
Zoya mematut dirinya di depan cermin besar. Ia tersenyum tipis melihat bentuk tubuhnya yang sangat jauh berbeda dari kehamilannya yang dulu.
Tak lama kemudian David keluar dari kamar mandi, ia melotot melihat istrinya sangat cantik memakai gaun syar'i miliknya, dan lagi sangat seksi. David menatap tak berkedip pada istrinya yang berdandan sangat cantik.
"Sayang kenapa kau pakai baju yang seperti itu,?"
Zoya berbalik dan menatap wajah suaminya.
"Terus aku harus pakai apa? Hanya ini yang besar dan muat sama tubuhku mas." David menatap tak percaya lagi. Dan Zoya, balas menatap tajam pada suaminya. Ia melebarkan bibirnya melihat mata istrinya melotot padanya, tak ingin Zoya marah lebih baik ia diam.
"Iya, ayo berangkat."
David mengalah akhirnya, wanita hamil memang sangat sensitif. Tak heran, semenjak hamil istrinya sering mendelik padanya.
"Bunda Zoya dan mas David berangkat dulu,"
"Hati hati sayang, jangan malam malam pulang nya." Mereka mengangguk dan berjalan keluar. Sinta sendiri menatap punggung kedua nya. Entah kenapa ia seperti tak rela anak dan menantunya pergi. Tapi tak lama ia menggelengkan kepalanya mengusir pikiran buruk yang hingga di kepalanya. Mereka akan baik baik saja, lagi pula hanya ke pesta pernikahan.
Di depan, Ujang sudah menunggu mereka berdua bersama mobil yang akan mengantarkan tuannya ke pesta pernikahan.
"Neng Zoya sangat cantik,"
David melotot mang Ujang memuji istrinya. Sementara Zoya sendiri tersenyum lebar, pada mang Ujang.
"Perhatikan jalannya,"
Ujang mengkerut mendengar suara bas David. Ia lupa jika tuannya ada di sampingnya. Tak lama kemudian Ujang fokus pada jalan yang di tuju. Satu jam kemudian, mobil yang di tumpangi Zoya dan David sampai di lobi hotel.
"Ingat sayang, kau tak boleh berpelukan pada siapapun di sana."
Zoya menatap David jengah, dari tadi suaminya mengatakan jika ia tak boleh bersentuhan dengan siapapun. Memang nya ia juga mau berpelukan dengan sembarang orang apalagi pada pria.
"Iya.." Lebih baik mengiyakan ucapan suaminya, dari pada mereka pulang kembali ke rumah dan tak jadi bertemu dengan Bisma dan Arum.
David menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam gedung dan mencari di mana mereka mengadakan pesta pernikahan.
__ADS_1
David berganti melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya. Ia tak suka melihat mata tajam pria lain menatap Zoya tak berkedip. Zoya sendiri diam saja, ia tau David sangat cemburu, melihat mata mereka beralih menatapnya.
"Zoy,!"
Zoya beralih menatap wajah wanita paruh baya yang datang menghampiri nya. Bersama dengan Arsy, adik Bisma. Arsy sendiri menatap ke arah David yang melingkarkan tangannya pada pinggang lebar Zoya. Arsy tersenyum masam melihatnya. David sama sekali tak melirik ke arah nya. Apalagi tersenyum padanya, pria ini begitu mencintai Zoya, padahal Zoya adalah janda. Entah apa yang Zoya berikan pada David sehingga David sampai tergila gila padanya.
"Bunda apa kabar, maaf kan Zoya tak pernah mengunjungi bunda."
"Tidak apa sayang, ayo temui Bisma, dia pasti senang kau datang." Zoya mengiyakan dan ia menatap David di sampingnya. Tak lama kemudian mereka pamit pada wanita paruh baya yang menyapanya. Sementara Rita sendiri menghembuskan nafasnya perlahan. Mengingat jika Bisma masih mencintai Zoya, ia hanya bisa pasrah, jika Zoya bukanlah jodoh putranya. Ia menatap Zoya dan suaminya yang berjalan kearah panggung di mana Bisma dan istrinya berdiri menyambut tamu undangan.
Dari jauh, Bisma tersenyum lebar melihat wanita cantik dengan perut buncit, berjalan ke arah nya. Matanya tak berkedip melihat Zoya malam ini sangat cantik. Padahal istri yang berdiri di sampingnya juga tak kalah cantik. Entah kenapa Zoya lebih cantik dari pada Arum yang berdiri di sampingnya.
Bisma memang tak bisa menghilangkan begitu saja cintanya pada Zoya. Cinta itu tulus dan semakin berkembang. Sementara Arum yang melihat mata suaminya yang tak berkedip melihat ke depan, ia ikut menoleh kearah pandangan Bisma. Arum juga tak berkedip melihat wanita yang berjalan ke arahnya dengan perut buncitnya.
Apa wanita ini yang selalu mas Bisma ceritakan, dia memang sangat cantik.
Arum meremas gaun pengantin nya, saat melihat wajah cantik AZZOYA. Ya Arum memang tau tentang Zoya yang di cintai Bisma. Sebelum nya Bisma sudah mengatakan nya jika dia sangat mencintai Zoya. Tapi Arum, menerimanya dengan sepenuh hati, ia tau Bisma tak akan mencintainya, dia hanya mencintai Zoya. Wanita yang dia kenal dulu sebagai janda anak satu. Tapi Zoya memilih menikah dengan David Aderson. Pria yang terkenal dengan sebutan pebisnis muda.
"Zoy.."
Lamunan Arum buyar saat mendengar suaminya berseru. Ia menatap wajah cantik Zoya yang sudah di depannya.
"Mas Bisma, selamat ya."
Bisma mengangguk dan tersenyum, tangan nya menyambut tangan Zoya, tapi David menyambar nya lebih dulu. Bisma tersenyum kecut, melihat suami Zoya yang posesif.
Zoya sendiri tersenyum tipis, ia merasa tak enak pada Bisma. Ia beralih pada Arum.
"Kamu cantik sekali,"
"Terima kasih mbak," Arum tersenyum tipis, pantas saja Bisma sangat mencintai Zoya. Wanita di depannya ini jika di lihat dari dekat sangat cantik. Dan tutur katanya sangat lembut.
"Ayo sayang,"
David melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya, matanya tak beralih menatap Bisma. Tak ingin pria ini mencuri curi pandang pada istrinya.
__ADS_1
"Mas Bisma, Arum maaf Zoya tak bisa berlama lama."
"Gak apa-apa mbak, terima kasih sudah datang ke pernikahan kami."
Zoya memeluk Arum seperti adik sendiri, begitu pun dengan Arum.
Bisma melirik ke arah Zoya yang memeluk Arum. Ia menghembuskan nafasnya perlahan. Zoya memang benar benar cantik, dadanya masih berdebar saat berdekatan seperti ini. Entah sampai kapan ia bisa menghilangkan cinta di hati nya pada Zoya.
"Perhatikan pandangan mu.?"
Bisma menunduk, ketahuan melirik kearah Zoya, sedangkan David membawa istrinya segera turun dari panggung, ia tak ingin Bisma lebih lama lagi memandang istrinya.
"Sayang kita langsung pulang ya."
Zoya mengangguk mengiyakan, mereka berdua mencari keberadaan ibu Rita, sebelum pergi. Lalu berpamitan pada wanita paruh baya pemilik pesta tersebut.
Sedangkan Ujang sendiri menguap berkali kali. Gara gara semalam nonton bola sampai pagi dan sampai saat ini dia belum memejamkan matanya.
"Kita pulang,"
Ujang mengangguk dan membukakan pintu pada kedua majikan nya.
Ujang menggelengkan kepalanya mengusir rasa kantuknya yang menyerangnya. Di belakang David menggerutu sedari tadi. Ia mengutuk Bisma yang lancang mencuri pandang pada istrinya.
" Istrinya sendiri ada, kenapa menatap istri orang, menyebalkan."
Zoya sendiri menulikan pendengaran nya. Ia menggeser bokongnya merapat pada suaminya.
Cup...
"Jangan marah lagi, aku hanya milik mas David."
David tersenyum lebar, ia mengecup pipi istrinya berkali-kali.
Sementara di depan, Ujang bertambah pusing, berulang kali ia menggelengkan kepalanya agar fokus pada jalan di depannya. Tak lama kemudian, dari depan mobil truk besar melaju dengan kecepatan tinggi. David terkesiap melihat sorot lampu kearahnya begitu pun dengan Ujang di depan.
__ADS_1
"Tidak Zoya...." Zoya menoleh mendengar suaminya berteriak, dan...
Brakkk......