
Bibir Viona melengkung setelah menatap Axel di sampingnya. Ia tersenyum melihat kedatangan sang ibu ketika turun dari mobil. Tanpa Viona tahu jika dada sang ibu begitu tidak tenang saat ini.
“Ibu,” Viona berjalan menggendong sang anak mendekati Nada.
Ia tersenyum tanpa memperhatikan bagaimana ekspresi sang ibu yang nampak pucat. Tentu saja Nada sangat gelisah saat ini.
Tubuhnya bahkan tidak bisa merespon kala mendapat pelukan dari sang anak.
“Viona kangen banget suasana di rumah ini. Kita masuk yah Bu?” sahutnya bertanya hingga pegangan tangan di lengan Nada terlepas begitu saja saat suara teriakan terdengar mengejutkan semua orang.
“Berhenti menyentuh anakku!” Suara teriakan wanita tua yang terdengar sangat menggelegar turun dari mobil yang lainnya.
__ADS_1
Nada tergagap bibirnya melihat bagaimana tajamnya mata sang ama menatap mereka berdua.
“Ama, sudah. Biarkan begini saja.” mohon Nada namun wanita tua itu tetap berjalan. Kebenciannya berkali-kali lipat bertambah saat melihat keadaan Viona baik-baik saja. Sungguh rasanya sangat sulit menerima keadaan Viona seperti ini sementara ingatannya pada sang cucu yang sudah tiada tak bisa terobati lagi kerinduannya sampai kapan pun.
Yara berjalan dengan langkah cepat mendekati keduanya. Tangannya begitu kasar menghempas tangan Viona dan mendorong tubuh wanita itu hingga Axel sigap menahan sang istri.
Sebagai suami, tentu saja ia ingin sekali marah. Viona adalah istrinya dan sedang menggendong anak mereka. Bagaimana mungkin ama justru dengan mudahnya mendorong Viona tanpa perasaan sama sekali.
“Cukup, Nek! Jangan seperti ini dengan istriku!” Tatapan tajam Axel layangkan pada Yara. Meski ia melihat jelas tak ada sama sekali ekspresi rasa bersalah pada Yara saat ini. Baginya apa yang ia lakukan adalah sebuah kebenaran untuk sang cucu yang sudah pergi.
“Nenek?” Lirihnya berkata dengan tatapan sedih.
__ADS_1
“Jangan panggil saya nenek. Saya bukan Nenekmu!” Suara penuh penekanan dari bibir Yara seketika membuat Viona bingung. Ia menggelengkan kepala tak mengerti. Apa sebenarnya maksud dari ini semua.
Nada menggeleng tak ingin semua yang ia takutkan akan terjadi. Ini tidak boleh terjadi. Hingga akhirnya ia menarik tangan sang ama untuk menjauh dari sana. Tak perduli bagaimana sang ama jalan terseok-seok, yang terpenting saat ini adalah melindungi Viona. Jiwanya masih belum bisa stabil dari rasa bersalah.
“Apa, tolong. Bawa Ama pulang. Nada mohon.” tuturnya menutup paksa pintu mobil saat sang ama sudah masuk ke dalam mobil.
Patuh pria tua itu menjaga sang istri hingga mobil kembali meninggalkan rumah Nada saat ini. Nada akhirnya menghela napas lega. Ia kini akan menghadapi Viona setelah kepergian sang ama.
“Bu, Nenek kenapa? Apa aku ada salah? Apa yang membuat Nenek semarah itu?” tanya Viona dengan perasaan bingung sekali.
Jujur ia tidak tahu apa yang terjadi bahkan ucapan sang nenek terasa begitu sangat menusuk saat ini. Axel di samping Viona terus mengusap lengan sang istri. Ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan ibu dari anaknya.
__ADS_1
“Kita masuk, Vio.” bisiknya di telinga sang istri saat Viona masih menunggu jawaban sang ibu.
Nada pun juga tersenyum meminta mereka masuk ke rumah lebih dulu. Mungkin saat ini pun ia belum siap memberi tahu Viona kebenarannya.