Heart For My Sister

Heart For My Sister
Niat Terselubung Raisa


__ADS_3

"Nyonya Viona baik-baik saja, Tuan. Ini pemeriksaan keseluruhan semuanya tidak ada yang bermasalah. Hanya faktor kaget dengan udara dingin saja sehingga membuat darahnya keluar dari hidung. Ada dua faktor yang bisa menyebabkan seseorang mimisan, karena cuaca yang terlalu panas atau karena terlalu dingin. Semua sehat dan janinnya juga sehat." Kaki Axel terduduk lemas di kursi mendengar ucapan dokter. Matanya bakan terpejam sesaat mengucap syukur. Sungguh ia benar-benar takut jika sampai Viona kembali kambuh.


Viona hanya terbaring enggan berbicara apa pun, sebab pikirannya berharap jika ia sudah akan mendekati ajal. Tak perduli bagaimana Axel kini mengusap kepalanya dengan lembut. Keduanya pun bergegas pulang kembali setelah pria itu berhasil menyelesaikan administrasinya. Selama di perjalanan Viona sama sekali tak ingin menatap wajah pria di sampingnya ini. Sementara Axel sesekali menatapnya dengan kikuk.


"Syukurlah kamu baik-baik saja. Ayan dan ibu pasti akan sangat panik jika sampai terjadi sesuatu padamu." sahut Axel yang masih di diamkan Viona hingga mereka pun akhirnya tiba di villa tempat mereka tinggal selama satu bulan ke depannya.


Sesampai di rumah, Viona bukannya masuk ke kamar. Justru ia bergerak menuju dapur di mana pelayan tengah sibuk membuat makanan. Wanita itu tersenyum ramah pada pelayan dan berkata akan membantunya.


"Vio, biarkan bibi yang bekerja. Ayo istirahatlah." pintah Axel namun tak di sahuti oleh Viona.


"Nyonya, sebaiknya anda istirahat saja. Semua sudah hampir selesai." sang pelayan pun ikut bersuara karena merasa tak enak dengan sang tuan.


"It's okey, Bi." sahut Viona yang keras kepala.


Melihat itu Axel pun hanya menghela napasnya kasar. Jika hanya di tegur rasanya Viona masih bisa melawan. Pria itu pun bergerak untuk mendekati Viona namun langkahnya terhenti kala mendengar suara ponsel berdering. Axel melihat sejenak nama pemanggil dan ia pun bergegas mengangkat sembari melangkah keluar villa.


"Halo, Sa..." sapanya terdengar akrab. Dan itu masih bisa terdengar oleh Viona.


Meski acuh, sedikit Viona merasa penasaran dengan nama 'sa' yang tidak ia tahu siapa sebenarnya.


"Sa...Raisa? Ah tidak mungkin. Kak Raisa kan tidak kenal sama pria kejam itu." gumam Viona yang bertanya-tanya siapa sebenarnya penelpon sang suami.


Di sini Axel nampak berbicara di depan danau.


"Kalian berapa lama liburannya? Aku baru tahu dari pelayanmu saat tadi ke rumah." suara Raisa yang mendayu merdu di seberang sana terdengar begitu jelas di telinga Axel.

__ADS_1


"Em cukup lama satu bulanan. Ada apa kau ke rumah?" tanya Axel datar tanpa ekspresi apa pun.


"Aku hanya ingin datang berkenalan dengan istrimu. Bagaimana kalau aku datang ke sana menyusul kalian sepertinya sangat seru?" sahut Raisa begitu bersemangat.


Semangatnya tak juga luntur mengetahui Axel saat ini tengah baby moon di luar negeri dalam waktu yang lama. Sejujurnya tanpa Axel ketahui jika wanita itu tengah memiliki niat terselubung menghubunginya. Jujur Raisa tak mau membiarkan keduanya menghabiskan waktu satu bulan berdua yang bisa saja membuat Axel benar-benar mencintai Viona, sang istri.


Axel yang mendengarnya hanya diam tak memberikan respon apa pun. Ia tak mau jika Raisa datang meski pun ia belum mencintai Viona. Namun, dalam hal liburan seperti ini tentu tak akan nyaman jika ada orang asing di antara mereka.


"Em sebaiknya tidak usah. Saya dan Viona juga akan berpindah-pindah tempat untuk menikmati liburan di sini. Mood Viona terkadang tak menentu dan itu akan membuatmu bosan. Terimakasih niat baikmu, Raisa." sahut Axel dan Raisa mendengarnya sangat kecewa.


Wanita itu hanya diam sampai akhirnya Axel pun mengakhiri panggilannya. Tentu saja sebagai seorang Raisa ia tak akan mau menyerah begitu saja. Raisa tidak akan tinggal diam menerima keputusan Axel. Ia akan berusaha apa pun caranya.


"Bu Nada...yah aku harus bertemu dengannya. Dia pasti tahu dimana mereka saat ini." mobil Raisa pun melaju menuju kediaman orang tua Tiara. Begitu akrab dengan sang teman sampai membuat Raisa sangat kenal dekat dengan kedua orang tua Tiara dan juga Viona tentunya.


Sekitar dua puluh lima menit wanita itu berkendara mobil, kini Raisa sudah memasuki pelataran rumah milik sang teman yang entah pergi ke mana. Berniat mencari pun tidak di pikirkan Raisa sama sekali. Sepertinya persahabatan keduanya selama ini bukanlah persahabatan yang sehat seperti yang Tiara tahu. Namun, ada satu hal yang Raisa tidak tahu. Jika selama ini Tiara diam-diam memperhatikan gerak gerik sang sahabat setiap kali Tiara mendapat kejutan dari Axel. Dan itulah penyebabnya Tiara tidak begitu terbuka dengan Raisa. Ia justru lebih memilih curhat pada sang adik.


"Om, Tante dimana? Bagaimana kabarnya?" tanya Raisa nampak basa basi sembari tersenyum. Danish pun tersenyum ramah menyambut kedatangan sahabat sang anak yang ia pikir sangat baik.


"Ayo masuk. Om panggil dulu yah Tante? Dia lagi di kamar biasa sejak perginya Tiara dia selalu mengurung di kamar." sahut Danish yang mendapat anggukan kepala dari Raisa.


Lama Raisa duduk hingga akhirnya Nada pun keluar dengan mata memerah kembali setelah melihat foto sang anak. Melihat itu Raisa pun bangkit berdiri dan memeluk Nada sangat erat seolah ia ikut sedih tanpa ia tahu kemana Tiara sebenarnya.


"Tiara pasti kembali, Tante. Sabar yah...kita hanya bisa berdoa semoga Tiara mau kembali sama kita lagi." tak ada kata yang di ucapkan Nada mau pun Danish selain menganggukkan kepala mereka.


Mereka semua duduk menyambut niat baik Raisa untuk bertamu. Perbincangan semua tampak lancar.

__ADS_1


"Saya dengar Viona sudah hamil yah, Tante. Saat itu tidak sengaja bertemu Axel di restauran." ujar Raisa memulai sebab ia tidak mungkin langsung mengatakan tujuannya datang.


"Iya, Sa. Sekarang mereka sedang liburan biar semakin dekat. Ini juga usul dari oma dan opanya Axel. Kami yah hanya mengikuti mau mereka saja selama Viona dan Axel juga setuju saja." sahut Nada yang tersenyum dengan mata sembabnya.


"Wah asik yah, Tan. Liburan kemana sih? Lalu apa nggak bahaya sama janinnya yang masih muda, Tan?" tanya Raisa lagi hingga perbincangan terus berlanjut tanpa keduanya ketahui jika Raisa datang dengan maksud lain.


Akhirnya Raisa pun berhasil mendapatkan tempat di mana mereka berdua saat ini. Sangat senang rasanya, Raisa tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyusul mereka. Viona dan Axel tidak boleh semakin dekat. Sudah cukup selama ini ia merelakan Axel dekat dengan Tiara. Raisa baru sadar jika perasaannya pada Axel bukanlah perasaan kagum melainkan cintai yang sesungguhnya. Selama ini wanita itu berusaha menutup mata dan telinga setiap kali perasaan di dadanya sesak melihat Tiara mesra dengan Axel.


Sepulang dari kediaman Tiara, hari itu juga Raisa mempersiapkan keberangkatannya menuju Swiss. Besok ia akan langsung menuju bandara dengan barang yang sudah ia pesiapkan hari ini. Raisa bergerak cepat mengurus semua tiket.


Sedang di sini, Axel masih melihat Viona terlelap di kasur dengan nyaman saat hari sudah malam. Pria itu menarik selimut di kaki Viona ke atas tubuhnya. Pelan sekali Axel ikut berbaring di sampingnya. Tubuh Viona yang nampak membelakanginya membuat Axel melihat jelas pinggan sang istri yang begitu kecil dan pundak yang runcing hanya berisi tulang saja.


"Maafkan, aku Viona. Maafkan aku, Tiara. Hatiku begitu sulit untuk berdamai dengan keadaan." tutur Axel dalam hatinya benar-benar merasa bimbang.


Jujur ia ingin sekali melupakan semua kenangannya bersama Tiara, namun rasa cinta yang begitu besar untuk Tiara membuat pria itu di kendalikan oleh perasaan yang terlalu dalam.


Pelan tangan kekar pria itu mengusap pundak sang istri. Melihat tak ada pergerakan sama sekali di tubuh Viona, Axel mulai melanjutkan tangannya menuju perut yang ingin sekali ia pegang. Bayangan wajah bayi mungil yang muncul di benak pria itu membuat Axel begitu penasaran merasakan perut sang istri.


"Kak...jangan pergi..." suara lirih terdengar begitu saja membuat Axel buru-buru menarik tangannya yang baru saja ingin mengusap perut sang istri.


Pria itu bangkit dari ranjang dan mengusap peluh di keningnya. Axel bersikap seperti pria bodoh yang ketakutan sekali ingin menyentuh sang istri.


"Huh ternyata dia mimpi?" gumamnya lalu bergegas duduk di salah satu kursi yang ada di kamar mereka.


Mimpi Viona pun juga sudah tidak terdengar lagi. Wanita itu membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Axel duduk saat ini. Matanya masih terpejam, Axel melihat kening sang istri berkeringat sedikit sepertinya karena mimpi barusan. Sebab udara di tempat mereka sangatlah dingin jadi tidak mungkin Viona keringat karena kepanasan.

__ADS_1


Sama halnya dengan Axel yang sudah tak lagi berkeringat setelah rasa gugupnya hilang begitu saja.


__ADS_2