
Masih tak ada yang mengeluarkan suara, baik Aaron maupun Almira, mereka berdua sama sama diam. Almira sendiri mencoba menekan rasa yang timbul di hati nya, dan ia tak banyak bicara. Ia tak tau itu apa, yang jelas ia sangat kecewa dengan suaminya. Apalagi seperti ada yang menusuk di hati nya, mengingat jika wanita itu sering tidur dengan suaminya. Meski ia sudah tau tapi entah kenapa mendengar dengan telinganya sendiri rasanya seperti ada yang menusuk hati nya
"Sayang..."
Aaron berbisik mesra di telinga Almira, ia tau Almira marah padanya. Tapi sungguh Aaron tak berniat menyakiti nya. Ia mengencangkan pelukannya pada istrinya, tak ingin jika Almira menjauhinya, apalagi membencinya.
"Al,.."
"Om tidak pergi ke perusahaan, ayo Al bantu carikan baju."
Almira melepaskan pelukannya pada Aaron dan berjalan menuju walk in closed. Tapi Aaron membopong tubuh istrinya dan memeluk nya.
"Jangan seperti ini Al, maaf."
Almira menatap wajah suaminya yang sangat dekat dengan nya. Rahang tegas dan wajah yang sangat tampan, pantas saja jika suami nya dulu suka berganti wanita.
Almira mengangguk mengiyakan ucapan Aaron. Ia juga tak ingin berlarut-larut memikirkan bagaimana suaminya dulu. Ia sendiri juga yang sudah menerima Aaron menjadi imam untuk nya. Ia yakin jika Aaron juga tak ingin menyakiti nya.
Aaron menggelengkan kepalanya saat melihat anggukan Almira.
"Apa Al tidak mau tinggal di mension ini,?"
Matanya menatap memelas pada Almira, ia tak bisa melihat Almira marah pada nya. Wanita yang paling di cintai nya itu tak boleh membencinya.
"Kenapa Om bilang begitu, Al sudah menerima Om sebagai suami Al. Al hanya marah, kenapa Om membawa Al kekamar yang yang sama dengan kekasih Om dulu."
"Gak sayang, dia bukan kekasih Om sayang."
Almira menatap mata Aaron, jika bukan kekasih lalu kenapa sampai di bawa ke mension dan tidur bersama.
"Tapi dia.."
"Gak sayang, maaf."
Aaron menatap Almira memelas, baru siang kemarin ia bercinta dengan Almira hingga dia jatuh pingsan. Dan ia tak mau Almira menganggap nya pria brengsek yang memanfaatkan nya saja.
"Om mencintai mu Al."
*
"Brengsek, lepaskan aku sialan."
__ADS_1
Queen meronta di tangan penjaga mension. Aaron benar benar tega padanya. Meminta mereka untuk menyeret nya paksa keluar.
"Maaf nona, sebaiknya anda jangan pernah datang kemari lagi."
Queen menatap tajam pria yang menyeret nya keluar.
"Asal kalian tau jika aku menjadi nyonya di mension ini, kalian berdua lah yang akan ku tendang lebih dulu."
Mic mengerutkan keningnya mendengar penuturan wanita yang dulu sering datang ke mension Galaxy.
"Bukankah hanya anda yang menginginkan nya, sedangkan tuan Aaron sama sekali tak menginginkan anda menjadi kekasihnya, apalagi harus menjadi ratu di istana Galaxy."
Ejek nya pada Queen, ia tau jika tuannya hanya menganggap wanita ini sebagai teman ranjangnya tidak lebih.
"Kau.."
"Keluar dari sini atau anda akan melihat macan yang sesungguhnya. Ingat nona aku sudah mengingatkan mu."
Mic meninggalkan Queen dengan wajah merah nya. Ia menggelengkan kepalanya mengingat jika wanita itu sudah berani mengusik tuannya. Aaron Kenan Galaxy, sudah beberapa tahun pria itu hidup tenang dan tak pernah terusik. Tuan nya hanya fokus pada bisnis nya dan mengembangkan bisnis orang tuanya.
Pria itu sudah lebih dari lima tahun meninggal kan markas besar miliknya. Tak ada transaksi, seperti sebelumnya nya. Pria itu mulai berubah saat pulang dari Indonesia delapan tahun lalu. Dan tak ada yang tau apa yang membuat tuannya berubah. Jika hanya tanggung jawabnya sebagai pewaris tunggal, ia rasa bukan itu alasannya.
Gigi Queen gemerutuk mendengarnya, mereka sama sekali tak menganggapnya sebagai calon nyonya di mension ini.
Queen berjalan masuk ke dalam mobil nya. Sudah cukup dirinya bersabar menunggu Aaron.
Menatap ke atas di mana kamar yang di yakini adalah milik Aaron. Ia tau di mana letak kamar itu, Aaron memang tak pernah mengijinkan dirinya masuk ke dalam kamar nya.
Aaron hanya membawanya bercinta di kamar bawah, bukan kamar atas milik Aaron. Itupun ia yang merayu Aaron agar menyentuhnya.
*
Bastian menatap rumah mewah David. Ia masih belum percaya jika Almira menikah dengan pria dewasa yang jauh lebih tua dari Almira.
"Bas, pulang yuk.."
Qinan menatap wajah Bastian memelas. Sudah lebih setengah jam lamanya mereka berdua berdiri di depan gerbang rumah David. Mereka berdua juga tak berani masuk ke dalam rumah David. Takut dengan David sendiri, tapi Bastian yang kekeh mengajak nya datang kemari. Ia tau jika Bastian masih belum percaya jika Almira benar benar menikah dengan pria dewasa.
"Udah lah Bas, Al memang udah menikah dengan Om yang waktu itu, ayo pulang Bas."
Bastian menoleh ke arah Qinan datar, dan Qinan sendiri hanya meringis di tatap seperti itu oleh Bastian.
__ADS_1
"Aku yakin ini bukan keinginan Al, dia pasti di paksa menikah oleh pria itu. Mana mungkin Al mau menikah, jika pria itu tak mengancamnya."
Qinan tak banyak bicara, ia tau jika Bastian sangat kecewa dengan Almira. Ia sendiri juga sangat kecewa sebagai sahabat. Almira sama sekali tak bercerita tentang pernikahan mereka.
"Kak Bastian, kak Qinan."
Mereka berdua di kejutkan dengan kedatangan Arhas.
"Kakak mau bertemu dengan kak Al."
Arhas menatap kedua sahabat kakak nya. Dan Qinan mengangguk mengiyakan ucapan Arhas.
"Kakak, sudah pergi ke Italia bersama suaminya."
"Apa..."
Arhas menutup telinga nya mendengar suara nyaring keduanya. Sedangkan Bastian dan Qinan benar benar melotot mendengar ucapan Arhas.
"Sudah lima hari yang lalu, kakak pindah kesana dan tinggal dengan suaminya." Lanjutnya lagi.
"Kamu bohong kan Ar."
Arhas menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Bastian. Sahabat laki laki kakaknya satu satunya.
"Kakak sudah memutuskan untuk tinggal dengan Om Aaron, Arhas sendiri juga masih gak menyangka jika kakak akan pergi meninggalkan kami secepat ini. Apalagi liat bunda suka nangis, Arhas juga kasihan. Tapi mau bagaimana lagi, kakak harus ikut suami nya kan."
Arhas menunduk, ia juga mengusap pipinya yang basah. Masih belum percaya jika kakak nya tinggal berjauhan dengan mereka. Sedangkan Qinan yang melihat Arhas menatap nya iba. Ia tau bagaimana dekat nya Almira dengan kedua adiknya.
"Tapi kakak bilang akan pulang kemari sebulan sekali."
"Apa kakakmu menikah karna terpaksa dengan pria dewasa itu."
Cetus Bastian. Dan Qinan menatap tak percaya dengan nya.
Tapi Arhas menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Bastian.
"Kakak sendiri yang menginginkan om Aaron membawanya ke negara asalnya."
Entah kenapa Bastian tak percaya begitu saja dengan ucapan Arhas. Bukankah Almira dulu mengatakan jika ingin berkuliah dan menjadi pramugari. Rasanya tak mungkin jika itu adalah keinginan Almira.
.
__ADS_1
.