
Aaron keluar dari pintu lift bersama dengan Almira di gendongan nya. Seperti nya Aaron akan terbiasa menggendong istrinya seperti ini. Dan Almira juga sudah berulang kali menolaknya, tapi Aaron tetap kekeh menggendongnya.
David menatap Aaron dari jauh, ia menatap menantunya itu saat sudah semakin dekat. Menyipitkan matanya melihat penampilan Aaron dari atas sampai bawah. Masih sama, bentuk dan tubuhnya tak ada yang kurang. Tapi entah kenapa David merasa jika Aaron tak mandi terlihat dari rambut nya yang kering, berbanding terbalik dengan dirinya yang akan pergi ke perusahaan dengan mandi dan membasahi rambutnya.
"Aku merasa kau terlihat seperti kemarin Aaron.?"
Aaron melirik tajam pada David, ia melengos begitu saja tanpa mengucapkan selamat pagi pada mertuanya.dan pergi ke arah meja makan.
Sedangkan Almira yang berada dalam gendongan nya menatap wajah daddy nya menggeleng.
Melihat Almira yang menggelengkan kepalanya David tersenyum miring. Ia mengikuti langkah Aaron yang duduk di kursi makan.
"Bunda mana Dad..?"
"Ya sayang, bunda masak.."
Zoya menyahut di dalam dapur, saat Almira mencarinya.
"Bunda mau masak apa?"
Almira turun dari pangkuan Aaron dan berjalan mendekati Zoya.
Sedangkan David melirik ke arah Aaron, hidungnya mengendus ke depan.
"Aaron apa kau mencium bau,?"
Aaron mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan David.
"Tidak.."
"Pantas saja, kau tak menciumnya, ternyata kau sendiri yang bau, aku tau kau tak mandi."
Aaron melototkan matanya mendengar penghinaan David padanya. Aaron mengangkat tangan nya dan mengendus ketiaknya.
Tak ada yang bau tak mandi juga, bahkan masih wangi.
David menipiskan bibir nya melihat wajah Aaron yang mengendus ketiaknya sendiri.
"Aku akan tetap wangi meski tak mandi satu bulan."
Jawabnya acuh, tanpa melirik.
"Kau yakin, putri ku masih mau dengan mu, jika itu kau lakukan. Aku bahkan akan senang, aku bisa menjodohkan Almira dengan Bastian."
"Kau, apa maksud mu.."
Zoya dan Almira keluar dari dapur, saat mendengar suara bas Aaron yang menggelegar.
"Sayang, dia akan menjodohkan mu dengan anak ingusan itu jika aku tak mandi. Itu tidak benarkan Al,?"
__ADS_1
Almira menatap David dan Aaron bergantian, begitupun dengan Zoya.
"Tak bisakah kalian akur sebentar saja, bukankah Almira akan punya Baby harus nya kalian akur, lagi pula kalian sudah tua."
"Dia duluan.."
Aaron dan David sama sama menunjuk dan saling menyalahkan, tak lama kemudian mereka berdua melengos.
Aaron menggerutu bibirnya, menyalahkan David dan mengumpat nya.
"Jika bukan suami ibu mertuaku sudah ke tendang dia."
David mendelik mendengar nya, bibir nya hendak menyemburkan kata kata sarkas nya pada Aaron. Tapi Zoya menggelengkan kepalanya melihat David.
"Sayang..."
Manja Aaron mengadu pada Almira agar mendekatinya. Dan Almira sendiri hanya menghembuskan nafasnya perlahan lalu mendekati suaminya.
"Apa Om bau,? Uh dia tak tau penderitaan ku Al."
Byurr....
David menyemburkan jus yang baru saja masuk ke dalam mulutnya, mendengar aduan Aaron pada Almira, benar benar membuatnya muntah.
"Mas kau ini apa apaan..!"
Zoya menggelengkan kepalanya melihat David menyemburkan jus jeruk darinya.
"Kau ini kenapa, kau iri padaku kan, aku manja dengan istriku sendiri, bukan dengan istri mu."
"Kau.."
Seru David melotot dan di balas dengan dengusan Aaron. Aaron tak perduli ia mengambil bubur jagung milik nya dan menyuapkan sendok pada mulut Almira bergantian dengan mulutnya sendiri. Ia tak perduli dengan pelototan David padanya. Bukankah ia benar, manja dengan istrinya bukan dengan ibu mertua nya.
"Aaron apa kau selalu muntah di pagi hari,?"
"Ya,"
Jawabnya acuh, tak melihat ke arah Zoya, malas pikir nya.
"Om, Al mau di campur dengan saus."
Aaron mengangguk dan menuangkan saus ke dalam mangkuk bubur nya. Zoya dan David bergidik ngeri melihat tampilan bubur yang sangat aneh di mata mereka.
"Ku rasa kau mengalami kehamilan simpatik."
Aaron menoleh ke arah Zoya, keningnya mengkerut mendengar perkataan Zoya. Kehamilan simpatik, yang seperti apa?
"Apa itu,?"
__ADS_1
"Seperti nya kau yang mengidam dan merasakan gejalanya "
David terbahak mendengar penuturan istrinya, ia melihat wajah Aaron yang masam mendengar penuturan Zoya. Kali ini David lah pemenang nya dan akan melihat penderitaan Aaron. Pria brengsek yang menjadi menantunya itu.
"Sayang aku semakin betah tinggal di sini."
Ucap David pada Zoya, yang tak menyembunyikan senyum lebarnya. Dan Aaron sendiri melihat bibir lebar David rasanya ingin menjejeli dengan kaus kakinya.
"Benarkah, tapi kenapa aku juga takut air, nasi dan matahari, apa itu juga termasuk mengidam.?"
Zoya mengangguk mengiyakan, dan Aaron mendesah lirih. Ia menatap David yang semakin melebarkan bibirnya. Bibirnya mengumpat David, yang menertawakan nya.
"Sepertinya aku juga alergi melihat papa mertua."
Seketika senyum lebar David hilang dari bibir nya. Ia menoleh dan melotot pada Aaron.
"Selamat pagi tuan David dan nyonya Zoya."
David melirik ke arah Nathan, asisten Aaron yang sama kurang ajarnya padanya menurut nya. David masih belum terima dan masih gondok saat mengingat jika Nathan lah yang membantu Aaron untuk menikahi Almira.
"Pagi tuan Nathan, ayo duduk tuan kita makan bersama."
"Tidak nyonya terima kasih, saya hanya menjemput tuan Aaron ke perusahaan."
Aaron melirik, ia sama sekali tak senang pergi ke perusahaan. Apalagi saat Almira yang tak ikut dengan nya.
*
"Tuan, kemarin tuan Dirga mencari keberadaan Rodric. Sepertinya nona Queen hamil, hingga tuan Dirga mencari keberadaan Rodric."
Aaron mendesah lirih, ia sebenarnya tak tega melihat Queen. Tapi ia tak mencintai wanita itu. Queen hanya teman ranjang nya, dan ia sama sekali tak pernah merasa spesial bersama Queen. Sama dengan wanita yang selalu memuaskan hasrat birahinya. Ia hanya menganggap mereka sebagai alat untuk memuaskannya saja tak lebih.
"Aku tak perduli,"
Nathan melirik ke arah tuannya. Ia yakin jika Aaron juga tau jika Rodric lebih brengsek. Pria itu dimana mana punya anak. Dan ia juga pernah mendengar jika Rodric pernah memperkosa putrinya sendiri.
Sampai di perusahaan miliknya, Aaron melangkah lesu. Tubuh kekar nya lemas dan tak bertenaga. Belum sampai di ruangan pribadi nya, ia sudah berulang kali muntah di lobi perusahaan.
"Kenapa kau tak ikut sayang.."
Nathan menggelengkan kepalanya melihat Aaron yang melangkah tak berminat. Ia merasa jika Aaron sangat lebay dan ingin menempel terus pada nyonya Almira. Ia sendiri sebal melihat tingkah tuannya yang terlewat menyebalkan.
"Tuan investor dari Dubai siang ini akan datang ke perusahaan."
"Kenapa tak lain kali saja, kau lihat, aku masih sakit bodoh, dan istriku juga tak ikut kemari."
Semburnya pada Nathan yang bodoh menurut nya. Asisten nya itu benar benar akan menyiksanya.
"Kurang ajar..."
__ADS_1
.
.