Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 9


__ADS_3

Pagi harinya Aaron terbangun dengan kepala yang sakit luar biasa. Setelah pulang dari Club malam, ia memesan minuman keras berkadar tinggi. Masih belum menerima jika Zoya tak melirik nya sedikit pun.


"Benar benar sial."


Tangan nya terkepal melihat wanita tidur di samping nya. Mengingat semalam ia membawa wanita ****** ke hotel tempatnya menginap.


Ia bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi dengan boxer yang melekat di tubuh bawahnya.


Sekepergian Aaron wanita yang tidur di atas ranjang itu terbangun dan menggeliat. Ia mengerjapkan matanya dan menoleh ke samping, di mana pria yang semalam membawanya. Kemudian ia mengumpat tak mendapatkan apa yang ia inginkan semalam. Ia mendudukkan dirinya dan mengacak rambut nya sendiri.


Setelah Aaron mencumbunya dia tertidur efek minuman keras yang di minumnya. Sementara ia, sudah menggoda pria itu berbagai macam cara. Tapi Aaron sama sekali tak menunjukan reaksi sama sekali.


" Sialan.."


"Tak perlu mengumpat ku nona,"


Wanita yang masih duduk di atas ranjang itu berjengit kaget.


Ia mendongak menatap Aaron tak berkedip, wajah tampan bak dewa Yunani yang menghipnotis kaum hawa tentunya. Rahang tegas serta perut sixpack yang menggairahkan. Bagaimana mungkin semalam ia tak mendapat kan apapun dari nya. Rere, wanita yang bekerja di Club malam dua hari yang lalu. Ia masih baru, himpitan ekonomi dan uang kuliah. Ia terpaksa harus melakukan pekerjaan ini, meski bukan lagi perawan tapi ia baru pertama kalinya bekerja di tempat itu. Aaron juga pelanggan pertama nya. Tapi sayang nya, ia pikir semalam Aaron tak menolaknya saat ia ikut dan membawanya kemari, mereka akan menghabiskan malam berdua di atas ranjang. Tapi pria itu justru meminum wine sampai mabuk dan tertidur pulas. Dia membiarkan nya nganggur.


"Puas menatap ku nona, sebaiknya kau keluar dari sini."


Aaron berjalan menuju lemari yang tersedia. Ia mengambil pakaian formalnya.


Tak ingin gagal, Rere yang duduk di atas ranjang bangun dan memeluk tubuh Aaron dari belakang.


"Tuan mau kemana?"


Tangan nya meraba raba tubuh polos Aaron. Hendak melepaskan handuk yang melilit di pinggang Aaron, tapi Aaron lebih dulu mencekalnya.


"Pergi dari sini nona, aku sama sekali tidak ingin bercinta dengan siapapun sekarang termasuk dengan mu."


"Tapi.."


Aaron membuka lemari dan mengambil uang lalu memberikannya pada wanita di sampingnya.


"Pergi,"


"Tapi tuan.."


"Pergi atau aku akan menyeret mu dari sini nona"


Aaron mencengkeram erat dagu wanita yang terbungkus dalamnya saja. Entah kenapa semalam ia membawanya ke hotel tempatnya menginap.

__ADS_1


"Iya..."


Rere langsung mundur dan menyambar pakaian miliknya, tak lupa ia juga mengambil uang pemberian Aaron.


Aaron mendengus ia menendang lemari pakaian yang tersedia di hotel.


Brakk..


"Brengsek..." Semua ini karna wanita yang bernama Zoya ia menjadi bodoh. Apalagi David, ternyata pria itu sudah sembuh dan tidak lumpuh. Ini di luar dugaannya, datang jauh jauh dari Venesia, berharap akan mendapatkan wanita itu. Mengorbankan pekerjaan nya hanya untuk mengambil hati Zoya. Ternyata tak semudah bayangan nya. Zoya tetap setia pada David.


*


Tap..Tap...


Bunyi sepatu heels Zoya menggema di lobi perusahaan. Ia sudah di sambut oleh Rey, asisten suaminya.


"Nyonya, bagaimana dengan tuan David."


"Suamiku akan datang setelah jam makan siang Rey. Kau harus mengumpulkan jajaran direksi kembali jika aku akan sepenuhnya menyerahkan kembali tanggung jawab perusahaan pada pemilik sebenarnya."


"Tapi mereka tak tau jika tuan David sudah sembuh nyonya."


"Itulah sebabnya, kita kumpulkan mereka. Jam sepuluh nanti kita meeting Rey."


Zoya tersenyum, saat melihat ponsel nya bergetar dan menunjukan wajah suaminya.


"Sayang, apa kau sudah sampai. Apa Aaron datang ke perusahaan,?"


Zoya menggeleng dan membalikkan kamera belakang.


"Zoya sendiri mas, jadi jangan terlalu khawatir, siapkan diri mas saja untuk siang nanti." David mengangguk tak lama kemudian mereka menyudahi video call mereka. Ia lalu membuka pintu ruang CEO milik suaminya.


" Zoya.."


Zoya tersentak kaget saat mendapati Aaron sudah ada di ruang CEO miliknya. Ia menatap tajam pada pria muda di depannya ini. Dari mana dia bisa tau kode ruangan ini. Apa dia membobolnya, tapi pintu itu masih utuh.


"Tuan Aaron, bagaimana anda masuk kemari.?"


Aaron mengutuk kebodohan nya, tentu saja Zoya akan berpikir macam macam dengan nya yang tiba tiba sudah ada di sini.


Tak lama ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gara gara ingin bertemu dengan wanita yang sudah bersuami. Ia sampai lupa dan masuk begitu saja kemari.


" Nyonya, saya yang meminta tuan Aaron menunggu di sini."

__ADS_1


Rey datang mengagetkan mereka berdua. Sementara Zoya sendiri mengangguk mengerti, tapi tidak dengan Aaron. Untuk apa asisten David membantu nya.


Rey berjalan mendekati Aaron, ia tersenyum miring melihat wajah bingung Aaron.


"Jangan bertindak bodoh tuan." Bisik Rey lirih. Aaron mengepalkan tangannya mendengar bisikan lirih di telinga.


Dan Zoya sendiri mendudukkan dirinya di kursi kebesaran milik suaminya. Dia sama sekali tak mencurigai Aaron. Dan tak mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Tuan Aaron, apa masih ada yang perlu di bicarakan tentang kerja sama kita. Maaf jika sebelumnya pertemuan kita sangat singkat."


"Tidak ada, hanya ingin memastikan kembali perjanjian kita. Sebelum saya pergi."


Jawabnya pada wanita yang duduk di kursi kebesaran CEO. Menetralkan jantung nya yang berdetak, melihat wajah cantik yang semalam membuatnya mabuk. Mengingat bagaimana ia mabuk sama sekali belum pernah ia bayangkan. Jika ia meminum minuman keras yang terlalu banyak dan berkadar tinggi.


Zoya menggangguk kemudian ia mencari berkas perjanjian mereka semalam. Ia lalu berjalan ke arah Aaron. Aaron sendiri menatap Rey yang melihat ke arahnya.


Ia mengumpat Rey, yang mengejeknya. Ia tau Rey sengaja tak pergi dari sini. Setengah jam kemudian, Aaron menutup berkas perjanjian mereka. Sama sekali tak ada yang menarik menurut nya.


David sendiri berjalan masuk ke dalam perusahaan milik nya. Banyak karyawan yang melihatnya dan terlihat shock. Ia sendiri tak perduli menjadi pusat perhatian karyawannya. Tentu saja mereka semua heran dia bisa sembuh dari lumpuhnya, dan berjalan kembali. Semua ini tentu saja berkat Zoya istrinya. Dan sekarang Zoya sedang bersama pria yang ingin merebutnya dari nya.


"Daddy, jangan cepat cepat jalannya. Ishhh..."


Almira yang mengikuti langkah David sedikit berlari.


"Cepat sayang, daddy ada tamu."


Tak ingin putrinya berlari ia memelankan langkahnya.


Sementara di dalam ruang CEO, Aaron menutup berkas dan memberikan pada Zoya kembali, ia tak mengalihkan pandangannya pada wajah Zoya. Tak perduli dengan Rey yang menatapnya tajam.


Brakk..


Mereka bertiga di kagetkan dengan suara pintu yang terbuka. Zoya menatap bingung pada suaminya yang sudah berada di sini. Bukankah ia meminta suaminya datang tengah hari.


"Mas,"


David melangkah mendekati Zoya, di mencium kening istrinya di depan Aaron.


Dari arah belakang Almira masuk begitu saja tanpa mengucapkan salam, dan langsung duduk di depan Aaron di samping Rey. Matanya tak berkedip menatap pada ruang pribadi milik daddy nya. Ia baru pertama kalinya datang ke perusahaan milik Daddy nya.


"Mas kesini dengan Almira,"


"Iya bunda, Al mau beli buku. Buku Al di robek sama Arhas." Bibirnya mencebik, ia sebal dengan kedua adiknya yang nakal. Sementara Aaron sendiri menatap wajah bocah di depannya ini. Tak lama ia tersenyum tipis, melihat bibir mungil yang maju ke depan.

__ADS_1


__ADS_2