Heart For My Sister

Heart For My Sister
Keputusan Lillia Tinggal Di Rumah Sang Cucu


__ADS_3

Jika Anna tidak bisa datang bersama sang suami untuk menemui Viona yang tengah mengandung, masih ada sang nenek. Lillia datang hari ini juga ketika pagi Axel hendak pergi bekerja. Wanita tua itu nampak sangat cantik meski usianya telah senja. Seperti biasa ia akan nampak sangat ramah menyapa Axel yang saat itu baru saja hendak memasuki mobil untuk pergi bekerja.


"Nenek," sapaan Axel sembari mencium punggung tangan Lillia. Kedatangan tak terduga itu membuat Axel benar-benar gugup. Namun, tak tahu harus melakukan apa saat ini selain mempersilahkan sang nenek memasuki rumah. Niat ingin berangkat ke kantor pun terpaksa ia urungkan saat ini. Axel duduk di sofa di samping sang nenek.


Lillia menatap sekeliling rumah sang cucu, tak ada sosok yang ia cari terlihat melintas di depannya saat ini. Terasa aneh mengapa wanita yang berstatus istri sang cucu sama sekali tak nampak, bukankah seharusnya Axel di antar ketika hendak berangkat kerja.


Axel yang paham segera berucap. "Dia sedang ngidam, Nek. Maka dari itu tidak bisa keluar kamar." sahut Axel yang berbohong.


Lillia pun mengangguk mendengar ucapan sang cucu, ia hampir lupa jika Viona sedang hamil muda saat ini.


"Nenenk mau di buatkan apa?" tanya Axel yang langsung mendapatkan penolakan dari Lillia.


"Kamu pergilah ke kantor. Nenek akan membuatnya sendiri." sahut Lillia tersenyum memandangi sang cucu yang sudah begitu besar saat ini dan akan menjadi seorang ayah.

__ADS_1


"Ayah dan ibu sedang ke luar negeri berobat. Apa Nenek tidak kesepian di rumah sendiri? Jika nenek mau tinggallah di sini bersamaku." ucapan Axel yang ia rasa hanya basa-basi tak menyangka benar menjadi keinginan wanita tua itu. Lillia nampak mengangguk mengiyakan ucapan sang cucu sebab memang itulah tujuannya datang kemari saat ini.


"Nenek memang memiliki rencana seperti itu untuk beberapa hari ke depan. Di mobil bahkan nenek sudah membawa beberapa baju." Axel menegakkan tubuh tegang mendengar ucapan sang nenek. Tak habis pikir mengapa ucapannya justru menjadi kenyataan benar. Sebenarnya Axel tak begitu masalah jika ada keluarga yang tinggal di rumahnya. Tetapi masalahnya saat ini ia tidak ingin bertemu dengan sang istri di kamar yang sama. Apa jadinya kata sang nenek jika mengetahui dirinya dan Viona tidur terpisah?


"Dimana istrimu?" tanya Lillia dan Axel pun menjawab di kamar yang ada Viona saat ini.


Perasaan Axel semakin campur aduk mendengar sang nenek bertanya kamar Viona. Semoga saja sang istri tidak sedang tidur di sofabed saat ini. Tanpa menunggu lama Lillia beranjak meninggalkan Axel menuju kamar Viona. Di ketuk dahulu pintu kamar itu lalu ia membuka pintu kala mendengar suara dari dalam yang mempersilahkannya masuk.


Wajah kurus Viona terlihat untuk pertama kalinya di depan mata Lillia. Kaget tentu saja Lillia merasa kaget melihat penampilan sang cucu menantunya.


"Viona? Kamu sangat kurus sekali. Ada apa, Viona?" Lillia mendekai Viona yang langsung mendapat sambutan pelukan hangat. Viona jujur tak menyangka jika ia akan kedatangan wanita tua ini.


"Aku baik-baik saja, Nek." jawab Viona yang di sambut senyuman oleh Lillia.

__ADS_1


"Nenek lagi-lagi lupa kamu sedang mengandung. Maka dari itu Nenek akan tinggal di sini rasanya lebih tepat mengawasi pertumbuhan cicit nenek. Apa sudah ada minum susu hamil?" tanya Lillia yang langsung di sambut gelengan kepala dari Viona.


Jangankan susu, Viona saja tidak tahu makanan apa yang boleh dan tidak boleh di konsumsi oleh ibu hamil. Lillia yang mendapatkan jawaban dari sang cucu menantu hanya bisa menghela napasnya kasar.


"Yasudah kalau begitu ayoo kita keluar sekarang dan belanja susu hamil. Kamu sudah ke dokter dengan Axel bukan?" lagi pertanyaan sang nenek membuat Viona harus menggeleng menjawabnya.


Jika sampai ia berbohong dalam hal ini bagaimana ketika di tanya sesuatu mengenai hasil pemeriksaan Viona justru tak bisa menjawab. Sebaiknya jujur mungkin akan lebih mudah bagi Viona saat ini.


"Belum? Astaga anak itu benar-benar keterlaluan." gerutu Lillia yang tak habis pikir dengan sang cucu.


Wanita tua itu bergegas menuju ke luar kamar namun sudah tak lagi melihat keberadaan Axel di tempat semula. Sepertinya pria itu sudah menuju kantor saat ini. Lillia yang amat kesal sampai langsung memberi tahu pada Anna. Mungkin anaknya itu bisa memarahi Axel setelah memberi tahu semuanya tentang Viona yang sama sekali tidak di urus oleh Axel selama hamil.


"An, marahi si Axel itu. Istrinya lagi hamil kok di biarkan tinggal kurus kering begitu tanpa di bawa ke dokter, tanpa di kasih susu. Ibu khawatir jangan-jangan malah nggak di kasih makan lagi," ujar Lillia yang terdengar geram sekali saat mengadukan sikap Axel pada sang anak.

__ADS_1


Di seberang telepon Anna nampak menggeleng tak percaya, apa iya Axel setega itu pada sang istri. "Bu, kalau tidak di kasih makan yah mana mungkin masih hidup sampai sekarang. Sudah ibu tenang yah, di sana ibu hanya awasi Viona agar kandungannya baik-baik saja. Aku akan telepon Axel secepatnya kok." ujar Anna yang memberi pengertian pada sang ibu.


Tak tahu saja mereka jika kedatangan Lillia di kediaman Axel benar-benar membuat sang pemilik rumah itu kebingungan. Axel di perusahaan begitu gelisah memikirkan jika malam ini ia harus kembali satu kamar dengan wanita yang tidak dia inginkan.


__ADS_2