
Aaron berjalan mengikuti langkah pria paruh baya yang semalam datang ke hotel tempatnya menginap. Ia menatap banyak nya kerumunan anak anak yang memakai baju panjang dan kerudung yang sama.
"Maaf tuan, ini adalah pondok pesantren, kami mengajar para santri. Dan sebelah timur di sana santri prianya, kita akan kesana, mari."
"Janu, dia yang ayah ceritakan pagi tadi."
Janu mengangguk mengerti. Ia mendongak menatap pria yang lebih tua darinya. Ia tersenyum tipis, melihat wajah tampan pria di depannya ini. Pasti banyak wanita di luar sana yang mengejar pria itu. Terlihat banyak nya santri yang menatap Aaron tak berkedip.
"Mari tuan, lewat sini."
Aaron mengangguk dan mengikuti langkah nya. Banyak kasak kusuk santri yang terdengar di telinga tajamnya, tapi ia tak perduli. Baginya hanya Almira lah yang bisa merubah keyakinan nya.
Ia akan membuang rasa malunya jika mereka melihat dan memotong miliknya.
Sedangkan Nathan mengikuti langkah tuannya dari belakang. Ia tak menyangka jika Aaron akan nekat sampai sejauh ini. Padahal sebelumnya, Aaron akan sangat mudah membunuh seseorang yang mengusik nya. Tak perduli dengan dosa dan sebagainya. Tapi hari ini, demi gadis beliau ia akan merubah keyakinan nya.
Aaron mengikuti langkah Janu yang berbelok dan masuk ke dalam. Mata tajam nya melirik tempat yang terbilang cukup kecil, ada ranjang panjang dan kasur tipis di atasnya. Ia bertanya tanya, untuk apa mereka membawanya kemari. Apa milik nya akan di potong di sini.
"Tuan silahkan anda mengganti celana anda dengan ini."
Aaron menatap malas pada kain lebar berwarna coklat tua. Untuk apa dia mengganti celana nya dengan kain usang itu.
"Tuan, jika hati anda masih ragu_"
"Ya,"
Aaron menyambar kain yang di berikan oleh nya. Hari ini, ia akan memangkas miliknya. Aaron berbalik lagi, menatap pria yang lebih muda sedikit darinya.
"Kapan milik ku akan sembuh."
Janu tersenyum tipis, rupanya pria ini sangat tak sabaran.
"Tergantung tuan, jika anda tak banyak bergerak, akan sembuh dalam tiga hari."
Aaron mengangguk dan berjalan lagi. Ia pikir hanya tiga hari itu tak masalah. Setelahnya ia akan memperjuangkan Almira.
Sepuluh menit kemudian, Aaron berbaring di pembaringan sempit dan panjang. Ia menatap wajah tiga paruh baya di depannya ini, dan satu pria yang lebih muda dari dirinya. Aaron mengumpat mereka semua. Demi Almira ia menjadi tawanan para pria paruh baya di depannya ini.
"Ingat, jangan sampai memangkasnya terlalu banyak. Aku tak mau istriku nanti tak puas dengan ku."
Mereka semua tersenyum dan menggeleng mendengar ucapan Aaron. Tubuh Aaron menegang dan ia mengumpat lagi saat mereka membuka kain yang ia kenakan.
"Brengsek... Singkirkan tangan kalian."
Janu tersenyum tipis, tak lama kemudian mereka semua melihat ke arah wajah Aaron serempak.
"Apa..."
"Tidak tuan.."
__ADS_1
"Awas saja, jika kalian memangkasnya terlalu banyak. Ku bunuh kalian semua." Ancamnya lagi, sampai matanya melotot menatap mereka satu persatu.
Lima belas menit kemudian...
"Alhamdulillah..."
Janu menatap wajah Aaron tak percaya. Ia lalu mengarahkan pandangannya lagi pada milik Aaron. Tak lama kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Tuan Aaron semua nya sudah selesai."
"Benarkah... " Aaron bingung kenapa hanya sebentar dan tidak sakit. Ia menatap wajah mereka lagi. Melihat kebingungan Aaron Kyai Abu tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Aaron bernafas lega, ia lalu berteriak memanggil nama asisten nya.
"Nathan.."
Brakk..
Nathan yang di panggil tuannya masuk ke dalam menendang pintu. Hingga mereka semua berjengit kaget mendengar nya, kecuali Aaron. Nathan menendang pintu kecil saat mendengar tuannya memanggilnya. Ia menatap tajam pada tiga pria yang berdiri di dekat tuannya.
"Berikan uang nya,"
Nathan melirik ke arah tuannya. Ia tak mengerti apa mereka sudah selesai. Kenapa tuannya baik baik saja dan tidak terdengar suara teriakannya.
", Nathan..." Bentak Aaron menggelegar pada Nathan. Hingga ketiga pria di dekatnya berjengit kaget lagi. Kyai abu menggelengkan kepalanya mendengar pria yang duduk di ranjang.
"Maaf tuan, sebelumnya. Kami tak menerima sepeser pun atas apa yang kami lakukan. Kami dengan senang hati membantu anda."
Aaron memicingkan matanya tajamnya. Kemudian ia mendesah kasar saat melihat senyum pria yang datang ke hotel tempatnya menginap.
"Itu bukan hutang tuan, justru kami senang membantu anda, yang ingin memeluk keyakinan kami." Jawab Kyai Abu.
"Ya sudah terserah kalian."
Aaron menjawab acuh, ia lalu mendudukkan dirinya sendiri dan menatap pada miliknya. Ia melotot melihat milik nya yang masih utuh tidak di potong dan hanya berubah bentuk.
"Kalian tidak memotong nya hanya merubahnya." Tanyanya kemudian. Dan itu membuat Nathan penasaran mendengarnya.
"Di potong tuan, hanya sedikit."
Aaron tersenyum lebar, itu artinya milik nya masih utuh sempurna. Almira pasti akan menyukai milik nya yang panjang dan tidak terpotong, apalagi bentuk nya yang semakin bagus.
Melihat senyum di wajah Aaron Juna menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian ia juga keluar dari sana meninggalkan Aaron dan Nathan.
Setelah mereka bertiga keluar, Nathan mendekat dan mengintip milik tuan nya yang berubah bentuk katanya. Tapi sebelum Nathan dapat melihatnya. Aaron lebih dulu mengancamnya.
"Jauh kan matamu dari sana."
Nathan berjangit dan menunduk takut. padahal ia hanya penasaran kenapa tuannya tak merasa sakit saat miliknya di potong oleh mereka.
*
__ADS_1
Queen berjalan memasuki gedung perusahaan terbesar di Venesia. Setelah tak berhasil menemukan Aaron di mension mewahnya. Dua hari kemudian ia mendatangi perusahaan Aaron kembali.
"Rosa di mana kekasihku berada."
Rosa mendongak menatap Queen yang datang kembali.
" Tuan Aaron tak ada, dia belum kembali." Jawabnya penuh permusuhan. Masih teringat saat Queen menampar wajah cantik nya. Tangannya terkepal erat di bawah meja melihat wanita yang di bencinya.
"Jangan berbohong pada ku Rosa, katakan padaku di mana Aaron berada. Atau aku akan mengatakan pada kekasihmu jika kau menyelingkuhi nya."
Rosa melotot mendengarnya, ia mengumpat Queen yang mengetahui dirinya. Kekasih tuannya itu ternyata diam-diam memata-matai nya.
"Tuan Aaron ke Indonesia,"
Queen mengerutkan keningnya mendengar penuturan Rosa. Untuk apa Aaron datang ke sana. Jika dia ingin melihat Fashion show yang akan ia ikuti harusnya lima hari lagi. Dan kenapa Aaron juga tak mengatakan jika dia juga mau kesana.
Queen berbalik dan pergi meninggalkan Rosa yang menatapnya benci. Queen tak perduli, ia akan menyusul Aaron sekarang juga. Lagi pula ia bisa menyiapkan semua nya dari sekarang.
Queen tersenyum lebar, mungkin kah Aaron ingin memberinya kejutan untuk nya hingga dia datang terlebih dahulu ke Indonesia.
"Kau ingin memberiku kejutan Honey."
Senyum lebar menghiasi wajah Queen sepanjang jalan keluar dari ruang pribadi CEO. Sampai Queen tak fokus para karyawan Aaron menyapanya. Ia hanya menatap lurus dan tersenyum lebar. Terlalu bahagia, saat mengingat bagaimana Aaron akan memberinya kejutan untuk nya.
Sampai di apartemen mewahnya Queen tak menghilangkan senyum lebarnya. Ia menelpon asisten nya agar mencari tiket pesawat terbang sekarang juga.
Queen menatap benda yang tersimpan di ranjang milik nya. Ia lalu mengambil dan berjalan ke kamar mandi. Melepaskan semua pakaian milik nya dan masuk ke dalam bathub dengan air yang sedikit.
Ahhh...
Queen mendesah lirih, tangan lentiknya mengusap milik nya sendiri. Sebagai wanita dewasa, ini lah yang biasa Queen lakukan. Memuaskan dirinya sendiri dengan jari milik nya sendiri dan sebuah alat di tangan nya.
Queen sudah melakukannya lama, sebelum bertemu dengan Aaron. Dia sudah melakukan nya sendiri. Dia berpikir lebih baik dengan jari tangan nya dan benda yang berada di tangan nya. Dari pada dengan pria hidung belang di luar sana, sebelum bertemu Aaron tentunya.
Queen jatuh cinta pada Aaron untuk pertama kalinya ia melihatnya. Queen sendiri, sudah lama tak memakai dengan benda di tangan nya. Ia akan datang pada Aaron dan tentunya akan bergumul dengan kekasihnya. Tapi tidak dengan kali ini, rasa bahagia membuncah mengingat Aaron yang akan memberinya kejutan padanya.
Mengingat itu Queen terbakar gairah dan melakukan sendiri lagi di kamar mandi.
Ahhh...
Queen mendesah saat ia menekan benda di tangan nya. Tangan lainnya juga meremas bergantian gunung kembarnya sendiri.
******* dan jeritan Queen di kamar mandi adalah tanda bahagia nya dirinya kepada Aaron. Hingga setengah jam kemudian ia menjerit keras dan menegang saat puncak pertamanya datang menghantam dirinya.
Nafasnya memburu menikmati milik nya yang berkedut hebat tadi. Ia mengeluarkan benda itu dan membersihkan dirinya di bawah shower kemudian. Bersenandung ria sambil menyabuni tubuh polosnya. Queen terlalu bahagia, ia berpikir Aaron akan menikahinya dalam waktu dekat ini.
.
Tinggalkan jejak lagi bunda, beri VOTE dan hadiah.
__ADS_1
lop yu 😘
.