Heart For My Sister

Heart For My Sister
Kemarahan Viona


__ADS_3

Duduk sendiri di tepi danau, Viona tidak menjatuhkan air matanya sedikit pun. Wanita itu hanya tertawa sinis melihat nasibnya yang sungguh pahit tanpa hentinya. Sejak kecil harus berjuang melawan sakitnya, ketika sembuh ia harus merasakan sakit di hatinya yang tak terlihat lukanya sama sekali. Namun, sakit yang ia rasakan justru berkali-kali lipat sakitnya. Viona benar-benar tak tahu harus apa saat ini.


"Kak, kenapa kakak pergi sih? Sampai kapan kakak menghilang begini? Kakak lihat aku menangis gara-gara pria yang kakak bilang sebenarnya baik itu? Dia jahat denganku, Kak. Kakak segeralah kembali." gumam Viona yang menatap nanar pemandangan teduh dan indah di depannya.


Miris rasanya jika sang suami justru membandingkan dirinya dengan sang kakak. Viona tidak marah dengan sang kakak, hanya saja ia marah pada keadaan. Dimana seharusnya sang suami akan menutupi segala kekurangannya sebagai seorang istri, bukan justru membandingkan dirinya dengan sang kakak.


Jauh dalam lubuk hati, Viona benar-benar menyadari kekurangan dirinya di bandingkan sang kakak yang begitu menjadi wanita ceria, penyayang, bahkan Tiara tumbuh menjadi wanita yang super aktif. Tak perduli bagaimana sang calon suami kaya, baginya sebagai wanita ia harus tetap bermanfaat untuk orang sekeliling dan juga membuktikan jika dirinya wanita yang mandiri. Tidak dengan Viona yang sedari kecil memang memiliki fisik lemah membuatnya tumbuh dewasa dengan segala ketakutan di luar sana yang tidak biasa ia lakukan seorang diri.

__ADS_1


Jika bukan sang ayah yang selalu di sampingnya ada sang kakak yang dengan setia menemani Viona. Dan kini ia tak memiliki siapa-siapa lagi selain Axel. Satu-satunya orang yang Tiara titipkan sang adik namun justru Axel melakukan kesalahan dengan lagi-lagi membuat Viona terluka.


Di sini Axel tahu Viona membutuhkan waktu sendiri. Sadar akan ucapannya yang keterlaluan. Axel pun melangkah masuk kembali. Pria itu berniat menghampiri Raisa yang ada di kamarnya saat ini.


"Raisa, keluarlah. Aku ingin bicara sesuatu padamu..." ujar Axel mengetuk pintu. Lalu ia sendiri melangkah ke sofa dan meminta pelayan kembali memanggil Raisa saat suaranya sama sekali tak di jawab oleh wanita itu.


Tak lama kemudian Raisa pun keluar, lagi-lagi menggunakan celana yang sangat berbentuk body serta pakaian tebal yang membentuk lekuk tubuhnya. Axel tak habis pikir dengan wanita di depannya ini. Dia berubah tidak seperti Raisa yang dulu berpenampilan sewajarnya. Melihat mata tajam Axel, Raisa justru berputar di depan pria itu.

__ADS_1


"Raisa, kemasi barangmu dan supir akan mengantarmu ke villa yang lebih baik dari ini. Di sana ada beberapa pelayan yang sudah aku sediakan untuk melayanimu. Setidaknya mereka juga akan menemanimu kemana pun kau ingin pergi." pintah Axel seketika membuat senyum di wajah Raisa pudar begitu saja.


Wanita itu menggeleng tak setuju namun Axel sudah meminta sang pelayan membantunya mengemasi barang di kamar.


"Bi, tolong bantu agar segera selesai." pintahnya yang tak sempat membuat Raisa berucap apa pun, Axel sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.


Tentu saja Raisa kesal, namun rasanya ia tidak bisa membantah. Jangan sampai Axel semakin tidak suka padanya. Baik, untuk saat ini Raisa mengalah. Ia akan mengikuti permintaan Axel. Dan rencana selanjutnya akan ia pikirkan lagi setelah tiba di tempat yang di sediakan oleh Axel.

__ADS_1


Siang itu juga, Viona menatap mobil yang mulai di masukkan barang-barang. Ia hanya menatap acuh dan kembali memandang ke depan. Viona pikir itu adalah barang miliknya dan sang suami. Hingga detik berikutnya, Viona di kejutkan dengan kedatangan Raisa.


"Kok kamu jahat banget yah, Vi? Beda sama Tiara kakak mu. Axel kamu suruh buat minta aku pergi. Bahkan kemarin saja kalian tidak keberatan ketika aku datang di tinggal di sini. Kenapa sekarang begini?" pertanyaan Raisa memuat Viona naik pitam. Lagi-lagi wanita di depannya menggunakan nama sang kakak.


__ADS_2