Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 73


__ADS_3

Aaron melangkah lesu masuk ke dalam mension mewah milik nya. Ia melirik ke arah Nathan yang berdiri di depan pintu mension membawa berkas di tangan nya.


"Simpan saja di mejaku.." Titahnya tanpa menoleh lagi. Sedangkan Almira yang berjalan di belakang nya tersenyum pada Nathan.


"Tuan kenapa harus keluar bukankah anda akan sakit jika terkena sinar matahari.?"


Aaron berhenti melangkah, ia menoleh ke arah Nathan dan menatap tajam pada nya.


"Aku tak akan sakit jika keluar bersama istri ku bodoh." Sembur nya.


Nathan berjengit mendengar bentakan Aaron padanya. Ia menunduk melihat mata tajam yang menyorot padanya.


"Salah lagi.." Lirih Nathan.


Sementara Almira menggelangkan kepalanya, ia mengikuti langkah lebar suaminya. Wajahnya berseri-seri mengingat jika ia akan menjadi seorang ibu.


"Semoga saja wanita itu tau jika Al hamil anak om Aaron, dan tak mengganggu rumah tangga kami lagi." Gumamnya dalam hati, ia yakin sebagai sesama wanita tak mungkin Queen akan mengganggu rumah tangga nya, apalagi saat ini ia hamil.


Ia percaya jika sebenarnya, Queen bukan lah wanita yang buruk. Semoga saja apa yang di pikirkan tentang Queen benar adanya.


Aaron membaringkan tubuh besar nya di ranjang milik nya. Matanya terpejam membayangkan bagaimana jika Almira yang kesakitan saat melahirkan nanti. Ia menghembuskan nafasnya perlahan, itu artinya bibitnya langsung menjadi kecambah saat ia menggagahi Almira untuk pertama kalinya.


Almira sendiri merasa sedih melihat Aaron yang sepertinya tak suka dengan kehamilan nya.


"Om tidak suka Al hamil..?"


Aaron membuka matanya kembali, ia menarik tangan Almira lembut agar berbaring di dadanya. Melepaskan jilbab milik istrinya dan mengelus kepalanya sayang.


"Om sangat bahagia sayang, tapi Om takut Al. Om tak bisa melihatmu sakit sayang."


Almira mendongak menatap wajah suaminya. Ia terharu mendengar suaminya menghawatirkan dirinya. Tangan nya mengusap rahang tegas Aaron dan melabuhkan bibirnya di sana.


Cup..


"Kenapa harus takut, semua wanita pasti akan merasakan sakit. Al percaya, jika Tuhan sudah menitipkan malaikat kecil di sini itu artinya kita di berikan kepercayaan nya, Hubby..."

__ADS_1


Ucapnya membawa tangan Aaron pada perut datar nya.


Sedangkan Aaron terbelalak mendengar Almira memanggil Hubby. Itu terdengar sangat manis di telinga nya.


"Al panggil apa,?" Tangan nya menangkup wajah cantik Almira, matanya menatap tak berkedip menatap bibir mungil yang selalu ia sesap dan membuatnya candu.


"Hubby...."


Aaron menggulingkan perlahan tubuh Almira dan menindihnya. Hati nya berbunga bunga mendengar Almira memanggil Hubby padanya.


Rasa bahagia yang berujung pergulatan panas di sore hari. Aaron perlahan akan membuang rasa takut nya. Ia harus bisa menyenangkan istri dan menyayangi nya. Jika Almira bersedia menjadi ibu untuk nya kenapa ia harus merasa sedih dan takut.


Ia yakin jika Almira tak akan meninggalkan nya. Almira akan menemani nya sampai rambutnya memutih dan memberikan nya anak yang sangat banyak.


Uhhh...


Tubuh Aaron semakin terbakar gairah mendengar suara merdu istrinya. Tak ingin menyakiti Almira dan janin yang berada dalam kandungan nya, ia bergerak secara perlahan.


Aaron lupa jika mertuanya datang berkunjung di mension mewahnya. Jika ia ingatpun ia tak perduli keberadaan mereka.


Ia menggempur istrinya di ranjang besar milik mereka.. Percintaan panas yang luar biasa bagi Aaron. Apalagi saat mengingat Almira memanggil nya dengan sebutan Hubby. Itu terdengar sangat manis di telinganya.


Aaron memang semakin hari di buat gila oleh Almira. Tubuh istrinya memang membuatnya candu dan ingin selalu menyentuhnya. Tangan nya juga bergerilya kesana kemari,. Apalagi melihat ukuran buah yang menggantung semakin besar, Aaron bertambah gemas di buatnya.


Sedangkan Almira sendiri tubuhnya merespon sentuhan sentuhan tangan dan bibir Aaron bersama dengan hujaman di bawah sana. Suara merdu yang keluar dari bibir mungilnya sangat menggoda di telinga Aaron.


"Uhh.. sayang..."


Aaron bergerak cepat saat merasakan sesuatu yang akan meledak.Tak lama kemudian ia menggeram bersama dengan Almira yang mendesah panjang, mengakhiri pergulatannya di sore hari.


Nafas Aaron memburu, tangan nya mengusap wajah cantik Almira yang berkeringat. Ia mengecup seluruh wajah dan tubuh polos Almira yang berkeringat.


"Sayang apa Baby nya sakit..?"


Almira menggelengkan kepalanya, ia meringis saat Aaron melepaskan penyatuan mereka.

__ADS_1


"Kau sangat seksi Al,"


Almira mendelik tajam pada Aaron, ia mencebikkan bibirnya dan menutup kedua pahanya.


"Sayang tunggu sebentar,"


*


Aaron terperanjat saat menyadari jika Almira tak ada di sisi nya. Ia juga baru ingat jika kedua orang tua istrinya ada di sini. Tangan nya menyambar pakaian milik nya dan memakainya asal, ia keluar kamar milik nya tanpa melihat keadaan dirinya yang terlihat acak-acakan. Jangan sampai David dan Zoya membawa Almira pergi dari nya.


Aaron menuruni anak tangga dengan langkah lebar dan cepat. Mencari-cari keberadaan istrinya dan orang tuanya.


Tak lama ia bernafas lega saat melihat mereka bertiga di ruang keluarga.


David melirik ke arah Aaron, yang berjalan mendekati mereka. Ia mendengus saat melihat rambut Aaron yang berantakan khas bangun tidur.


"Sayang,.."


Aaron mendudukkan dirinya pada karpet bulu di samping Almira. Bergelayut manja pada istrinya, ia pikir David akan membawa Almira pergi meninggalkan nya. Ternyata istrinya masih ada di mension mewahnya. Tentu saja ia tak mau kehilangan istri dan calon buah hati nya. Dia tak akan memberikan celah pada David untuk membawa istrinya pergi dari nya.


David menatap Aaron tajam, ia ingin muntah melihat tingkah pria menyebalkan seperti nya.


"Apa kau tak bisa duduk jauh dariku. Aku ingin muntah melihat tingkah mu."


Zoya menghembuskan nafasnya perlahan, sampai kapan suami dan menantunya itu akur.


"Mas,..."


David bangun dan menggeser tubuhnya menjauhi Aaron. Bibirnya tak berhenti mengumpat pria yang menyebalkan di matanya.


"Andai saja bukan dia ayah dari cucuku, aku pasti akan sangat bahagia." Gumamnya lirih, dan Aaron masih bisa mendengar nya.


Kakinya bersilonjor dan mengenai David, sengaja tentunya.


Buk...

__ADS_1


"Kau..."


.


__ADS_2