
Clek....
"Diam di apartemen, aku akan pergi sebentar!."
Luna hanya mengangguk mengiyakan ucapan Dewa. Ia tak ingin berulah lagi seperti tadi siang, yang berakhir menjijikan.
Di sinilah Dewa saat ini, Club malam. Pria tua ini tak puas hanya dengan satu wanita. Ia datang lagi kemari ingin mencari yang baru.
"Kau temani dia!"
"Apa tidak ada yang lebih muda lagi. Dia sudah tua sekali, aku tak mau?"
"Kau ingin merubah hidup mu bukan. Dialah orang nya. Dia pemilik perusahaan besar di kota X, kau yakin tak mau.!"
Wanita berusia dua puluh lima tahun itu menggigit bibir bawahnya. Ia menimbang keputusan nya. Apa benar pria tua itu kaya raya.
"Kau tidak percaya, coba saja sekarang. Dia akan langsung memberimu uang banyak."
Wanita itu mengangguk dan berjalan ke arah Dewa.
"Hay Om.." Ragu ragu ia mendekati pria itu. Semoga saja apa yang di katakan Cece benar, dia pria kaya.
Dewa tersenyum miring, menyambut wanita yang datang sendiri padanya. Tidak sia sia ia datang ke mari. Ia menemukan yang baru dan itu sesuai keinginan nya.
Memang sudah rejekinya ia datang kemari. Tanpa basa basi ia menyambutnya dengan tangan terbuka. Ia lalu menggeret wanita muda itu ke dalam ruang khusus di dalam.
"Aku akan memberikan yang kau mau Om. Tapi kau juga harus memberikan yang ku mau."
Dewa mengeluarkan kartu ATM nya, melemparkan pada wanita yang ia bawa.
"Kau bisa memiliki nya, jika aku menyukai permainan mu."
Dewa bukan pria bodoh, jangan sampai wanita ini mengecewakannya. Tentu saja ia harus di beri hasil yang memuaskan. Dan tanpa menunggu, ia mendorong tubuh wanita malam di depannya.
"Kau bisa mendapatkan nya, sekarang juga!" Lanjutnya lagi. Merayu wanita yang masih berpikir.
Wanita itu merinding mendapatkan bisikan di telinga. Matanya melirik ke arah wajah tua di sampingnya. Ia mendesah lirih, yang bernasib sial malam ini. Harusnya yang lebih muda sedikit, ini benar benar sudah tua.
__ADS_1
Tak lama kemudian ia mengangguk dan permainan ranjang di mulai.
Mereka menghabiskan malam bersama. Dewa benar benar Casanova sejati. Sore tadi bukankah ia baru saja melakukannya dengan Luna. Meski bukan pada tempatnya, tapi sama saja.
Dewa bertambah semangat mendengar suara ******* dari partner ranjang nya. Ia tambah semangat menyentak nya. Miliknya benar benar masih terasa menggigit. Lain dengan Luna yang ia pakai setiap hari. Ya malam ini Dewa bermain dengan wanita baru. Ia juga membalikkan tubuhnya agar wanita itu yang bekerja.
Tanpa di perintahkan juga, sang wanita bergerak naik turun. Ia juga terbawa arus, dengan permainan yang pria tua itu suguhkan. Apalagi tangan Dewa, tak tinggal diam. Kesana kemari memberikan sensasi agar si wanita terangsang labih dalam lagi. Hingga waktu subuh, mereka baru mengakhiri pergulatan mereka.
"Aku menyukainya,"
Ia hanya diam, mendapatkan bisikan di telinga. Ia juga mengumpat dirinya sendiri yang berbuat gila. Milik pria itu benar benar di luar dugaan. Apalagi ia di buat lelah tak berdaya.
"Ambil ini, kau bisa memakainya sesuka hati."
Dewa melemparkan kartu ATM nya pada wanita yang masih terbaring polos di ranjang.
"Semoga kita tak akan pernah bertemu lagi. Aku sudah mendapatkan apa yang kumau. Dan Om juga sudah mendapatkan yang Om inginkan."
Dewa terbahak mendengar nya, wanita cantik ini rupanya mengancamnya. Tapi tak apa, ia sudah puas untuk malam ini. Setimpal dengan pelayanan nya.
Cup....
Dewa menyambar bibirnya lalu pergi meninggalkan nya. Sedangkan wanita yang masih polos itu mengumpati dirinya.
"Ya anggap saja ini adalah hari keberuntungan. Baiklah aku akan cek ATM nya. Dia bilang aku bisa membeli apa saja. Awas kau Cece kalau kau membohongi ku, jika pria itu kaya."
Tak lama ia berpakaian, lalu berjalan keluar ia akan mengecek berapa yang pria itu tinggalkan untuk nya.
Matanya melotot melihat angka nol yang tertera. Ia sampai menghitung nya kembali. Benar, ini nyata dan bukan mimpi. Tak lama ia tersenyum lebar. Ternyata pria itu benar benar kaya. Tak sia sia ia melemparkan tubuhnya malam ini.
*
Sudah lebih dari tiga jam Zoya di dalam ruangan Emergency. Dan David tak berhenti menangis menyesali perbuatannya. Ia sangat menyesal telah menyakiti Zoya. Wanita yang sangat di cintai dengan sepenuh hati. Ia tak menyangka dengan dirinya sendiri. Akibat cemburu pada orang yang sudah mati, dia menyakiti Zoya. Lalu apa bedanya ia dengan Rangga.
Begitu pun dengan Sinta, wanita itu tak berhenti menangis menyesali semua nya. Tak ada yang bicara, baik David maupun Sinta masih diam membisu. Yang jelas mereka berdua sangat menyesali semua nya.
Clek....
__ADS_1
Baik David maupun Sinta langsung mendekat ke arah pria yang memakai baju putih khas kebanggaannya.
"Maaf,"
"Apa maksud mu, brengsek.."
David berang ia mencengkram erat kerah baju dokter. Matanya menyalak tajam pada nya. Apa maksudnya meminta maaf.? Sementara Sinta menangis lebih keras, ia sudah menduga nya.
Dokter menunduk, ia melihat dua orang yang sangat kacau di depan nya. Tak lama ia menghembuskan nafasnya perlahan.
"Maafkan kami tak bisa menyelamatkan janin anda."
Seperti tersambar petir David mendengarnya. Ia mematung di tempatnya berdiri. Tangannya bergetar melepaskan kerah baju sang dokter. Sementara Sinta menangis meraung lirih. Akhirnya apa yang tidak ingin ia dengar, terdengar juga di telinganya.
"Usia janin masih sangat rentan, dua minggu. Dia tak bisa bertahan karna, goncangan keras. Maaf kan kami yang tak bisa menyelamatkan nya. Saya permisi, tuan dan nyonya..."
Tak ada yang menjawab ucapan dokter tersebut. Apalagi David yang langsung jatuh terduduk di lantai dingin. Ia menjambak rambut nya sendiri. Meluapkan kesalahan nya, pada Zoya. Anaknya hilang, karna dirinya. Cemburu butanya pada Rangga telah membuatnya menyesal seumur hidup.
Clek....
Sinta mengusap pipinya yang basah, mata tua itu tak berhenti mengalir. Apalagi melihat keadaan Zoya saat ini.
Sementara Zoya langsung mengalihkan pandangannya pada pintu yang terbuka. Ya ia baru saja siuman saat suster memindahkan keruang rawat VIP. Ia tersenyum tipis melihat kedatangan bundanya.
"Bunda..."
Matanya ikut memanas melihat wanita tua itu menangis. Ia tau dari suster jika ia baru saja kehilangan buah hatinya. Pasti wanita tua itu sangat lah sedih, dia pasti kecewa dengan dirinya yang tak bisa menjaga malaikat kecilnya.
"Maafkan Zoya..."
Sinta memeluk tubuh ringkih Zoya, ia tak kuasa mendengar kata maaf dari bibir nya. Bukan salah Zoya, tapi salah dirinya dan David. Mereka berdua sudah menyakiti Zoya lagi.
.
. Aku mau hadiah lagi dan VOTE juga ðŸ˜ðŸ¤£
.
__ADS_1