Heart For My Sister

Heart For My Sister
Keberanian Viona


__ADS_3

“Cepat katakan! Siapa ayah dari anak itu? Viona, cepat katakan! Jangan bilang jika itu adalah saya. Sebab saya tidak akan pernah mau menganggapnya!” Kasar Axel membuang wajah Viona yang ia cengkram. Viona tak tahu harus melakukan apa lagi saat ini.


Tuhan mengapa takdir begitu jahat? Baru saja rasanya Viona mendapat kebahagiaan dengan kehadiran sang ayah yang mengunjunginya dan makan malam bersama, kini kepulangan sang ayah justru kembali membangunkan harimau penguasa hutan yang sudah lama tertidur. Viona terisak merasakan wajahnya begitu saja di buang kasar oleh Axel setelah mencengkram begitu kuatnya.


Viona hanya menunduk duduk di sofa bed tempatnya saat ini. Sementara Axel berdiri menatap sang istri dengan tatapan yang begitu kesal. Belum hilang rasa dukanya pada kepergian Tiara, kini ia justru mendapat kabar jika sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah. Rasanya benar-benar ujian sangat mengaduk-aduk perasaan Axel. Ia belum siap menerima pernikahan ini, bagaimana mungkin ia harus menjadi seorang ayah dari anak yang lahir melalui wanita yang bukan ia inginkan.


“Tiara, kenapa kau menghukumku seperti ini? Apa salah jika aku memiliki cinta untukmu? Mengapa seperti ini semua jalannya?” Jeritan hati Axel sembari menatap Viona yang hanya bisa menangis menundukkan kepalanya.


Enggan berlama-lama di kamar itu, Axel pun bergegas meninggalkan kamar dengan menghempas daun pintu kamar itu. Viona hampir terloncat begitu mendengar kasarnya pintu tertutup. Tangannya mengusap dadanya pelan berusaha menenangkan diri.

__ADS_1


“Perutku kenapa ini?” gumamnya kala merasakan nyeri sedikit. Viona tak mau mengambil resiko, ia pun bergegas baring mengistirahatkan diri dan pikiran.


Satu minggu setelah kejadian tersebut, Axel tak pernah lagi terlihat di hadapan Viona. Kini pria itu tak lagi pulang larut malam. Ia sudah mulai tenang tidur di kamar yang penuh dengan kenangan Tiara.


Dan ini adalah malam dimana Tiara kembali merasakan gelisah yang luar biasa. Tepat pukul dua belas malam, Viona terbangun. Ia berjalan menuju mesin cuci dan mencari pakaian kotor. Yah, pakaian Axel yang saat ini menjadi target wanita itu seperti biasa.


Memeluk dan mencium baju kotor sang suami adalah obat penenang yang Viona rasa bisa membuatnya tidur lelap sampai pagi. Namun, malam ini ia terlambat mengambil pakaian kotor sebab ketiduran saat menunggu pelayan meninggalkan tempat cucian baju.


Di sana sini Viona melihat tak ada keranjang pakaian. Itu artinya ada di dalam kamar sang pemilik baju.

__ADS_1


“Kalau aku masuk dan ketahuan, Kak Axel akan sangat marah besar. Tapi kepala ku sangat pusing saat ini. Aku butuh baju itu.” Viona merasa tak bisa lagi mengendalikan keinginannya hingga kakinya pun melangkah menuju kamar dimana Axel tidur saat ini.


Jelas ingatannya dimana pria itu tidak pernah mengijinkan pelayan membiarkan Viona memasuki kamar tersebut. Viona memejamkan mata saat tangannya memutar handle pintu kamar tersebut. Berharap tak membuat sang pemilik kamar bangun dan mengetahui aksi nekatnya itu. Berdebar jantung Viona saat pintu kamar ternyata berhasil ia buka tanpa susah payah.


Namun, tatapannya kecewa saat melihat keranjang baju tak ada pakaian kotor di sana. Dan manik mata itu berbinar kala melihat sosok pria tampan justru berbaring dengan mata terpejam menghadap ke arahnya. Entah apa yang ada di pikiran Viona, kini langkah kakinya justru bergerak untuk menuju ranjang.


“Huh akhirnya aku bisa tenang. Aroma yang sangat enak.” gumam wanita berbadan dua itu memejamkan mata saat menghirup aroma tubuh Axel dari arah belakang.


Tidur mendekatkan diri dengan sang pemilik tubuh rasanya ternyata sangat menyenangkan untuk Viona dan juga sang buah hati. Rasa takutnya pun hilang dalam sekejap.

__ADS_1


__ADS_2