
Dewa mengusap sudut bibirnya yang pecah akibat kepalan tangan David. Ia sama sekali tak menyangka, anaknya sendiri sama keras seperti dirinya. Ia keluar dari perusahaan terbesar di kota A milik David.
"Brengsek..."
Ia meluapkan amarahnya, yang tak berhasil mengancam David. Sudah dua kali ia gagal datang kemari.
Dari sudut lainnya, seorang wanita cantik tersenyum miring. Ia baru tau jika David adalah putra pria itu.
*
Ting...Tong...
Clek...
Dewa menatap wajah cantik di depannya, untuk apa Luna datang kemari, tanpa ia undang.
Cup....
Tanpa ba-bi-bu, Luna menyambar bibir tua Dewa. Ia mengalungkan tangannya pada leher pria itu dan memperdalam ciuman nya. Mendapat serangan tiba-tiba, Dewa tak tinggal diam. Ia juga menyerang Luna, dengan keahliannya. Mereka sama-sama seperti pasangan pada umumnya. Padahal mereka berdua hanya melakukan hubungan simbiosis mutualisme.
Nafas Dewa memburu, tak biasanya Luna lebih agresif. Ia seperti menemukan Luna yang dulu. Saat pertama kali ia menjadi Sugar Daddy nya. Luna akan gila menaklukan dirinya. Dan sekarang, wanita di atasnya ini juga melakukannya seperti dulu.
Satu jam kemudian pergulatan mereka di ruang tamu berakhir dengan erangan panjang keduanya.
Bruk...
Luna jatuh di atas tubuh polos Dewa, hari ini ia benar benar menunjukan kehebatannya seperti dulu.
Nafasnya memburu akibat lelah yang luar biasa. Kemudian ia mendongak menatap wajah tua Dewa.
Cup...
Lagi, Luna menyambar bibir tua Dewa. Dan dewa sendiri masih melihat ke arah wanita cantik di atas tubuhnya. Tubuh mereka masih menyatu, saat Luna mengecup bibir nya. Terang saja benda di bawah sana bereaksi kembali.
Tak lama kemudian Dewa membalikkan tubuh polos Luna. Menyentaknya lagi, sampai mereka benar benar lelah. Tak hanya itu, Dewa juga membalikkan tubuh Luna, membelakangi. Erangan dan jeritan mereka berdua benar-benar memenuhi sudut apartemen Dewa. Hingga waktu malam mereka baru saja mengakhirinya.
"Sayang kau tidak pakai pengaman."
Luna berbisik mesra saat Dewa melepaskan penyatuan nya. Sedangkan Dewa melirik kearah bawah tubuhnya. Ia mendesah kasar, begitu menyadari bahwa ia lupa memakai pengaman nya. Tak lama kemudian ia menatap wajah Luna.
"Maafkan aku, aku terlalu merindukan mu. Bagaimana jika dia tumbuh di dalam."
Luna membawa tangan Dewa ke perutnya, menunjukan jika permainan kali ini akan menghadirkan sosok bayi.
Dewa menghembuskan nafasnya perlahan, ia sendiri juga lupa dengan hal ini. Apalagi saat Luna menyerangnya tanpa memberinya perlawanan. Itu benar benar membuatnya lupa.
"Apa kau bersedia menikah dengan ku."
__ADS_1
Bibir Luna terangkat, inilah yang di tunggu. Tak sia sia ia datang kemari dan menaklukkan Dewa.
"Jangan terlalu senang Luna, kita hanya menikah siri. Kau tau, aku bukan pria yang setia pada satu wanita. Apalagi aku juga tau, siapa kau sebenarnya. Hanya untuk memastikan bahwa benihku tumbuh atau tidak. Setelah itu kita menikah siri."
Alis Luna mengkerut mendengar penuturan Dewa.
"Apa maksud mu.?"
"Aku akan menikahi mu, saat tau benihku tumbuh. Jika dia tak ada untuk apa kita menikah."
"Brengsek"
Luna mengumpat dalam hati. Ia benar benar ingin menghabisi pria di depannya ini. Ia sampai terkapar, tubuh intinya juga sangat panas dan sakit. Tapi ia tak bisa melancarkan aksinya. Dewa masih tak bisa di taklukan.
" Tapi bagaimana_"
" Ingat Luna, kau bukan wanita yang istimewa untuk ku. Kau tau, aku juga meninggalkan istri dan anakku. Apalagi kau, yang hanya belum tentu mengandung anakku."
Dewa melepaskan tangannya pada dagu Luna. Ia berdiri dan melangkah dengan tubuh yang masih polos. Sementara Luna yang melihat tubuh polos Dewa hanya mengumpat dalam hati. Nafasnya memburu menahan emosi yang memuncak.
*
David menutup laptopnya, tak lama kemudian ia mengusap wajahnya kasar. Ayah nya berani mengancam dirinya, entah apa lagi yang akan pria itu lakukan. Yang jelas ia sangat terganggu. Ia tak ingin Zoya takut padanya, karna melihat ayahnya.
Ia takut jika pria itu menyentuh dan menyakiti Zoya.
" Brengsek, ku bunuh kau jika sampai menyentuhnya."
"Awasi dia, aku tak ingin dia sampai datang ke rumah dan mengancam istri ku."
"Tuan Dewa sudah datang ke rumah anda tuan,"
David menatap tajam pada Rey, giginya gemerutuk menahan emosi.
"Saya tidak tau, tuan Dewa tau dari mana rumah anda. Dia datang mengancam ibu tuan saat nona Zoya di rumah sakit."
"Tua bangka sialan."
David berjalan keluar, tangan nya masih terkepal erat. Dewantara menantangnya, seringai licik di sudut bibir David hadir.
"Tuan Dewa sudah membangunkan singa tidur."
Rey berkata lirih, ia tau siapa David. Apalagi Dewa, sudah dari dulu David dendam dengan nya. Akibat perselingkuhan ayahnya David menjadi pria dingin dan tak tersentuh.
Tak lama kemudian ia mengikuti langkah tuannya. Ia juga merogoh saku celananya. Menghubungi seseorang yang akan menjaga rumah tuan David. Ia tau tuannya mau kemana.
David melangkah lebar menuju ke dalam apartemen pria yang sudah mengusiknya.
__ADS_1
Rey dengan sigap, menempelkan kartu Access pintu apartemen di depannya. Itu adalah hal mudah bagi David meminta Access dari resepsionis.
Brakk...
Tanpa basa-basi David menendang pintu hingga terbuka lebar. Menampilkan dua orang yang sedang bercumbu di ruang tamu.
Sementara dua orang yang sedang memadu kasih kaget dan menoleh ke arah pintu.
Luna melotot kan matanya melihat sosok pria tinggi yang menjulang di depan pintu. Baru saja, ia merayu Dewa kembali agar menikahinya. Ini justru menjadi bumerang baginya.
Dari depan pintu, David tersenyum sinis. Melihat dua orang yang hampir saja telanjang.
Tak lama kemudian ia tertawa terbahak bahak, melihat sosok pria dan wanita yang berbeda generasi.
Ia baru saja mengingat kejadian seperti ini. Perselingkuhan Rania Wilson dan Rangga Yudistira. Pria brengsek yang menyakiti Zoya.
Bukankah ini sangat lucu, ia sudah dua kali menggerebek pasangan laknat.
"Waow emezing, kau sungguh luar biasa Dewantara. Aku salut terhadap mu, kau masih sama seperti dulu."
David berjalan dan mendudukkan dirinya di depan mereka berdua. Sementara Luna ia membenarkan gaun malamnya yang super tipis. Padahal mau benar atau tidak, itu sama saja tak berpakaian. Dewa hanya menatap David yang tiba-tiba datang ke apartemen miliknya.
Cih...
David berdecih melihat Luna, wanita tak tau malu itu, ternyata salah satu mainan Dewa.
"Pasangan yang sempurna,"
"Dav.."
Brakk...
David menendang meja di depannya, sedang kan Luna memekik kaget mendengar meja yang terbalik dan hancur berkeping. Hampir saja, salah satu pecahan kaca itu mengenai dirinya. Ia mengkerut ketakutan melihat tatapan tajam mata David. Mata itu seperti binatang buas yang mengincar mangsanya.
"David..."
Dewa berteriak pada anaknya yang kurang ajar terhadapnya.
Set...
"Jangan berani berteriak padaku, apalagi sampai mengancam ku pak tua. Ingatlah apa yang bisa ku lakukan padamu Dewa."
Dewa memukul tangan David di lehernya, ia kesulitan bernafas. David benar benar akan membunuhnya. Sementara Luna, beringsut menjauh dari David. Ia shock sekaligus takut, saat melihat David mencekik leher Dewa.
David melepaskan tangannya pada leher Dewa. Ia lalu mengibaskan tangannya, kemudian menoleh ke arah Luna yang bergetar ketakutan.
"Aku berterimakasih padamu nona, karna kau Zoya menjadi milikku."
__ADS_1
David tersenyum miring melihat wajah pucat Luna.
"Kau sama saja dengan kakakmu ternyata." Lanjutnya lagi.