
Almira hanya menggeleng kan kepalanya mendengar daddy dan suaminya bertengkar terus menerus.
"Dad, Al juga gak terlalu suka dengan hadiahnya."
Aaron melebarkan bibirnya mendengar pembelaan istrinya, ia langsung mencium pipi Almira bertubi-tubi. Dan David sendiri yang melihat Aaron hanya memutar bola matanya jengah.
"Aku menyesal tak mengajari putri ku caranya menggaet pria kaya. Lumayan bisa buat,_ aduh sayang kenapa kau mencubit pinggang ku."
David meringis mendapatkan cubitan kecil dari tangan istrinya.
"Kalian suka sekali ribut,"
David nyengir kuda, ia melirik ke arah Aaron yang masih di posisi sama. Bergelayut di lengan Almira, risih David melihat nya.
"Begitulah kalau orang tua punya istri muda, menyebalkan tidak tau malu."
Gerutu David tapi masih terdengar di telinga mereka semua. Apalagi Aaron yang mendengar nya langsung melirik sinis.
"Oek..Oekk.."
"Sayang seperti nya Baby nya haus Al."
Zoya mengangkat bayi mungil yang baru saja terbangun dari tidurnya, mencium pipi nya gemas dengan cucu nya yang imut.
"Ayo sayang, bisa tidak," Zoya menyerahkan cucunya pada tangan Almira.
Dan Aaron baru saja menyadari jika ia telah menjadi seorang daddy, saat melihat bayi mungil berwarna merah yang bergerak gerak di tangan Zoya. Ini seperti aneh bagi nya, belum genap satu tahun menikah ia sudah menjadi daddy. Ada rasa yang entah itu apa, yang jelas ini seperti mimpi baginya.
David yang melihat Aaron sama sekali tak pindah dari samping Almira. Mendekat dan menarik tangan Aaron.
"Menyingkir kau bodoh, putri mu mau minum susu. Apa kau tak melihat nya. Kau seperti aneh, menjadi daddy. Apa kau shock dan terlalu senang, menjadi Ayah. Ya aku tau kau shock dan senang, kau kan sudah tua baru punya Baby, tapi tidak seperti ini juga, ayo menyingkir mataku sakit melihat mu."
Oceh David dan di balas dengan pelototan Aaron.
"Nah begini kan lebih baik."
Aaron mendengus, tak lama kemudian ia berganti menarik David.
__ADS_1
"Apa.."
"Kau yang seharusnya menyingkir,"
Zoya geram mendengar keduanya berdebat terus. Ia melototkan matanya pada kedua dan mengusir mereka.
"Keluar,.."
"Ko aku papa mertua yang seharusnya keluar,"
"Ayo keluar,"
Aaron pasrah saat Zoya menyuruh nya keluar. Apalagi melihat mata yang melotot padanya. Ia melangkah keluar yang di ikuti David di belakang Nya.
"Aaron apa pinggang mu benar benar sudah sembuh.?"
Aaron tak menjawab, malas berbicara dengan orang tua. Apalagi gara gara dia ia di usir oleh Zoya.
Tak mendapatkan jawaban dari Aaron, David duduk di samping nya. Ia melirik ke arah pria yang menjadi menantu nya ini. Tak lama kemudian ia mendengus, berdiri lagi dan menjauhinya. Bukankah dia adalah mantan rivalnya. Dan Aaron sendiri sama sekali tak perduli.
Sementara di dalam Almira meringis merasakan nyeri di ujung buah dadanya saat di hisap oleh bibir si kecil.
Tangan nya membelai kepala Almira, tak terasa matanya basah menahan tangis.
"Sayang apa kau mau ikut bersama bunda ke tanah air dulu. Bunda ingin merawatmu di sana,"
Zoya memang sudah membicarakan pada David jika ia ingin membawa Almira pulang dan David setuju saja. Sudah empat hari ia dan David berada di Venesia menunggu Almira yang akan melahirkan. Sebelum nya Almira tak di perbolehkan oleh Aaron pergi ke Indonesia dan melahirkan di sana. Dan Zoya tau jika mengajak Almira dalam keadaan hamil sangat lah beresiko. Dan saat ini Almira sudah melahirkan.
"Sayang,"
"Nanti Al tanya dulu bunda sama Om."
Zoya menggangguk mengiyakan. Mana mungkin ia tega membiarkan Almira mengurus Baby nya sendiri. Meski ada Baby sister, tapi Zoya ingin merawatnya setidaknya sampai dia berumur dua bulan.
*
Aaron tersenyum melihat bayi mungil yang bergerak gerak di dalam bok. Tangan nya terulur menyentuh pipi yang berwarna kemerahan, tak lama kemudian ia menarik tangan nya kembali.
__ADS_1
"Apa kau tak mau menggendongnya, kau ini sama sekali tidak berguna."
Aaron berbalik lagi dan membaringkan tubuhnya memeluk Almira. Ya Aaron memang tidur berdua di ranjang bed bersama Almira. Ia tak mau tidur di sofa bersama David. Lagi pula tangan nya juga tak akan kemana mana, ia tau istrinya masih sakit.
Sedangkan David sendiri membuka mulutnya lebar-lebar melihat kebodohan Aaron. Tak lama kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Apa ini, kenapa ada pria seperti nya, oh ya ampun Zoya, bagaimana kita mempunyai menantu bodoh sepertinya."
David berjalan mendekati box bayi, terlihat jika cucunya terbangun dan bergerak gerak. Ia yakin jika dia tak nyaman dengan popoknya. Tangan David mencari cari keberadaan popok bayi dan tisu. Ia berjalan lagi mendekati cucunya.
"Sayang sekali, papa mu bodoh dan tak berguna. Jika bisa ku ganti aku sudah menggantinya dari dulu. Selain bodoh dia juga lebih memilih ibumu dari pada kamu sayang. Liat saja jika kau sudah besar injak punggung nya."
David tak berhenti mengoceh pada bayi mungil di dalam bok bayi. Ia mengganti popok cucunya yang basah. David tak tega membangunkan istrinya dan putrinya, biarkan saja mereka tidur, mereka berdua pasti lelah.
"Nah sudah, sekarang tidur lagi, Opa sudah mengganti nya sayang." Ucap David.
Sedangkan Aaron yang mendengar ia di jelek kan di hadapan putrinya hanya mengumpat David. Bukan ia mengabaikan putrinya, tapi ia takut menyentuhnya, yang bergerak seperti ulat, geli. Takut juga jika dia akan terjatuh dan tulang nya akan patah jika ia menggendong nya.
"Semoga saja besok jika dia membalasmu, menendang mu itu lebih baik, tidak berguna."
David masih saja mengoceh sendiri, padahal mungkin saja Aaron sudah tidur dan terlelap kembali.
*
Sudah lima hari Almira di rumah sakit, dan saat ini Aaron akan membawanya pulang ke mension mewah nya.
Zoya yang menggendong cucunya di tangan nya, bibir nya tak berhenti tersenyum. Mengikuti langkah suaminya yang berada di samping nya. Mereka berdua terlihat seperti orang tua yang sesungguhnya, padahal orang tua yang sebenarnya berada di belakang mereka.
"Sayang apa masih sakit, jahitan nya." Tanya Aaron. Dan Almira hanya menggeleng kan kepalanya.
"Kenapa tak berangkat bekerja by, sudah lima hari libur apa Om Nathan tak marah.? Aku bisa pulang bersama daddy dan bunda ke mension."
"Mana mungkin Om memilih pekerjaan dari pada kamu sayang, nanti jika kau sudah sembuh baru Om berangkat kerja sayang." Almira tersenyum.
Cup...
"Aku mencintai mu by,"
__ADS_1
Aaron melebarkan bibirnya mendengar perkataan Almira. Ia berjalan dengan hati yang berbunga bunga, menggendong Almira keluar dari rumah sakit terbesar di kota Venesia.