Heart For My Sister

Heart For My Sister
Kedatangan Zaniah dan Firhan


__ADS_3

Meski awalnya menolak, pada akhirnya Axel dan Viona pun hanya menurut saat Lillia hanya diam menatap keduanya bergantian. Pelan dan Ragu Axel mulai mengangkat tangan menyuapi sang istri. Matanya menatap bibir ranum wanita muda itu. Baginya memang Viona masih sangatlah muda. Tanpa keduanya sadari, di sini Lillia tersenyum dan diam-diam mengabadikan momen itu di ponsel miliknya.


“Perasaan apa ini, Axel? Kau membencinya. Dia wanita yang menyebabkan Tiara pergi.” Lagi dan lagi Axel berusaha menahan kemarahannya yang terasa tidak sebesar dulu lagi pada Viona. Bahkan ketika memberikan suapan pada sang istri, jelas Axel merasa ia baik-baik saja di pikirannya dan hatinya. Tak ada perasaan ingin menyuapi dengan kasar atau yang lainnya.


Tiga bulan hidup bersama sepertinya ia mulai menerima semua keadaan namun belum bisa mengakui jika ketenangan sudah ia dapatkan kembali.


“Aku sudah kenyang.” Ucapan Viona membuyarkan lamunan Axel yang terus menatap bibir ranum itu saat memberikan makan dengan sendok.


Axel yang mengerti ucapan dokter, hanya melirik sekilas sang nenek lalu memberikan obat serta membawakan segelas air untuk Viona.


“Yasudah, hari ini kau rawat Viona baik-baik sebab nenek ingin menonton film kesukaan nenek dulu di depan.” pintah Lillia yang masih mengembangkan senyuman gemas melihat dua bocah di depannya saat ini.

__ADS_1


“Tapi, Nek. Aku harus ke kantor…” Belum sempat Axel memberikan alasan lebih lanjut sang nenek lebih dulu berucap.


“Ayahmu akan segera datang dan menghandle semuanya. Persiapkan dirimu, Axel. Ibumu akan tiba hari ini.” ujar Lillia yang membuat Axel kaget setengah mati.


Pasalnya sang ayah di luar negeri untuk berobat, bagaimana mungkin pulang secepat ini. Tentu ia jadi merasa bersalah.


“Nenek, ayah sedang sakit. Mengapa harus pulang?” tanya Axel mencemaskan keadaan Danny yang harus menjalani perawatan intensif di luar negeri.


Segera setelah itu Axel duduk memikirkan semuanya. Sementara Viona yang akhirnya di izinkan berbaring di kasur nampak membelangi pria itu. Tak akan mudah kata maaf ia berikan pada Axel.


Semakin pusing kini Axel rasakan. Kedatangan sang ayah menjadi perasaan bersalah yang sangat besar baginya. Bagaimana mungkin kedua orang tuanya sampai nekat untuk pulang sementara kesehatan Danny sedang terancam.

__ADS_1


Dan tanpa ia tahu di depan juga saat ini Lillia tengah menyambut kedatangan Zaniah bersama Firhan.


Lama tak berjumpa membuat mereka bertiga tertawa lucu melihat wajah mereka yang sudah sama-sama menua. Tak ada lagi perselisihan di antara mereka seperti dulu. Dan Firhan juga menerima dengan lapang dada semua yang terjadi akibat ulah Zaniah. Kini mereka hidup di usia senja dengan ketenangan. Hanya mengurus hidup anak-anak mereka san juga para cucu mereka.


“Ayo masuk. Axel sedang mengurus Viona di dalam.” ajak Lillia.


Meski pun Firhan dan Zaniah bukan kedua kakek dan nenek kandung dari Axel, tapi mereka begitu menyayangi Axel seperti cucu mereka sendiri. Danny memang bukanlah anak kandung mereka, namun hidup sejak bayi bersama Zaniah tentu membuat mereka merasa sangat dekat layaknya hubungan darah.


“Bagaimana keadaan Viona, Zen?” tanya Zaniah.


“Yah sudah baikan, Zan. Hanya saja aku sangat yakin mereka itu perang dingin. Hidup berdua membuat mereka leluasa melakukan apa pun yang mereka mau tanpa berpikir dampaknya bahkan Viona sampai tekanan darahnya naik. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Axel. Padahal dia sendiri yang ingin menikah tanpa ada perjodohan.” Zaniah terkekeh mendengarkan keluhan sahabatnya itu.

__ADS_1


Hubungan mereka yang sempat renggang bertahun-tahun akhirnya kembali seperti masa muda lagi. Namun, sayang usia senja mereka sebagai batas yang mengatakan jika persahabatan mereka sebentar lagi pasti akan berakhir.


__ADS_2