Heart For My Sister

Heart For My Sister
Kisah Masa Lalu Membawa Akibat


__ADS_3

Rumah yang menjadi tujuan Viona dan Axel siang ini pun sudah ada di depan mata mereka. Mobil yang mengantar keduanya juga sudah berhenti di halaman rumah sang nenek. Axel yang di minta Viona menunggu di mobil saja kekeuh untuk keluar menemani sang istri. Berada di satu lokasi bukan tak menjadi kemungkinan hal yang di luar dugaan bisa terjadi pada sang istri.


"Aku akan tetap menemanimu, Viona. Nenek bisa saja bertindak di luar perkiraan kita. Ayo aku akan menjagamu. Aku janji tidak akan berbicara apa pun juga." Barulah Viona menghela napas kasar. Sebenarnya ia ingin sekali di beri waktu berdua saja dengan sang nenek untuk berbicara dari hati ke hati. Namun, keluguan Viona itu tentu saja justru membuat Axel sangat cemas.


Minimnya pengalaman berlingkungan dengan banyak orang membuat Viona menganggap hati semua orang sama. Seperti Tiara, kedua orangtuanya dan juga Axel. Mampu meluluhkan kerasnya hati sang mantan calon kakak ipar yang kini menjadi suaminya, entah mengapa membuat Viona sangat memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.


"Berani sekali kalian menginjakkan kaki di tanahku ini!" senyuman di wajah cantik Viona pudar seketika saat baru saja ia hendak memutar tubuhnya melangkah menuju ke arah rumah. Axel pun menatap wanita tua di depannya itu.


"Nenek," Viona melangkah cepat hendak mendekati Yara, tak perduli bagaimana tangan Axel menahan lengannya. Viona segera menepis dan mendekati Yara.


"Berhenti kau di situ! Jangan mendekat aku bilang." barulah kedua mata Viona berkaca-kaca mendengar teriakan yang memekakkan telinga. Kiri kanan tetangga sepertinya tengah mendengar tragedi siang itu. Dimana pagar rumah Yara tidaklah begitu tinggi dan tertutup.


Viona menunjukkan bawaan di tangannya. Berharap ketulusannya mendekati Yara bisa di terima dengan baik.

__ADS_1


"Nek, aku kemari hanya ingin bawakan Nenek kue buatan ku. Aku akan pulang setelah ini." ujar Viona menjulurkan tangannya.


Yara justru maju mendekat, mulanya Viona tersenyum. Berpikir mungkin sang nenek akan tetap marah padanya namun tetap penasaran dengan kue yang di tangannya. Hingga Viona, Axel, dan Eko terkejut melihat wanita tua itu merebut kasar bungkusan di tangan Viona dan melemparnya ke tanah. Tak hanya itu saja, tubuh Viona dengan kasarnya ia dorong ke belakang beruntung Axel sigap menahannya dan menarik Viona ke belakang punggungnya.


"Pergi kalian dari sini! Saya tidak akan pernah mengampuni perbuatan kamu dan ibumu itu! Sampai mati pun tidak akan pernah!"


Viona terdiam mendengar ucapan sumpah dari sang nenek. Air matanya jatuh seketika tanpa bisa ia tahan lagi.


"Ayo, Vio. Kita pulang. Tidak ada yang perlu kamu salahkan pada dirimu sendiri. Kamu tidak salah apa pun. Ayo pulang,"


"Ayo pulang, pernikahan kita yang harus bisa bahagia jauh lebih penting dari ini semua. Aku suamimu sekarang. Patuhlah padaku." segera Viona mengikuti langkah sang suami menuju mobil sembari menunduk mengusap air matanya.


"Ibu benar-benar keterlaluan!" suara di depan rumah itu terdengar memaki. Namun, Viona tak lagi mau menatap mereka. Jelas terdengar jika itu adalah suara dari Eko. Dimana pertengkaran terdengar.

__ADS_1


Axel segera melajukan mobil meninggalkan rumah itu. Hatinya benar-benar kesal melihat sang istri di perlakukan seperti itu. Melihat bagaimana Viona sangat antusias menata kue buatannya hingga kini justru berakhir pada tanah yang bertebaran kue-kue buatan tangan Viona.


Selama perjalanan hingga tiba di rumah, Viona sama sekali tak berbicara. Ia tahu Axel sangat marah saat ini. Viona sadar jika dirinya yang terlalu keras kepala, bahkan saat tiba di rumah ia tak lagi melihat sang suami menegurnya. Ketika Axel sudah mengantar Viona masuk ke rumah, saat itu pula pria tersebut melajukan mobil kembali ke kantor. Yah itu yang Viona dengan dari suara sang suami saat bicara pada sang ibu.


"Vi, ini Vino sepertinya mau tidur siang sama ibunya." Anna mengantar Vino kecil ke arah Viona. Dan di sambut dengan wajah terpaksa senyum.


"Makasih yah, Bu. Sudah bantu jagain Vino." ujar Viona.


Anna dan Lillia pun pamit pulang saat itu juga sebelum Danny pulang dari kantor. Viona hanya bertiga dengan pelayan di rumahnya.


Tak ada yang tahu jika saat ini Yara justru mengurung di kamar usai mendapat bentakan dari sang suami.


"Ibu dari awal ayah diamkan tidak juga sadar. Kita ini sudah tua. Bagaimana dengan anak dan cucu kita bisa memberikan contoh yang baik? Kalau ibu sendiri justru seperti ini? Sudah cukup ibu membuat masalah jadi besar. Viona sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Kalau pun ada yang di salahkan, ya itu ibu! Ayah diam, jangan ibu pikir semua sudah selesai yah? Pernikahan kita hampir di ambang kehancuran karena siapa? Ibu kan? Kenapa justru Nada mengalami hal itu ibu tidak bisa terima? Ingat bu, Tuhan memberikan hukuman semua pasti dengan cara yang tidak kita duga dan sakit yang sangat terasa. Selama ini ayah diam, tapi ibu justru semakin lupa diri dengan kekhilafan yang ibu perbuat."

__ADS_1


Untuk pertama kalinya suami dari Yara berbicara panjang bahkan sampai mengungkit masa lalu pernikahan mereka. Dimana Yara sempat bermain dengan pria lain di luar sana ketika sang suami sibuk bekerja keluar kota. Jarang berada di rumah menjadi alasan wanita itu merasa kesepian. Beruntung ia memiliki suami yang sangat sabar dan tegas. Eko memaafkan semuanya dan bersedia memulai semua dari awal kembali.


__ADS_2