
Almira meringkuk di atas sofa ruang kerja Aaron. Ia menangis segukan saat melihat jika Aaron tak menginginkan anak darinya.
"Al benci Om..."
Sedangkan Aaron sendiri mengusap pipinya yang basah, ia bisa melihat apa yang di lakukan Almira dan di dengarnya. Sampai satu jam lamanya ia duduk di depan pintu ruang kerja miliknya. Menunggu Almira mau membukakan pintu untuk nya. Tapi istrinya justru tertidur di dalam. Tak lama kemudian ia mematikan ponselnya dan berdiri membuka pintu perlahan.
Melangkah perlahan dan menatap tubuh kecil yang meringkuk di atas sofa. Mana mungkin ia tak mencintai wanita yang tidur di atas sofa. Ia terlalu mencintai Almira hingga ia tak ingin menyakiti istrinya.
Aaron berjalan melangkah mendekati Almira, mengecup pipi nya yang basah dan menggendongnya pergi ke kamar milik mereka.
"Tuan..."
"Perketat penjagaan, aku tak mau jika istri ku pergi dari mension."
Aaron melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka.
"Ya jangan marah sayang, Al akan punya baby nanti."
Aaron mengusap kepala Almira dan mencium kening nya. Entah dari mana datangnya pemikiran istrinya saat ini yang menginginkan anak. Semoga saja Tuhan mengabulkan doa Almira jika dia menginginkan anak dari nya.
Dan Aaron justru menangis di samping Almira, ia tak tega melihat Almira kesakitan saat melahirkan nanti.
Ya benar, kata Almira jika tau dia masih kecil kenapa harus menikahi nya.
*
Rodric menatap Queen yang bejalan polos menuju ke kamar mandi. Ia mengepalkan tangannya mengingat jika wanita itu adalah wanita nya Aaron sebelumnya. Ia tak tau jika Queen adalah bekas Aaron dan ia justru meniduri nya setiap hari.
"Brengsek.... Awas saja kau Aaron, jika wanita ini bisa ku tiduri bukankah aku juga bisa meniduri istri mu juga."
Rodric tersenyum miring, membayangkan bagaimana rasanya meniduri istri Aaron. Bagaimana marah nya Aaron jika tau istrinya bergoyang di atas tubuh polos nya.
Rodric menyambar pakaian nya yang berserakan di lantai dan memakainya. Ia pergi dari apartemen Queen dan keluar dari gedung apartemen nya. Dari jauh ia bisa melihat asisten nya yang berdiri di samping mobilnya.
"Bagaimana,?"
Tanya nya pada asisten nya tanpa melihat ke arahnya.
"Aaron seperti nya tak pernah meninggalkan istrinya seorang diri tuan. Dia akan membawa istrinya kemanapun dia pergi tuan."
Rodric mengepalkan tangannya mendengar nya. Pria itu selalu saja unggul dari nya. Apa kali ini ia juga tak bisa merebut kepemimpinan Aaron lagi. Ia pikir Aaron akan lengah dan ia bisa mempergunakan istrinya untuk mengambil kursi kepemimpinan yang selama ini.
Rodric menatap mension mewah Aaron, ia mengeraskan rahangnya mengingat jika Aaron selalu saja menang darinya. Dari segi apapun Aaron lah yang selalu unggul darinya.
__ADS_1
"Aku pasti bisa mendapatkan apa yang ku inginkan Kenan."
*
Di dalam kamar nya, Aaron mengepalkan tangannya saat mendapatkan telpon dari anak buahnya, jika Rodric baru saja mengintai mension nya.
Aaron bangkit dan keluar dari kamar nya.
"Jaga istriku selama aku pergi," Titah Aaron pada bodyguard istrinya.
"Baik tuan..."
Aaron melangkah pergi meninggalkan mension mewahnya. Ia tak akan pernah memberikan kesempatan pada siapapun yang akan menyakiti istrinya. Apalagi Rodric, pria itu dari dulu selalu saja ingin unggul darinya.
Aaron meninggalkan Almira bersama dengan pengawal pribadi nya. Ia tak akan tenang jika Almira terancam. Apalagi Almira sedang marah padanya, dan bisa saja dia pergi tanpa sepengetahuan pengawalnya. Itu sebabnya ia tak akan memberikan celah sedikitpun pada mereka.
Aaron bersama dengan Nathan pergi mengejar mobil Rodric yang baru saja pergi dari mension mewahnya, ia tau apa yang pria pecundang itu ingin kan darinya. Sebelum Rodric melukai Almira ia yang akan lebih dulu membunuh nya tentunya.
Aaron tersenyum miring melihat mobil yang di kendarai Rodric di depannya.
"Tabrak dia.."
Nathan terkesiap mendengar nya, tuan nya ingin mobil ratusan dolarnya menabrak mobil di depannya. Ia melirik ke arah tuannya dan tak lama kemudian ia mengangguk mengerti. Nathan menginjak pedal gasnya full mendekati mobil yang di kendarai Rodric dan tangan kanannya.
"****...."
Rodric mengumpat mobil mewah di belakang yang menabrak mobil nya. Kepalanya terbentur jok di depannya, dan ini karna mobil yang sengaja menabraknya tentunya. Ia menoleh ke belakang dan saat itu juga sebuah peluru mengarah padanya.
Dor....
"Brengsek... Lebih kencang lagi bodoh,"
Rodric mengumpat tangan kanannya yang duduk di kursi kemudi dan menendangnya. Ia mengumpat Aaron yang tiba tiba saja datang di belakang nya dan mengarahkan peluru panas nya. Ia tak mengira jika Aaron akan secepat ini mengetahui kedatangan nya.
Tak lama kemudian ia tersenyum tipis yang tak melihat mobil Aaron lagi di belakang nya.
"Aaron brengsek..."
Sadar jika mobil Aaron masih mengikuti nya, Rodric mengumpat Aaron. Apalagi mobil nya sangat dekat kali ini.
Brakk...
"****..."
__ADS_1
Umpat Rodric dan Aaron tersenyum miring di dalam mobil.
Nathan membenturkan mobilnya pada mobil di samping nya. Tak lama kemudian ia menginjak pedal gasnya lagi, menyalip secepat kilat dan menghadang mobil Rodric.
Brakkk.... Prang....
Nathan menabrak mobil yang di kendarai Rodric di depannya, hingga mobil Rodric hilang kendali dan menabrak pembatas jalan.
Aaron menipiskan bibir nya melihat wajah Rodric yang berlumuran darah keluar dari dalam mobil. Ia keluar dari mobil nya dan melangkah mendekati Rodric.
Click....
Rodric tertawa terbahak melihat Aaron yang tanpa basa-basi mengangkat senjata api miliknya padanya, . Ia menatap wajah Aaron yang menatapnya tajam. Ia tersenyum tipis, Aaron pasti akan membunuhnya saat ini.
"Ku pikir aku juga bisa memiliki istri_"
Bug... Uhukkk....
Rodric memuntahkan darah segar dari dalam mulut nya. Ia tak menyangka jika Aaron akan secepat ini mengetahuinya jika ia datang dan menginginkan istrinya.
"Kupikir aku tak akan membiarkan mu kali ini Rodric."
Dor... Dor...
"****...."
Rodric menatap tangan kanannya nya terkena peluru panas Nathan. Dadanya bergemuruh hebat melihat Nathan yang tersenyum di dalam mobil. Ia menatap Aaron yang menodongkan senjata nya padanya.
Cih...
"Kau tau Aaron, kekasihmu melemparkan tubuhnya padaku. Dia ternyata sangat hebat di ranjang. Aku tau kau pasti sering bercinta dengan nya bukan."
Rodric tertawa terbahak melihat wajah mengeras Aaron padanya. Ia tau Aaron pasti tak rela jika kekasihnya melemparkan tubuhnya padanya, ia yakin itu.
Dan Aaron melebarkan senyumnya, ia menatap wajah Rodric di depannya.
"Kau pikir aku akan marah jika kau bercinta dengan Queen Rodric. Asal kau tau saja, istriku lebih dari segalanya dari siapa pun di dunia ini."
Aaron menatap Rodric datar, Tak lama kemudian ia mengucapkan terima kasih pada Rodric.
"Terima kasih Rodric, kau sudah membantuku."
Dor....
__ADS_1