
Samar kedua mata yang semula tertutup kini terbuka dengan kasar. Saat kain yang melingkar di kedua mata di lepas kasar.
“Siapa kalian?” Teriaknya bertanya saat melihat dua orang pria yang berkepala pelontos berdiri di hadapannya.
Tak ada yang menjawab, bahkan pria itu hanya terlihat acuh menatap datar sang buruan. Yah mereka baru saja berhasil memburu target wanita yang di perintahkan oleh sang bos.
Hingga suara sentuhan heels terdengar berbentur dengan lantai yang kotor dan usang.
“Viona Viona Viona…akhirnya kita ketemu juga. Wanita pembawa sial! Kamu benar-benar masih bisa hidup yah setelah apa yang kamu lakukan dengan kakak mu sendiri?” Wanita yang datang itu berjalan mendekati Viona dengan tatapan miris.
“Kau? Raisa, lepaskan aku!” Teriak Viona yang melihat wanita itu meminta anak buahnya menyingkir dari hadapan Viona dan berganti posisi dengannya.
Tangan Raisa sudah mencengkram kuat dagu lancip milik Viona. Matanya menatap begitu tajam.
“Lepaskan aku!” Viona kembali berteriak meski rasanya sedikit sulit untuk menggerakkan mulutnya.
__ADS_1
Mendengar itu Raisa terkekeh. “Lepaskan? Kau tidak ingin menyusul Tiara? Apa kau begitu senang bisa hidup menggunakan jantung Tiara, Viona? kau pembunuh kakak mu sendiri bukan? Bahkan kau hidup begitu hina dari wanita mana pun. Kau merebut kekasih Tiara setelah dengan tega kau membuatnya mati.”
Viona menggelengkan kepala mendengar ucapan dari Raisa.
“Tidak. Itu tidak benar. Aku tidak membunuh Kak Tiara. Aku tidak merebut kekasihnya.” Viona mulai menolak setiap kata yang di ucapkan Raisa. Tentu Raisa tertawa puas melihat Viona yang tak terima.
“Hahaha kau dasar pembunuh, Viona. Kau membunuh Tiara dan mengambil apa yang dia miliki. Kau membuat Tiara rela mati. Kau benar-benar pembunuh. Bahkan pria yang menikahimu sampai rela menikah atas paksaan Tiara. Miris sekali hidupmu.”
Viona menggeleng terus mendengar teriakan yang memekakkan telinga ketika Raisa berbicara di samping telinganya. Hingga air mata Viona jatuh.
“Tidak!!!! Aku bukan pembunuh! Aku tidak membunuh siapa pun!”
“Hahaha kau pembunuh kakak mu sendiri, Viona. Dan kau merebut kekasih kakakmu sendiri. Kau wanita jahat!” Raisa begitu tertawa puas. Inilah tujuannya menculik Viona.
Ia tahu Viona pasti tengah lemah sekali psikisnya hingga sangat mudah untuk di pengaruhi.
__ADS_1
“Hentikan! Aku tidak membunuh!” Viona ingin sekali menutup telinganya namun kedua tangan miliknya sudah di ikat di belakang.
Hanya air mata yang bisa berjatuhan di wajah wanita itu. Raisa akan merusak pikiran Viona hingga membuatnya benar-benar puas.
Dan di kediaman Axel tepat pukul tujuh malam semua keluarga cemas mencari Viona. Pasalnya ponsel wanita itu pun tidak bisa di hubungi. Axel yang baru pulang nampak mengusap kasar wajahnya. Ingin marah tapi tidak tahu marah pada siapa. Sebab tak ada yang bisa di salahkan dalam hal ini. Lillia sudah menjaga sang istri dengan sangat baik.
“Dimana kamu, Viona?” gumamnya mencoba kembali menghubungi nomor ponsel sang istri namun tak juga ada hasil.
“Axel, ayo kita cari di jalan.” ajak Danish yang segera di angguki sang menantu.
“Bu, tolong kabari jika Viona sudah pulang.” ujar Axel.
“Kabari juga kalau sudah ada kabar di jalan yah, Xel.” sahut Nada.
Kedua pria itu bergegas pergi dari rumah dengan terburu-buru.
__ADS_1