
Pagi harinya, Zoya kembali di sibukkan dengan aktivitas mengurus putri nya. Meski ada Lala yang di tugaskan David untuk merawat anaknya. Tapi Zoya masih kekeh, ingin dia yang merawat putrinya.
Cup....
"Unda, addy semalam nangis."
Deg....
Dada Zoya kembali lagi bergetar hebat menahan sesuatu yang entah itu apa? Untuk apa suaminya menangis.?
" Al, bolehkah bunda temani Daddy bekerja?"
David tiba tiba saja datang dari belakang mengagetkan Zoya dan putrinya.
Bocah yang hampir memasuki usia empat tahun itu menatap David dan bundanya bergantian. Meski belum paham tapi ia tau ibunya akan meninggalkan nya lagi.
"Al mau beli boneka lagi? Nanti Daddy belikan kalau Al mau sama mbak Lala.?"
Tentu saja balita itu mengangguk mengiyakan ucapan David. Ia segera turun dari ranjang dan berlari kecil. Yang sebelum itu ia mengecup pipi Zoya. Zoya lalu membalas mencium pipi putrinya.
"Unda, nanti beliin oneka yang banyak!"
Zoya hanya tersenyum tipis, ia lalu melirik ke arah David. Apa suaminya ingin mengajaknya ke kantor lagi. Dia bilang seminggu dua atau tiga kali ia bekerja. Lalu untuk apa dia mengajaknya pergi ke kantor.
David memarkirkan mobilnya di rumah mewah berlantai dua. Sedangkan Zoya mengerutkan kening, rumah siapa ini?
"Ini rumah dokter Rasya, lebih baik kita yang kemari. Aku ingin kau sembuh Zoy?"
Seolah tau apa yang ada di pikiran Zoya David lebih dulu mengatakan nya. Zoya menolehkan wajahnya, manik nya bertabrakan dengan manik mata David. Zoya sama sekali tak menyangka David akan membawanya ke psikiater. Setelah sekian tahun ia menderita trauma akibat salah satu dari ulahnya. Dan sekarang pria itu sendiri yang membawanya berobat. Apa mungkin karna sekarang dia adalah istrinya.
David lagi lagi menggandeng tangan Zoya. Masuk ke dalam rumah dokter Rasya. David memang sengaja pagi pagi datang kemari, kerumahnya langsung. Agar lebih banyak waktu mereka berkonsultasi.
Setelah mengucapkan salam, Zoya dan David di sambut dengan pembantu rumah.
"Mari tuan, tuan Rasya sudah menunggu anda."
David hanya mengangguk, ia berjalan ke ruang pribadi dokter Rasya berada. Zoya mengeratkan genggaman tangannya pada David. Ia gugup, dan takut, untuk pertama kalinya ia akan berkeluh kesah tentunya dengan dokter Rasya.
Begitu juga dengan David, ia mengeratkan genggaman tangannya pada telapak tangan Zoya.
"Aku bersama mu Zoy."
Clek...
__ADS_1
"Assalamualaikum dokter,"
Dokter Rasya pun menjawab salam Zoya yang terbata. Lalu mempersilahkan mereka berdua untuk duduk. Ia kasihan melihat wanita ringkih seperti Zoya. Dia wanita yang rapuh, ia mencoba memaksakan dirinya untuk berdiri tegak demi putrinya.
Tangan Zoya saling meremas takut. Ia menunduk tak berani mengangkat wajahnya. Setelah dokter Rasya bertanya, tentang masa lalunya. Tentu ia takut,?
Salah satunya adalah pria yang berada di sampingnya inilah penyebabnya. Tapi bagaimana mungkin ia akan menjelaskannya.
"Nona, lepaskan saja. Tuan David tak akan mencegah anda berbicara."
Zoya mendongak melihat wajah tua sang dokter. Yang di sambut dengan senyuman lebar dari bibir pria paruh baya itu. Lalu kemudian ia melirik ke arah David.
Dengan segala keberaniannya, dan doa ia menceritakan sedikitnya masalah traumanya. Yaitu video yang tak sengaja ia tonton. Yang membuatnya selalu mual dan jijik. Tentu saja ia tak mengatakan itu video aksi suaminya. Yang bergelut dengan perempuan lain di ranjang hotel.
David memandang tak percaya pada istrinya. Ia tau Zoya tak mungkin mengatakan aib rumah tangganya pada orang lain. Tapi mendengar Zoya yang hanya mengatakan itu saja membuat dada David seperti di hantam batu besar.
Ingin sekali ia memaksa agar Zoya jujur dengan masalahnya. Ia tau Vidio itu hanya sebagian kecil dari trauma yang selama ini menghantuinya. Tentang suaminya yang merasa jijik dengannya, tentang suaminya yang tak menyentuh nya. Ya David ingat itu, Zoya mengatakan nya tanpa sadar.
Dan ia ingin Zoya lepas dari bayang-bayang masa lalu yang selalu menghimpitnya. Dengan membuka masalah nya, ia yakin Zoya akan sembuh.
Hampir dua jam lamanya David dan Zoya di rumah dokter Rasya. Padahal saat ini, handphone David terus bergetar. Tapi sang empu tak menggubrisnya. Ia fokus mendengarkan dokter Rasya.
"Maaf tuan David, seperti yang pernah saya katakan. Nona Zoya adalah wanita yang sangat tertutup. Anda bisa membantu nona dengan cara anda sendiri tuan. Anda tau maksud saya bukan.?"
Dokter mengatakan solusi yang mungkin bisa saja membantu Zoya. Ia yakin lama kelamaan trauma Zoya akan hilang dengan sendirinya.
"Terima kasih, kalau begitu saya permisi?"
David berbalik dan melangkah meninggalkan dokter Rasya. Menyusul Zoya yang lebih dulu keluar.
*
Sudah sebulan lamanya David dan Zoya menikah. Hubungan keduanya sama sekali tak berubah. Hanya saja Zoya, yang mengalami perubahan. Setiap malamnya ia jarang muntah. Perubahan itu tentu membuat wanita paruh baya yang menganggap Zoya sebagai putri nya senang. Ia tak menyangka, tiga tahun Zoya menderita tekanan akibat trauma yang menyerang mental dan fisiknya.
Mata Lili memanas melihat Zoya yang tersenyum lebar. Meski senyum itu masih menyimpan kesedihan, tapi setidaknya Zoya mulai tersenyum.
Tiga tahun ia dan suami adalah saksi perjuangan Zoya yang terpuruk. Wanita lembut dan pendiam itu di terpaksa berdiri tegak demi sang buah hati. Ia tau setiap malam nya Zoya yang akan menggigil dan muntah secara bersamaan. Dan itu membuat tubuh Zoya semakin kurus. Wanita itu sangat lah mencintai almarhum suaminya Rangga.
Tapi sayang nya, cinta dan ketulusan nya di balas penghianatan. Hingga meninggal pun dia bersama dengan selingkuhannya.
Entah bagaimana hati Zoya, mendengar jika suami nya kecelakaan bersama dengan selingkuhannya. Yang pasti rasa sakit dan cemburu dia tekan dalam dalam.
"Bibi, aku mau ke kantor. Tuan David menyuruh ku mengantarkan makan siangnya."
__ADS_1
"Zoy kamu masih memanggil nama suamimu tuan?"
" Maaf bibi, Zoya belum terbiasa."
Bibi Lili mengangguk mengerti dan menyuruh Zoya pergi. Jangan sampai suaminya menunggunya, sebentar lagi makan siang terlewat.
*
Luna berjalan menuju ruangan CEO berada. Dan akan melancarkan aksinya. Ia harus bisa menjerat David agar mau menghabiskan sebentar saja untuk bercinta dengan nya. Ia yakin Zoya akan kembali lagi hancur dan terpuruk.
Tok...Tok...
Luna tersenyum lebar, bagaimana ia yang datang tiba tiba tanpa membuat janji. Tentu saja Luna dengan mudahnya masuk ke dalam gedung ini. Dengan bermodalkan jika ia adalah adik ipar Zoya dari suaminya yang pertama.
Senyum Luna bertambah lebar kala sang resepsionis dan karyawan lainnya yang tak sengaja mendengar shock. Luna melenggang begitu saja sebelum sang resepsionis mengijinkan nya.
Rey mengerutkan keningnya mendengar pintu di ketuk dari luar. Mana mungkin OB masuk kemari. Apalagi tamu penting lainnya. Selama ini David tak pernah mengijinkan ruangan CEO di injak oleh sembarang orang. Apalagi bukan tamu penting. David bukan orang yang biasa bersosialisasi seperti orang pada umumnya. Ia akan merasa jijik dan langsung akan mengusir mereka. Selain pria introvert dia juga temperamen.
Clek....
Luna menerobos masuk begitu saja, menabrak tubuh tinggi Reymond. Ia sama sekali tak tau jika tingkahnya itu membuat pria yang duduk di kursi kebesaran nya berdecih.
.
.
Hai mom' mampir ke karya aku yang lain ya
my CEO love (21++)
Bagi yang suka uh ah uh ah 🤣
jangan lupa tinggalin jejak like komen
Beri hadiah juga dan VOTE nya🤧🤧
🤣🤣
Aku tuh baik ga di kasih juga 😌
.
.
__ADS_1