Heart For My Sister

Heart For My Sister
Teguran Viona


__ADS_3

Kedatangan keduanya pun membuat Raisa langsung masuk ke dalam kamar. Wanita itu enggan terlihat gelisah di depan Axel dan juga Viona. Hanya mengintip di dalam kamar, membuat kedua mata wanita itu membulat sempurna. Raisa mendelik saat melihat Axel yang turun dari mobil memutari pintu sebelah dan menggendong tubuh sang istri. Tanpa sadar tangannya refleks mengepal erat. Bagaimana mungkin kedekatan mereka begitu terlihat saat ini. Apa ada hal yang terlewatkan selama ini berjauhan dengan Axel.


“Argh apa sih ini? Nggak. Aku nggak boleh lengah lagi atau bersantai-santai. Aku harus bertindak cepat sebelum semuanya semakin sulit di pisahkan.” Melihat pintu kamar di tutup Axel dari dalam membuat Raisa begitu gelisah saat ini. Mondar mandir di kamar menunggu Axel keluar lagi namun tak kunjung keluar juga.


Penampilan yang sudah ia buat serapi mungkin kembali Raisa lihat di cermin. Tubuh putih yang memakai lingerie pilihan terbaiknya tak boleh sia-sia lagi. Axel harus jatuh ke dalam pelukannya saat ini.


Enggan menunggu kamar, akhirnya Raisa bergegas keluar kamar dan duduk di pantry yang ada di dapur. Mungkin duduk menunggu Axel keluar di sana akan jauh lebih baik. Sebab Viona tidak mungkin jika bangun secepat ini.


Suasana vila yang sunyi membuat Viona leluasa menunggu Axel.


“Raisa?” Benar suara yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba juga membuat Raisa menoleh dengan senyum manisnya. Ia menatap lekat wajah tampan pria yang sudah lama ia kagumi ini.


“Em Axel, Viona dimana?” tanya Raisa sok pura-pura tidak tahu.


Berharap jika Viona akan tidur selamanya kalau bisa. Sementara Axel enggan berhadapan dengan Raisa kala melihat penampilan wanita itu yang melihatkan niat menggoda.


“Kak Axel, biar aku saja.” Di arah pintu kamar suara Viona sudah terdengar. Dan panggilan yang ia sematkan terdengar begitu lembut tidak sedingin biasanya.


Setelah berkata demikian, Viona melirik ke arah Raisa yang berdiri. Mata Viona bergerak dari atas sampai bawah dimana lingerie itu hanya sebatas di atas lutut satu jengkal. Sangat tidak pantas di gunakan seorang wanita di depan pria yang bukan suaminya.

__ADS_1


“Kok Kak Raisa pakai baju seperti itu? Di sini kan sangat dingin rasanya tidak pantas memakai pakaian seperti itu. Jangan sampai besok pagi Kakak sakit. Lagi pula di sini ada laki-laki juga yang tinggal. Kakak tidak berniat menggoda suamiku kan? Ah maaf itu tidak mungkin yah kak. Kakak kan juga teman kak Tiara itu artinya kakak juga adalah kakak ku.” ujar Viona dengan frontalnya membuat Raisa tergugup tak tahu harus berkata apa.


Axel yang kini tengah sibuk membuatkan mie instan untuk sang istri hanya menutup telinga saja. Ia tidak akan berkomentar apa pun sebab keinginannya adalah meminta Raisa pergi secepatnya dari sana.


Khawatir jika kehadiran Raisa justru akan membuat Viona semakin marah padanya. Rasanya begitu sulit membuat Viona memaafkannya. Viona memang begitu pandai menyembunyikan semuanya di depan orang lain termasuk Raisa. Tapi, jika mereka sudah berdua. Kekesalan wanita itu kembali terlihat pada sang suami.


“Vio, ini makan sudah siap. Mau aku bawakan ke kamar?” Melihat Viona mengangguk tanpa menatapnya, Axel pun melenggang masuk ke kamar. Meninggalkan Viona yang masih diam menatap Raisa yang tak bisa berkata apa pun selain tersenyum kikuk.


“Sialan, bocah ini mengapa berani sekali membuatku malu?” umpat Raisa dalam hatinya.


“Kami masuk dulu Kak. Kak Axel sepertinya dingin kalau di luar kamar.” anggukan kecil di kepala Raisa membuat Viona tersenyum kecil.


Kini Viona benar-benar sangat yakin jika Raisa mengincar sang suami. Dan ketika ia sudah kembali ke kamar, Axel nampak tersenyum padanya sembari tangan pria itu mengaduk-aduk mie instan yang ingin di makan sang istri.


“Jika Kak Raisa masih di sini, sebaiknya aku pulang saja.” Ucapan dari Viona membuat Axel berdiri dan mendekatinya. Pria itu juga memikirkan hal ini sedari tadi.


Axel ingin menanyakan Raisa sampai kapan di villa mereka, namun tadi kebetulan Viona begitu cepat memunculkan diri di dapur.


“Secepatnya dia akan pergi, Vi.”

__ADS_1


Tanpa keduanya sadari, ada telinga yang menempel di sela pintu kamar itu. Raisa kesal sekali mendengar dirinya tak di inginkan kehadirannya saat ini.


Ia semakin curiga jika Viona dan Axel sudah sangat dekat. Tidak tahu saja jika Viona saat ini bahkan sudah mengandung benih pria tersebut.


Suasana berbeda di tempat lain. Kedua keluarga dari Axel dan juga Viona tampak makan malam di sebuah restauran yang di pilih oleh Anna dan Danny. Keduanya yang baru tiba di Indonesia begitu di sambut hangat oleh sang baesan. Keadaan Nada nampak sudah jauh lebih baik, bahkan Danish memberi peringatan pada sang istri untuk tidak menampakkan wajahnya yang sedih di hadapan keluarga Axel.


Suasana begitu ramai, kedua keluarga bercerita sembari menikmati hidangan yang sangat lezat. Mereka merayakan atas kehamilan Viona saat ini. Bahkan kedua orangtua kandung Danny atau bernama asli Danu pun juga turut hadir. Hubungannya dengan Zaniah sudah membaik seiring berjalannya waktu.


“Semoga cucu kita akan lahir dengan sehat tanpa kurang satu pun,” sahut Danny di angguki semuanya.


“Jika perlu langsung buat lagi Axel itu, usiaku sepertinya tidak lagi muda. Aku ingin melihat kalian bahagia dengan hadirnya banyak cicit untukku saat aku pergi kelak.” Firhan kini menimpali. Dan Zaniah memeluk lengan sang suami sedih mendengarnya.


Saat ini usia Firhan, Zaniah, dan kedua orangtua Danny memang sudah sangat tua. Di antara mereka hanya menunggu giliran saja.


“Mas, jangan bicara seperti itu. Aku sedih mendengarnya.” sahut Zaniah yang membuat Firhan hanya tersenyum saja.


Danish sebagai orang tua Viona merasa ganjal tengah menutupi sebuah rahasia dari keluarga sang menantu. Hingga akhirnya ia merasa ini adalah waktu yang tepat.


“Semuanya, saya meminta waktunya untuk besok kita pergi ke suatu tempat. Jika semua bisa maka saya sangat bersyukur. Sebab ada hal yang ingin saya sampaikan mengenai Axel dan Viona.” Di sampingnya Nada tampak syok mendengar ucapan sang suami.

__ADS_1


Benarkah sang suami akan mengungkapkan kebenaran tentang kepergian Tiara yang sesungguhnya? Hingga semua menjawab dengan menyanggupi permintaan Danish. Di dalam hati mereka semua merasa begitu penasaran sekali.


Hingga pertemuan keluarga besar malam itu pun berakhir dengan rasa penasaran untuk besok.


__ADS_2