putrinya yang pergi dari rumah mewahnya di Singapura. Ia yakin jika Queen datang ke Venesia menemui Aaron. Dan apa yang ada di pikiran nya ternyata benar. Queen menemui Aaron.
"Jangan bertindak gila Queen."
Dirga berteriak keras di dalam mobilnya. Ia memukul stir kemudi mobil sewaan nya yang di pakai nya untuk mencari Queen.
Queen pergi seminggu yang lalu, dan kabur dari pengawasan Dirga dan Cristi. Mereka berdua sudah mewanti-wanti agar Queen tak berbuat ulah dengan mendatangi Aaron lagi. Tapi nyatanya Queen pergi dari rumah dan benar saja putrinya mendatangi Aaron.
"Aaron, lepaskan aku,"
Wajah Queen pucat pasi saat melihat mata tajam Aaron yang melotot padanya. Apalagi dagunya sakit oleh cengkraman tangan Aaron.
"Hubby.."
Almira ketakutan melihat pemandangan yang baru saja ia lihat. Dan Aaron terkesiap mendengar suara Almira memanggil nya.
Brukk..
Queen tersungkur di lantai dingin saat Aaron melepaskan tangan besarnya padanya.
__ADS_1
"Sayang, kau tidak apa-apa,?"
"Hubby, Al takut,"
Aaron mengeraskan rahangnya dan menggendong Almira ala bridal style masuk ke dalam ruangan nya.
Nathan melirik ke arah Dirga yang baru ke luar dari lift.
"Tuan,"
Nathan menipiskan bibir nya melihat wajah Dirga yang pucat pasi.
"Bawa pergi putri mu tuan dan nikmati hadiah dari tuanku."
Dirga terduduk dan bersimbuh di depan Nathan.
"Ku mohon tuan jangan lakukan ini pada kami. Maafkan putri saya tuan."
"Ingat lah tuan Dirga, saya yakin jika nyonya Almira tak hamil, kau akan mendapatkan kado yang berisi jasad putrimu."
Queen mengepalkan tangannya, ia tak terima Aaron mengacuhkannya seperti ini.
Tanpa menunggu lama Queen bangkit dan berlari masuk ke dalam ruang CEO milik Aaron.
Brakk...
Dor....
"Queen..."
Queen menatap tak percaya pada Aaron yang melepaskan timah panas nya pada nya. Ia menunduk melihat kakinya yang teras panas luar biasa.
"Aaron, kau,"
"Aku sudah memperingatkan mu nona."
Dirga masuk dan shock melihat kaki putrinya berdarah dan tak lama Queen ambruk di lantai dingin.
"Queen..."
Sttt...
"Tuan Aaron,"
"Aku sudah memperingatkan mu tuan Dirga, aku tak suka jika seseorang tak mengindahkan peringatan dariku."
Wajah Dirga pucat pasi saat sebuah senjata api mengarah padanya.
"Apa aku harus membunuhmu terlebih dahulu tuan Dirga, baru kau menjauh dari keluarga ku."
Tubuh Dirga gemetar ketakutan, ia menatap wajah Queen yang semakin pucat.
"Maafkan saya tuan, jangan bunuh kami. Saya janji Queen tak akan datang lagi menemui anda lagi tuan. Ampuni saya tuan, kasihanilah kami."
"Sayang sekali aku sudah berulang kali mengatakan jika aku tak suka hidup ku terusik dengan kehadiran putrimu tuan Dirga. Tapi putri mu yang sudah berani pada ku. Bagaimana jika aku juga membunuhnya seperti membunuh pria yang tidur dengan putri mu tuan."
__ADS_1
"Tidak tuan.."
Dirga bersimbuh di hadapan Aaron, ia tak ingin kehilangan putri satu satunya.
"Bawa pergi putri mu dari hadapan ku, sebelum peluru ku menembus kepala nya."
Dirga bangun dan membawa Queen berdiri.
"Queen.."
"Tidak Dad, Aaron harus bertanggung jawab padaku. Dia tega membuangku, dan memilih yang masih baru Dad. Aaron tak boleh membuangku Dad, dia harus menikahiku."
Dirga memapah Queen dan memaksanya keluar dari ruang pribadi Aaron dan pergi.
"Tidak Dad, Aaron harus menikahiku Dad, dia tidak boleh membuangku."
Plakk...
Dirga emosi, ia menampar wajah Queen yang menggedor pintu lift yang tertutup. Sedangkan Queen sendiri tersungkur. Kaki yang berdarah sama sekali tak dirasakan oleh Queen. Rasa putus asa jika Aaron tetap tak menerima nya membuatnya mati rasa. Kecewa, berbulan bulan ia di kurung oleh Dirga dan Cristi, berharap kabur dan mencari Aaron. Tapi setelah kabur dan berhasil mencari Aaron, apa yang terjadi. Aaron bahkan tega menembaknya dan mengusirnya lagi.
Ting...
Dirga tak perduli jika ia dan putrinya menjadi sorotan oleh karyawan Aaron. ,ia tetap memapah Queen pergi dari perusahaan Aaron.
*
Aaron menatap wajah pucat Almira. Ia memeluk tubuh istrinya yang bergetar ketakutan. Tangan nya terkepal erat, saat Almira memeluknya erat.
"Sayang,"
Tak mendapati jawaban dari bibir Almira.
"Sayang.. ****..."
Aaron membopong tubuh kecil Almira yang pingsan di pelukan nya, keluar dari kamar pribadi nya dan berjalan keluar.
Nathan sendiri shock melihat tuannya membopong tubuh istrinya.
Di sinilah Aaron, ia menunduk mengecup kening Almira berkali kali. Tangan nya mengelus perut yang membesar istrinya. Akibat shock dan takut Almira pingsan dan harus di larikan ke rumah sakit.
"Jika terjadi sesuatu dengan istri dan anakku, aku akan meratakan mu Dirga." Gumamnya dalam hati.
"Janinnya baik baik saja tuan, nyonya juga hanya shock. Tidak apa apa, anak anda kuat di rahim ibunya."
Aaron bernafas lega mendengar nya. Ia tak mengalihkan pandangannya pada Almira. Ia menyesal telah melukai Almira seperti ini.
Aaron tak mendengar dokter yang pamit padanya. Ia tak perduli, apalagi melihat Almira terbaring karna ulahnya.
"Ratakan dia, aku tak mau lagi mendengar apapun lagi. Cukup wanita itu mengusik ku."
Nathan mengangguk dan keluar dari kamar rawat istri tuan nya.
"Tuan Dirga hadiah mu akan datang."
Nathan merogoh ponsel di saku celana nya dan menelpon seseorang. Tak lama kemudian ia menutup nya kembali.
__ADS_1
.