Heart For My Sister

Heart For My Sister
Niat Baik Di Balas Kekerasan


__ADS_3

Sepanjang pernikahan selama satu bulan ini, Viona terus menangis mendapat perlakuan buruk dari sang suami. Tak jarang Axel pulang pagi hari ke rumah entah tidur di mana pria itu. Dan kini Viona di kejutkan kala kasur yang semula terletak di kamar mereka di pindahkan oleh para penjaga rumah menuju kamar yang lainnya. Viona hanya berani menatap pergerakan mereka tanpa bertanya. Meski Axel tak ada di kamar itu, Viona takut untuk mencari masalah dengan sang suami. Ia justru memilih melihat hasil lukisannya yang ia bawa kemarin dari rumah. Viona duduk tersenyum mengusap lukisan miliknya. Disana ia dan Tiara tengah berpelukan bahagia.


“I miss you, Kak Tiara. Kakak harus segera kembali. Karena kakak adalah pawang pria tua itu.” ujar Viona yang kesal pada suaminya sendiri.


Viona yang merasa ingin buang air kecil terpaksa menuju kamar mandi meninggalkan lukisan miliknya di sofa bed tempatnya tidur satu bulan ini. Kecilnya tempat ia tidur sama sekali tak membuat wanita itu mengeluh, hanya satu harapan Viona bersabar menunggu kedatangan sang kakak, setidaknya pernikahannya akan berakhi setelah itu, pikirnya.


“Di letakkan seperti apa, Tuan tempat tidur baru ini?” Salah satu pria bertanya pada Axel ketika mereka membawa tempat tidur ganti itu ke kamar. Axel memintanya untuk meletakkan di tempat semula.


“Apa itu?” gumam pria tampan tersebut kala tak sengaja melihat sesuatu terletak begitu saja di sofa bed tempat Viona selalu menghabiskan malamnya.


Pelan di dekatinya dan Axel sangat marah melihat ada wajah Viona yang berdekatan dengan Tiara. Kemarahannya yang membanting, memukul lukisan itu ke dinding berkali-kali membuat semua orang takut dan lari keluar.


“Viona! Viona, dimana kau?” Teriakan Axel seketika membuat Viona sangat kaget. Wanita itu berlari dari kamar mandi dan menghampiri Axel yang sudah membanting-banting lukisan miliknya.


“Kak, ada apa? Kenapa kau merusak barang milikku?” tanya Viona dengan tubuh yang bergemetar.


Pergerakan tangan Axel pun terhenti begitu saja melihat Viona berdiri di hadapannya. Gadis itu berjongkok meraih lukisan yang sudah tak berbentuk itu dan memeluknya.


“Kak Tiara tidak melakukan kesalahan apa pun. Mengapa kakak merusak ini? Ini milikku, Kak.”


“Diam!” Teriakan Axel membuat kedua pundak Viona berjingkat kaget.


“Tiara tidak salah. Tapi kau yang salah! Kau pembawa masalah!” Tangan Axel begitu tegas menunjuk Viona yang tertunduk saat ini.


Axel tak lagi bisa mengendalikan emosinya. Pria itu berjongkok dan mencengkram kuat dagu Viona. Satu tangannya sudah menarik kasar rambut Viona. Jujur ini bukan Axel yang sesungguhnya. Pria yang penuh kasih sayang benar-benar membuat Viona tak menyangka bagaimana mungkin pria yang sangat hangat pada sang kakak tega berlaku seperti ini padanya.


“Kakak tidak suka denganku? Ceraikan aku, Kak. Ceraikan aku.” Akhirnya Viona pun mengeluarkan kata tersebut setelah satu bulan ia berusaha bertahan. Sungguh tak ada kekuatan lagi yang Viona miliki untuk tetap di samping Axel.


Kerasnya hati pria itu begitu sulit di sentuh oleh wanita mana pun kecuali Tiara.


“Anda aku bisa melakukan itu. Pasti akan ku lakukan, Viona. Sayangnya aku tidak rela jantung Tiara kau bawa pergi begitu saja.” ucapan Axel hanya terdengar oleh dirinya sendiri dalam hati.


Kesal, Axel menghempaskan tangan yang menggenggam dagu Viona. Viona terlempar ke samping saat mendapat dorongan kasar tangan Axel. Ia menangis lagi dan lagi. Viona tidak tahu kenapa jadi dirinya yang mendapat perlakuan seperti ini.


Setelah itu Axel beranjak menuju kamar yang berbeda. Disanalah beberapa pelayan laki-laki sibuk menata ruangan. Entah untuk apa dan untuk siapa, Viona tidak tahu. Axel nampak sibuk saat menutup pintu kamar tersebut.


***


Axel rupanya tengah menyediakan kamar khusus yang seperti Tiara inginkan. Di sinilah kamar utama yang sesungguhnya. Pria itu menatap sekeliling dimana barang Tiara sudah ia pindahkan semua ke kamar ini. Itulah alasan mengapa Viona tidak melihat apa pun barang sang kakak di rumah mereka. Sebab Axel telah membawa semua tanpa tersisa satu pun, hanya frame foto Viona dan Tiara yang ia tinggal.


Axel sangat tak suka apa pun yang berkaitan dengan Viona.

__ADS_1


Sampai malam hari pria itu tak kunjung keluar dari kamar, sementara ketukan pintu dikamar Viona terdengar saat ini.


“Ada apa, Bi?” tanya Viona kala melihat pelayan berdiri di hadapannya, namun bukan yang bagian memasak. Ia hanya pelayan bagian bersih-bersih saja.


“Nyonya, maaf. Tadi bibi yang masak tidak sempat membuat makan malam. Anaknya masuk rumah sakit. Apa sebaiknya kami membelikan makan malam untuk Tuan saja?” sang pelayan nampak bertanya dimana Viona sendiri bingung.


Setahunya Axel sangat tidak suka makan dari luar jika bukan keinginannya. Bertanya pun Viona takut. Jika pelayan yang ia minta bertanya rasanya akan jauh lebih menakutkan lagi. Saat ini Axel benar-benar menjelma menjadi pria yang sangat menakutkan bagi Viona.


“Biar saya saja yang menyiapkan.” sahut Viona.


Ia tidak ingin hanya karena masalah mereka, Axel justru melampiaskan dengan pelayan. Sebaiknya biarkan saja Viona menghadapi semua kemarahan Axel. Bukankah setiap harinya ia juga sudah kenyang dengan makian Axel.


“Tapi, Nyonya…” pelayan itu ragu.


“Saya akan memasaknya, Bi. Saya sedikit tahu kok selera makan Kak Axel.” Benar Viona tahu sedikit sebab sang kakak sering ia bantu memasak untuk suaminya.


Tiara benar-benar menjadi wanita impian Axel. Dimana satu pun wanita tak akan bisa menggantikan dirinya.


Sejak setengah jam lalu, Viona sudah berkutat di dapur. Sesekali ia menatap kamar dimana Axel berada. Berharap pria itu tak akan keluar dari kamar dan marah lagi. Semua pelayan pun juga merasakan was-was. Satu persatu masakan mulai Viona selesaikan dengan pelayan yang membantu menghidangkan. Hingga satu jam berlalu berbagai menu sudah tersaji di meja makan.


“Nanti kalau Kak Axel tanya, bilang saja kalian yang memasaknya. Saya harus segera kembali ke kamar.” tutur Viona bergegas pergi takut jika sang suami tahu ia menyentuh dapur itu.


Mereka tidak tahu jika di sini Axel tengah terlelap sembari memeluk bantal dan menggunakan selimut yang terakhir di pakai oleh Tiara.


“Tuan, Tuan Axel. Makan malam sudah siap.” samar namun Axel jelas mendengarnya.


Pria itu pun bangun dan menuju kamar dimana semua pakaiannya berada. Axel mandi lalu memperhatikan Viona yang nampak duduk menghadap jendela. Wanita itu sedang melukis. Itulah yang selalu Viona lakukan untuk sekedar menghibur dirinya.


Tatapan mata Axel tak lepas dari penampilan Viona. Ia acuh dan memilih keluar setelah membersihkan tubuh. Axel duduk di meja makan dengan tatapan mata yang bergerak memperhatikan satu persatu hidangan di meja makan.


Beberapa pelayan tertunduk menunggu perintah untuk mengambilkan apa pun yang Axel mau.


“Siapa yang memasak?” Pertanyaan singkat namun dingin Axel layangkan. Semua pelayan tak ada yang berani menjawab. Rasanya mereka yakin jika Axel tahu siapa yang memasak malam ini.


“S-saya, Tuan.” Jawaban pelayan yang sudah di beri Viona pesan nampak takut untuk berbohong. Harapannya Axel akan mau makan dan kerjaan mereka selesai dengan baik hari ini.


Sayang, helaan napas kasar dari pria itu sudah menjadi tanda jika ada kemarahan besar yang Axel ingin keluarkan saat ini.


Detik itu juga semua hidangan yang belum tersentuh sedikitpun melayang ke lantai marmer. Piringan dan lainnya semua ikut pecah berantakan. Keadaan meja makan dan lantai yang kacau. Pelayan semua berjingkat kaget tanpa berani mengangkat wajah mereka. Axel marah dan ia sudah tahu pasti siapa yang memasak ini semua.


“Masakan mu enak semua, Ra. Aku sangat suka. Besok-besok bawakan lagi ke kantor yah?”

__ADS_1


“Iya pasti aku bawain. Lagian ini bukan kerja keras ku sendirian. Ada adikku yang cantik ini juga yang membantu.” Tiara merangkul Viona di depan Axel.


“Aku nggak suka masakan kesukaanku bisa di masak juga sama orang lain.” ujar Axel ketus.


Kening Tiara mengerut dalam mendengarnya. “Kamu kenapa sih, Sayang?” tanya Tiara lagi tak paham.


“Nanti Viona menikah berarti suaminya juga akan makan masakan yang sama dengan yang kamu masak buat aku.” sahut Axel tidak terima berbagi selera dengan pria lain.


Viona yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala saja. Sedang Tiara terkekeh gemas dengan sang kekasih.


“Apaan sih, Xel. Ini adik aku loh, masa sama Viona pun kamu cemburu?”


Ingatan sekilas tentang masa di mana Tiara membawakan masakan yang sama dengan malam ini membuat Axel sangat marah.


“Kalian semua saya pecat!” Teriakan Axel menggelegar hingga terdengar sampai ke kamar Viona.


“Ada apa yah? Kok ada suara ribut-ribut? Ah astaga jangan bilang ini semua karena aku.” Menyadari ada hal yang tidak beres, Viona segera berlari menuju sumber keributan.


Matanya terbuka lebar dan kedua tangannya membungkam bibir saat melihat banyaknya makanan yang berhambur dengan barang pecahan piring.


Pelayan yang di hadapan Axel nampak tertunduk menangis.


“Tuan, maaafkan kami. Tolong jangan pecat kami. Kami hanya menyiapkan saja sebab bibi yang memasak harus ke rumah sakit mendadak.”


“Kak, aku yang salah jika kakak marah karena masakan ini. Aku hanya membantu-“


“Diam kamu. Aku tidak memintamu bicara.” sentak Axel pada Viona. Perlahan pria itu sudah mendekati Viona dan mencengkram kuat tangan Viona.


Hal itu di saksikan semua oleh pelayan. “Sakit, Kak. Tanganku sakit.” keluh Viona namun tak di hiraukan oleh Axel.


Pria itu semakin menguatkan cengkramannya pada tangan Viona hingga wanita itu meringis kesakitan.


“Jika kau berani menyentuh dapur ini lagi, maka tangan ini akan ku buat meleleh di atas api.” ujar Axel membuat Viona menggeleng takut.


Setelah mengatakan itu, Axel berlalu keluar rumah dengan supir yang sigap mengantar kepergiannya malam itu. Lagi dan lagi Viona melihat sang suami keluar di malam hari tanpa pulang hingga larut malam.


Ketika jam dua belas malam, ia terbangun dari tidurnya di kamar. Sosok yang biasa berbaring di kasur kamar itu kini tak menampakkan diri sama sekali.


“Sepertinya dia tidak pulang lagi.” gumam Viona.


Tak ada yang tahu jika Axel kini justru memilih tidur di sebuah hotel mewah. Ia menghabiskan malam dengan minum bersama sang supir. Sepertinya hanya ini yang Axel bisa lakukan sekarang. Jauh lebih aman jika dirinya minum di kamar dan bersama seorang pria juga. Bagaimana pun kemarahannya, Axel masih memikirkan nama baiknya di depan para orang-orang yang mengenalinya. Terlebih ia tidak ingin membuat kedua orang tua Tiara sampai mendengar kabar ini.

__ADS_1


__ADS_2