Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode. 82


__ADS_3

Rania terkulai saat dokter menyuntikkan obat penenang. Saat berontak dan akhirnya luka bekas operasi kembali berdarah. Ibu Rania hanya menangis di samping putrinya. Sementara ia tak tau di mana suaminya saat ini.


"Maaf nyonya, jika nona Rania sadar. Mohon kerjasama nya, luka nona Rania akan terinfeksi jika dia seperti ini terus. Sudah dua kali lukanya di jahit kembali, mohon bantuannya, agar nona tak kembali seperti ini."


Ibu Rania hanya menatap kosong ke depan, ia benar benar shock dengan semua ini. Perusahaan yang dulu hampir rata kini sudah mulai pelan pelan berdiri. Itu juga akibat Rania, Vidio panas tiga tahun lalu. Dan operasi penyembuhan nya. Keluarga nya saat itu hampir saja jatuh. Akibat ulah putri semata wayangnya. Dan sekarang, perusahaan suaminya pasti benar benar akan jatuh kembali. Itu juga ulah Rania, dan untuk yang sekarang ia tak tau, apa masih bisa berdiri. Sedangkan nasib putrinya yang semakin menyedihkan.


Tak lama kemudian Erick datang dan dokter undur diri.


"Ada apa?"


"Rania berontak, dan lukanya di jahit kembali."


Erick mendudukkan dirinya di samping istrinya, ia juga tak tau harus apa. David benar benar brengsek. Mantan calon menantunya itu memang tak punya rasa kasihan. Putrinya cacat kaki dan cacat sebagai wanita, yang tak bisa mengandung. Ia menyesal kemarin membawa Rania kemari. Itu artinya David sudah merencanakan nya. Ia menoleh ke arah istrinya. Wanita itu segukan di sampingnya, meratapi nasib yang kacau ulah Rania.


"Tak ada investor yang tersisa, semua menarik saham nya kembali."


Ibu Rania bertambah segukan, ia tak siap dengan semua ini. Kenapa putri nya sangat bodoh. Ia meraung di dalam kamar rawat putrinya. Tiga tahun lalu terpuruk, dan satu tahun ini baru mereka mulai bangkit. Sudah kembali terpuruk lagi, dan ini benar benar tak bisa bangkit, ia yakin itu.


*


Luna meringis merasakan panas yang menjalar di area sensitifnya. Setelah ia bergulat lagi dengan Dewa. Sakit itu kian terasa, apalagi miliknya seperti terbakar.


Sementara Dewa sendiri, keluar dari kamar membawa koper di tangannya. Ia akan pulang ke kota X, dan akan kembali lagi nanti. Ia harus memaksa David membantunya, saat ini ia harus pulang terlebih dahulu. Apalagi dua hari lagi akan ada meeting dengan para investor asing.


"Luna ada apa?"


Luna menggeleng kan kepalanya.Ia tak mau Dewa menyiksanya lagi, jika ia berbuat ulah. Tapi tak lama kemudian, Dewa di buat shock oleh Luna.


Brukk..


" Luna, **** ..."


Disinilah Dewa, rumah sakit. Ia membawa Luna yang pingsan di apartemen. Ia mengumpat wanita itu, penerbangan nya akan terlewat gara gara Luna yang pingsan.


Clek....

__ADS_1


Dewa berdiri menyambut kedatangan dokter dari dalam. Sedangkan sang dokter, menghembuskan nafasnya perlahan.


"Pasien harus di rawat inap."


Dewa mengerutkan keningnya, rawat inap. Memang nya Luna kenapa, bukankah dia hanya pingsan saja. Atau bayi dalam kandungannya ada masalah.? Berbagai pikiran Dewa tentang Luna hinggap di pikirannya.


"Tidak bisa dokter, kami harus pergi. Pesawat kami akan segera Take off, kami bisa ketinggalan nanti."


Ya Dewa tak bisa membiarkan Luna begitu saja. Selain wanita itu mengandung, ia tau siapa Luna. Dia seperti dirinya yang gila ****. Jangan sampai anaknya di buahi oleh pria lainnya. Sudah pasti jika ia meninggalkan nya wanita itu akan kembali menjajakan tubuhnya.


"Tuan, nona harus menjalani tes. Lagi pula, nona hamil, itu sangat berbahaya. Maaf jika saya mengatakan nya, kemungkinan nona terinfeksi HIV"


Wajah Dewa pucat pasi, ia mundur kebelakang mendengar penuturan dokter. Luna terinfeksi penyakit menjijikkan. Dan dia adalah panther ranjang nya.


"****..."


Dewa mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Ketakutannya jika Luna menyebarkan penyakit mematikan pada dirinya.


"Brengsek..." Dewa memukul stir kemudi. Tangan nya bergetar, takut jika ia juga terinfeksi. Tak lama kemudian ia memutar kembali mobilnya. Ya ia harus pergi ke rumah sakit lagi. Ia harus segera memeriksa dirinya sendiri. Jangan sampai ia juga tertular dari Luna.


*


"Tika, apa kau hamil?"


Ibunya bertanya, sedari tadi anaknya memakan buah asam. Dan Kartika mengangguk mengiyakan.


"Ya mom, Reza junior sudah tumbuh di sini. Sudah dua hari aku selalu mual, setiap bangun pagi."


Ibu Kartika tersenyum, ia lega akhirnya Kartika bisa menerima pernikahan nya dengan Reza. Meski mereka sempat putus, ia yakin Kartika tak akan mengecewakannya. Reza pria baik, dia juga sopan. Kartika memutuskan Reza, karna rencana perjodohannya dengan David. Ia sendiri yang mengenalkan Kartika dengan David. Tapi ia tak tau jika Kartika punya kekasih. Alhasil Kartika memutuskan Reza. Siapa yang tak tertarik dengan pesona David, semua wanita pasti akan tertarik dengan nya.


Sementara Reza yang berada di depan pintu hanya tersenyum tipis. Semoga Kartika tak bersandiwara kali ini. Dan dia benar benar menerimanya. Ya Kartika selalu bersikap romantis di depan orang tuanya. Tapi di rumah ia suka mengabaikan dirinya.


Clek...


Kartika dan ibunya menoleh ke arah pintu. Reza tersenyum seperti biasanya. Ia tak ingin membuat ayah mertuanya banyak pikiran. Itu sebabnya ia selalu menampilkan senyum di wajahnya.

__ADS_1


"Za, kamu bawa wortel tidak?"


" Buat apa sayang.." Kartika mendengus. Bukankah tadi dia sudah berpesan.


"Tadi kan aku bilang belikan wortel aku mau makan wortel Za."


Reza bingung, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia pikir tadi Kartika salah ucap. Ia membelikan kentang goreng untuk nya, dan ternyata istrinya memang benar ingin makan wortel.


"Wanita hamil memang suka aneh Za. Lebih baik kau kembali lagi, dia akan ngamuk nanti."


Reza mengangguk dan matanya melirik ke arah istrinya. Kartika mencebik di lirik oleh Reza, dari tadi ia menunggu nya. Dan Reza justru membawa kentang goreng.


*


David menatap tak berkedip pada Zoya. Ia baru saja pulang dari kantor, menyelesaikan pekerjaan nya. Agar rencana bulan madu mereka berdua tak terganggu.


"Sayang kenapa tak menunggu ku."


Zoya berjengit, ia menoleh dan tersenyum. Ia tak tau sejak kapan suaminya datang.


"Memang mas sudah dari tadi.?"


"Ya, aku dari tadi melihat istri ku yang melepaskan handuk." Zoya melotot kan matanya. Ia menatap tajam pada suaminya. Dan David sendiri langsung melabuhkan ciuman panasnya di bibir Zoya.


"Mas dari tadi, ish..."


David tak membiarkan istrinya bicara. Ia ******* lagi bibir manis yang selalu ingin ia sesap. Tak lama kemudian, ia melepaskan tautan bibirnya. Saat Zoya memukul dada bidang nya.


Ia terkekeh melihat Zoya yang meraup nafas sebanyak banyaknya, dan wajah yang memerah.


"Maaf sayang aku kelepasan." David berlari kecil ke arah kamar mandi. Ia tersenyum tipis melihat Zoya yang melotot kan matanya padanya.


"Unda, kata Oma Al mau punya adik bayi?" Zoya tersenyum, ia mengusap Maya yang basah, jika dulu ia tak memancing suaminya marah mungkin saat ini dia masih ada di perut nya. Bukan rejeki nya....


.

__ADS_1


__ADS_2