
Reza menatap wajah Kartika yang sembab. Ia tau wanita yang baru saja menjadi istrinya itu habis menangis. Bukan tanpa alasan ia ingin menikahi Kartika langsung. Ia tak ingin wanita itu kembali lagi berpikir ulang. Ia tau Kartika terpaksa dengan pernikahan ini. Reza tak ingin Kartika berbuat ulah dengan David. Yang akhirnya akan membuat ia kehilangan wanita itu. Ia tau David seperti apa. Pria itu tak pandang bulu, jika menyangkut kebahagiaan nya.
"Maaf..."
Kartika mengusap pipinya yang basah, ia tak ingin para tamu undangan menyadari dirinya yang menangis.
Tak sedikit para tamu undangan yang hadir, merasa heran dengan pengantin pria. Yang mereka tau, jelas adalah David Aderson. Dan pesta ini hanya pesta pertunangan bukan pernikahan. Lalu tiba-tiba pesta berubah menjadi pesta pernikahan. Dan sang mempelai bukan lah David Aderson, tapi pria lainnya.
Hingga jam sepuluh malam, pesta baru saja selesai. Kartika berjalan lebih dulu menuju kamar hotel yang ia sewa. Ia melepaskan sepatu heels nya dan membaringkan tubuhnya di ranjang yang penuh dengan bunga. Entah ini ulah siapa, yang jelas ia tak meminta sang pelayan mendekorasi kamar ini. Apalagi banyak bunga yang terhambur di atas sprei.
" Sayang bersihkan dirimu dulu,"
Kartika bangkit dan mendudukkan dirinya di atas kasur.
"Kenapa kau bohong padaku, Za. Aku hanya ingin bertunangan lebih dulu bukan. Sementara menikah nanti saat aku sudah siap."
"Aku tau, kemarin lalu kau mengatakan sendiri, jika aku harus menikahi mu bukan. Lalu kenapa kau marah padaku Kartika."
"Tapi tidak sekarang juga Za.!"
"Nanti bukan, menunggu kau hamil atau tidak. Dan jika kau tak hamil, kau ingin mengejar David kembali."
Kartika menatap wajah Reza tak percaya, jika Reza mengetahui niatnya.
"Tika, sudah ku bilang aku mencintaimu. Aku tak ingin kau terluka, kau tak tau siapa David. Aku sudah mengenalnya dari dulu. Percayalah aku akan membahagiakanmu sebisa mungkin."
Reza menatap lekat mata Kartika. Entah siapa yang memulai lebih dulu. Saat ini gaun panjang dan berat milik Kartika teronggok di lantai begitu saja. Tangan Reza meraba belakang punggung istrinya, melepaskan pengait bra yang di gunakan untuk menyangga dua aset kembar nya.
Reza membaringkan tubuh istrinya di kasur empuk bertabur bunga. Meski bukan yang pertama kali, tapi Reza akan mengukir malam pertama mereka berdua dengan indah.
Ah....
Suara ******* Kartika terdengar saat Reza menyesap gunung kembarnya. Apalagi tangan Reza yang lain, tak hanya mendarat di salah satu saudara nya. Dia berkeliaran kesana-kemari.
"Za.." Kartika memekik kaget, saat merasakan sesuatu berada di bawah sana. Ia meremas kain sprei putih yang menjadi saksi bisu kedua nya. Nafasnya memburu, ia ingin meledakkan sesuatu di bawah sana. Dan lagi bibir Reza masih tak pindah dari dua gunung kembarnya. Ia akan berpindah dari yang satu ke yang satu nya lagi. Sementara di bawah sana,....
"Za..."
Pekikan Kartika lebih nyaring, Reza tau Kartika baru saja mencapai puncaknya. Tak lama kemudian ia melepaskan tangannya dan memposisikan dirinya. Siap menyatukan milik mereka berdua.
Reza tau percintaan mereka berdua adalah yang kedua. Tapi kali ini ia merasa sangat bebas menyentuh seluruh tubuh istrinya, tanpa terlewat.
*
David terbangun dan mencari keberadaan identitas istrinya. Ia tau Zoya hanya memiliki kartu itu dan ijazahnya. Tak ada surat penting lainnya, David merasa bersalah atas kebodohannya. Saat menemukan identitas istrinya. Ia meneliti dompet istrinya, dan hanya ada kartu nama dan foto dia dan Almira.
__ADS_1
David mengusap matanya yang basah. Saat menyadari tak hanya kartu nikah yang mengikat Zoya. Tapi foto mereka berdua saja sama sekali tak ada. Padahal ini adalah hal yang sangat kecil. Tapi David sama sekali tak mengingatnya.
Apalagi yang Zoya takutkan selain ini. Trauma di hianati sang suami, membuat wanita itu tertutup dan hanya memendamnya sendiri.
David mengusap wajahnya yang basah, ia lalu berjalan meraih ponselnya. Padahal hari sudah larut, tapi ia tak ingin menundanya lagi. Ia ingin Zoya, baik hati dan hidup nya adalah miliknya.
"Ya tuan..."
"Datang kemari,"
Pria di sebrang telpon hanya mendengus. Tak taukah ini sudah jam berapa. Tuannya itu sama sekali tak melihat hari, mau siang atau malam. Ketika di butuhkan ia harus ekstra siap. Sementara David tak perduli, ia langsung menutup telponnya. Ia tau Rey tak mungkin mengumpatnya.
Rey menguap berkali kali, sambil meninggalkan apartemen miliknya. Pergi ke rumah tuannya. Tak biasanya tuannya itu menyuruhnya datang larut malam begini.
"Ambil ini, besok pagi harus sudah ada di meja kerja ku."
Rey menghembuskan nafas nya, pagi pagi. Itu artinya ia harus menggedor rumah pegawai sipil malam ini. Lalu mendaftar kan pernikahan tuannya.
Rey sudah tahu, untuk apa berkas itu. Memang siapa lagi yang harus bekerja, kalau bukan dirinya.
"Baik tuan..."
Tak lama kemudian ia undur diri meninggalkan rumah mewah David. Sementara David sendiri kembali lagi ke kamarnya.
"Maafkan aku sayang..."
*
"Zoya.... Zoy..."
Sinta berteriak memanggil nama menantunya. Sementara Zoya sendiri yang mendengar namanya di panggil. Mendekati sang bunda.
"Ya bunda.."
"Sini sayang.."
Zoya menautkan kedua alisnya melihat dua wanita cantik bersama bundanya. Siapa mereka..
"Ampun deh mami, ini bidadari nya. Ambo nambo cakep bener, pantas saja mami nolak eke. Sini manis kita ukur dulu, badan ye.."
Zoya kaget saat mendengar suara dari salah satu mereka.
"Astaghfirullah..."
Zoya sampai mengelus dada nya, ia pikir mereka wanita. Ternyata hanya wanita jadi jadian.
__ADS_1
"Bunda..."
"Udah sini sayang, mereka berdua orang bunda di butik."
Zoya hanya diam, ia juga tak tau untuk apa bundanya melakukan ini.
Sementara di kantor, Rey menyerahkan dua buku berwana hijau tua dan merah marun. David tersenyum melihat ada namanya dan nama Zoya di dalamnya.
"Tuan, tuan Dewa ada di lobi. Dan dia membuat keributan."
David mengepalkan tangannya mendengar pria brengsek itu datang lagi ke mari. Tak lama kemudian ia berdiri keluar, menemui tua bangka yang menjadi musuhnya selama ini.
"Kau sangat kurang ajar padaku Dav. Aku ini ayah mu, dan kau memerintahkan mereka mence_"
"Keluar..."
Dewa melotot kan matanya tajam pada putranya. Ia tanpa basa-basi di usir di hadapan banyak karyawan nya.
"Dav..."
Bug....
Arkk...
David sudah lama ingin melakukan ini pada pria tua ini.
"Ingatlah pak tua, kau sendiri yang bermain api. Jangan mengemis pada orang yang sudah kau campakkan. Keluar dari sini, atau aku akan membunuhmu dengan tangan ku sendiri. Pria menjijikan seperti dirimu tak pantas mengaku sebagai seorang ayah."
David menghempaskan tubuhnya begitu saja. Lalu berbalik hendak pergi meninggalkan nya. Tapi Dewa tak putus semangat, ia berdiri menghalangi David.
"Kau tak bisa seperti ini Dav, aku ayah mu. Ingat lah David, aku tak pernah menandatangani berkas perceraian nya. Dan jika aku mengajukan pada pengadilan, aku masih suami ibumu. Meski kau menyangkalnya. Kami belum sah bercerai.."
David mengeraskan rahangnya mendengar penuturan pria itu. Ia berbalik dan menatap tajam padanya.
Dewa tertawa terbahak melihat wajah David memerah menahan amarah. Ia tau putranya marah.
"Aku hanya ingin kau membantu ku kali ini saja. Dan aku tak akan mengusik kalian berdua lagi. Ah bukan berdua, tapi berempat."
Bug...
Bug....
David lagi lagi memanas mendengar bibir brengsek itu.
"Sebelum kau menyentuh mereka, aku yang akan lebih dulu mengubur mu hidup hidup."
__ADS_1