
Qinan menatap wajah Bastian yang murung selama beberapa hari ini. Ia menghela nafas panjang, sudah lima hari semenjak Almira pergi bersama dengan pria dewasa, temannya ini selalu murung. Ia sendiri tak tau pria yang mana, jika bertanya Bastian tak akan menjawabnya.
"Ke rumah Al aja yuk Bas, kamu tau sendiri, Almira gak akan telpon kita dulu kalau kita gak telpon duluan."
Bastian masih diam, ia masih tak percaya pada Almira yang berciuman dengan pria dewasa seperti itu. Dia lebih pantas menjadi daddy Al, bahkan mungkin saja dia teman om David. Apa Om David menjodohkan Al dengan pria tua itu.
Bastian masih memikirkan kemungkinan Almira memang di jodohkan dengan pria yang jauh lebih dewasa dari Almira.
Qinan mendengus sejak tadi Bastian hanya diam saja. Padahal dia sendiri yang mengajaknya ke luar.
"Gak mungkin kan Al di jodohkan dengan pria dewasa itu Qi."
Qinan menatap tak percaya pada sahabatnya itu.
"Mana mungkin om David menjodohkan Al, gak usah ngada ngada deh Bas."
Bastian tak menjawab, ia masih memikirkan Almira yang di bawa pergi oleh pria dewasa itu. Sedangkan sampai saat ini Al sama sekali tak menghubungi mereka berdua. Setidaknya dia menjelaskan apa hubungannya dengan pria itu. Dia juga menjadi gosip oleh teman temannya sekarang. Dan Al sama sekali tak menunjukan batang hidungnya. Gadis itu memang sama sekali tak perduli dengan gosip di luar.
*
Cristi masuk kedalam kamar Queen, mencari keberadaan putrinya di kamar nya. Ia menoleh ke arah kamar mandi. Terdengar suara gemericik air yang mengalir, mungkin saja putrinya sedang mandi. Ia mendudukkan dirinya di ranjang milik putrinya. Tak lama kemudian Queen keluar dari kamar mandi.
"Mom.."
Cristi tersenyum lebar, ia merentangkan tangannya memeluk putrinya.
Ia tau Queen pasti butuh teman curhat saat ini. Selama ini Queen tak pernah menangis di hadapan nya dan suaminya. Mungkin saja Queen sudah tak bisa membendung kesedihan nya.
"Ada apa, sayang?"
Queen yang masih terbalut handuk hanya menangis di pelukan ibunya. Cristi melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah lemari pakaian. Ia mencari baju milik putrinya dan memberikan nya pada Queen.
"Pakai dulu sayang.."
Queen mengangguk, ia mengambil pakaian dari tangan ibunya dan memakainya. Cristi sendiri masih menatap wajah putrinya yang pucat. Apa benar Aaron menghianati putrinya dan membuangnya begitu saja. Setaunya hubungan mereka baik baik saja selama sebulan lalu.
__ADS_1
"Ada apa Queen..?"
"Aaron sudah menikah mom, bagaimana dengan Queen."
Cristi memeluk tubuh Queen, dan mengusap punggung nya. Ia tak percaya dengan apa yang di dengar nya. Ia pikir Aaron mencintai Queen.
"Apa kau memiliki kesalahan pada Aaron, sehingga dia meninggalkan mu sayang."
Queen menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tak pernah membuat kesalahan seingatnya. Saat mereka bercinta di perusahaan, Aaron memang mengatakan tak ingin menikahinya. Setelah puas bercinta dengan nya, dia membuang nya begitu saja.
"Aaron tak bisa melakukan ini pada Queen mom, Aaron sudah mengambil semua nya."
Cristi shock mendengar nya, ia melepaskan pelukannya pada Queen dan menatap tajam putrinya. Sementara Dirga sendiri yang berdiri di depan pintu kamar mengepalkan tangannya. Bagaimana mungkin pria yang terkenal dengan pebisnis handal di Venesia melakukan hal serendah itu pada putrinya.
"Apa kau yakin, Aaron sudah menikah sayang. Bukankah Aaron tak pernah mengatakan jika dia memiliki kekasih selain kamu."
"Tuan David yang mengatakan nya, dia putri David mom."
Dirga mengerutkan keningnya mendengar penuturan Queen. Aaron menikah dengan putri David, siapa.?
Tut...Tut...
" Ya...."
"Maaf tuan David bisakah kita bertemu, ada hal penting yang ingin saya tanyakan pada anda,saya Dirga."
Terdengar helaan nafas di sebrang telpon.
"Ya..."
"Saya akan mengirimkan tempat dimana kita bertemu tuan."
Tut...Tut...
Dirga keluar dari rumah peninggalan orang tuanya. Ia mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang, masih tak menyangka apa yang di dengar nya adalah benar. Setahunya David memiliki dua putra saja dan mereka kembar.
__ADS_1
Memang tak banyak yang mengetahui tentang Almira, David memang tak suka kehidupan nya terusik oleh orang lain. Ia lebih suka keluarga yang tenang tanpa adanya pemburu berita.
Yang mereka tau, hanya Asraf dan Arhas lah anaknya.
*
David menatap wajah Aaron datar, wajahnya merah padam menahan emosi yang di timbulkan oleh pria brengsek di depannya ini. Sedangkan Aaron sendiri, masih tak bergeming sedikitpun. Baru saja ia akan mengajak Almira ke hotel tempatnya menginap, mengambil barang miliknya. Tapi David memanggilnya, dan di sini lah saat ini ia berada, di ruang kerja David.
"Apa kau senang, kekasihmu saat ini mencari mu. Dan orang tuanya baru saja menelpon ku, aku yakin dia tak akan menjelekkan putri ku saat ini."
Emosi David selalu saja tak bisa di kendalikan. Ingin sekali ia menembak mati Aaron yang mengusik keluarga nya yang tenang dan karna dia keluarganya kembali terusik dengan orang lain.
"Aku yang akan menemuinya,"
Aaron keluar dari ruang kerja David, ia melangkah ke kamar milik istrinya. Tak perduli dengan David yang mengumpati nya. Ia akan menemui orang tua Queen. Ia yakin Dirga sudah mengetahuinya jika ia sudah menikah saat ini. Tak mungkin ia akan membiarkan orang lain mengusik rumah tangga nya. Dia dan Queen hanya sebatas teman ranjang, dan tak lebih. Ia juga sudah mengatakan nya berkali-kali jika ia tak mencintai nya. Tapi Queen sendiri yang melemparkan tubuhnya pada nya.
Sampai di kamar Almira, Aaron langsung memeluk tubuh kecil Almira. Menghirup aroma tubuh istrinya yang seperti bayi. Mengingat itu Aaron terkekeh lagi, Almira memang benar benar membuatnya seperti pedofil, padahal memang benar. Almira sendiri berjengit kaget saat tangan besar memeluk nya dari belakang.
Cup....Cup.... Aaron melayang kan ciumannya pada pipi Almira.
"Sayang, bolehkah Om keluar sebentar, hanya sebentar."
Almira berbalik, ia menatap wajah suaminya yang memeluknya erat. Tangan nya terulur menyentuh rahang tegas Aaron. Sedangkan Aaron sendiri memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan mungil istrinya di wajah nya.
"Om mau pergi,?"
Aaron membuka matanya perlahan, ia mengangguk mengiyakan ucapan istrinya. Almira tersenyum, ia tak menyangka suaminya meminta ijin terlebih dahulu dengan nya.
"Tapi jangan terlalu malam pulangnya,"
Cup... Aaron ******* bibir tipis istrinya, sudah sejak tadi ia menahan diri untuk tidak ******* bibir mungil Almira. Ia takut jika ia melakukan nya ia tak bisa membendung gairahnya terhadap istrinya. Apalagi ia sadar jika ia sedikit gila ****, ia tak ingin menyakiti Almira dengan nafsu bejatnya. Ia akan menunggu Almira siap menerima dirinya, sampai kapanpun ia akan menunggu Almira.
.
.
__ADS_1