
Axel yang baru saja keluar kamar dengan wajah segarnya nampak mencari keberadaan sang istri yang ternyata sudah duduk menikmati suasana di danau hijau yang begitu indah. Pria itu berjalan hendak mengubungi sang ibu lebih dulu lalu menghampiri sang istri.
"Xel, kamu dimana?" tanya Anna yang mengangkat panggilan sang anak.
"Iya, Bu. Ini sedang di villa."
"Kamu kenapa nggak bicara sama kita semua mengenai kepergian Tiara? Selama ini kamu merahasiakan dari orangtua mu sendiri. Itu artinya kamu nggak percaya dengan ibu dan ayah?" mendengar sang ibu bertanya seperti itu, Axel menghela napas kasar. Kini keluarganya telah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Axel pun tak lagi bisa menutupi semuanya. Yang terpenting Viona tidak tahu dan entah sampai kapan ini semua di tutupi dari sang istri.
Meski Viona telah hamil, namun wanita itu masih saja tidak mencintai dirinya. Dimana artinya masih begitu besar kemungkinan wanita itu akan memilih berpisah darinya setelah tahu semuanya kebenaran sang kakak.
"Bu, kita bahas ini setelah aku pulang yah? Di sini ada Viona. Jangan sampai aku salah mengambil langkah dan menyebabkan semuanya kacau. Aku rasa ibu juga sudah mendengar banyak penjelasan dari mertuaku." panggilan pun akhirnya usai ketika Anna bercerita banyak hal yang di katakan oleh Danish padanya dan keluarganya kemarin.
Baru saja pria itu ingin bergegas meninggalkan villa menyusul sang istri, Raisa sudah lebih dulu menghampirinya. Tentu dengan wajah yang sudah segar meski selalu terlihat cantik sejak bangun tidur tadi. Raisa berusaha semaksimal mungkin tetap tampail sempurna selama satu atap dengan Axel.
"Ayo sarapan...aku baru saja membantu Bibi menyiapkan sarapan." ajak Raisa yang menggandeng tangan Axel dengan wajah tersenyum. Tak perduli pria itu menatapnya dengan tatapan heran. Axel tak mau melanjutkan langkah mengikuti langkah Raisa. Ia memilih menoleh ke arah Viona di mana sang istri sudah berjalan ke arahnya dengan memegang ponsel.
Raisa begitu enggan melepaskan tangan Axel, bahkan ketika pria itu meminta di lepaskan. "Raisa, lepaskan tanganku." pintah Axel yang di acuhkan begitu saja oleh Raisa.
Axel menepis kasar tangan wanita itu saat melihat Viona sudah berada di hadapan mereka. Bukannya menegur sikap keduanya, wanita itu justru berlalu melewati Axel dan Raisa begitu saja. Viona duduk di meja makan dan pelayan melayaninya dengan begitu baik.
Axel yang kesal, segera menyusul sang istri. Raisa hanya menaikkan sebelah alisnya melihat punggung pria tampan itu menjauh. Axel pikir hanya sampai di situ saja, namun ia salah. Kini Raisa justru terang-terangan menunjukkan sikap perhatiannya pada Axel. Piring kosong di depan Axel segera wanita itu ambil dan isi dengan nasi serta lauk lainnya.
__ADS_1
Melihat itu Viona hanya diam saja. Ia enggan berurusan dengan wanita yang bukan tanggung jawabnya membawa kemari. Sepertiny Raisa tak bisa lagi bersikap tertutup mengejar cinta Axel setelah apa yang terjadi semalam. Menggendong Viona, membuat Raisa sangat yakin jika ia tidak boleh lengah sedikit pun.
"Vio, ambilkan aku makan. Dan itu makanlah, Raisa. Aku akan meminta Viona mengambilkan untukku." pintah Axel yang dengan jelas menolak pemberian dari Raisa.
Ada istri yang sudah menjadi kewajibannya untuk melayani Axel, bukan Raisa. Mendengar ucapan Axel, Raisa tersenyum lembut saat melihat Viona yang hanya acuh dan menikmati makannya seorang diri.
"Ini makanlah pemberianku." Raisa menyodorkan kembali makan ke depan Axel. Axel yang kesal sama sekali tak berniat memakan pemberian Raisa. Entah mengapa sikap wanita di depannya ini berbeda sekali dengan pertama kali ia bertemu.
"Raisa, tujuanmu kemari bukankah ingin liburan? Tidak mungkin liburanmu hanya ingin tinggal di villa kami bukan?" melihat reaksi Viona yang sejak tadi benar-benar tidak memperdulikan mereka, membuat Axel harus segera mengatakan pada Raisa untuk pergi dari sini.
Ia sudah berjanji pada sang istri agar meminta Raisa pergi dari tempat mereka. Dan inilah waktu yang tepat dimana bukan hanya Viona saja yang merasa tak nyaman dengan keberadaan Raisa. Axel jauh lebih tak nyaman dengan sikap Raisa padanya.
Raisa yang mendengar pertanyaan dari Axel, mendadak memperlihatkan wajah sedihnya.
Viona masih diam sibuk menikmati sarapan yang terasa hambar saat ini setelah mendengar drama Raisa. Kesal tentu saja mengapa harus membawa-bawa nama sang kakak untuk menjadikan alasan agar ingin tetap di vila ini.
"Kak Tiara benar memang lebih baik pergi menjauh dari sahabat berbisa sepertinya." gumam Viona.
Dan Axel yang mendengar nama sang kekasih di sebut Raisa mendadak kacau saat ini. Pria itu beranjak dari tempat duduknya tanpa menyentuh satu sendok pun makanan di piringnya.
Pria itu melangkah masuk ke kamar meninggalkan Viona dan Raisa berdua di meja makan. Keheningan pun berlangsung cukup lama hingga akhirnya Viona usai dengan sarapan dan juga minum susu hamilnya. Ia menuju kamar ingin mengambil alat lukis dan kembali duduk di tepi danau. Pemandangan yang begitu memanjakan mata tak bisa membuat Viona tenang berlama-lama di kamarnya.
__ADS_1
Wanita hamil itu sangat terkejut saat melihat pemandangan di kamar yang sudah nampak rapi.
"Ayo pakai jaketmu, kita akan pindah dari sini." ajak Axel yang mendekati Viona dan memakaikan mantel tebal di tubuh sang istri.
Tentu saja Viona tidak setuju dengan hal itu. Mengapa harus dia yang pergi? Ini villa sejak pertama sudah menjadi tempatnya yang di sediakan oleh sang opa mertua. Tidak, Viona tidak mau pergi. Ia sudah sangat menyukai tempat tinggalnya saat ini.
"Tidak, Kak. Aku akan tetap di sini. Jika harus ada yang pergi itu bukan aku." Viona membantah dengan tegas. Ini semua adalah haknya, mengapa harus dia yang mengalah.
"Vio, ayolah. Kita pergi dari sini saja. Ini semua demi keamanan kita." bujuk Axel sebab ia tidak mau bersusah payah membuang waktu untuk meminta Raisa pergi. Sudah jelas ia melihat Raisa tak berniat pergi dari villa ini. Tanpa ia tahu jika tujuan sebenarnya wanita itu adalah dirinya.
"Tidak, kak. Aku akan tetap di sini. Mengapa bukan dia saja yang di suruh pergi? Bukankah itu janji kakak sebelumnya?" tanya Viona yang terdengar berkeras pada pendiriannya.
Axel merasa sang istri begitu keras kepala. Entah karena memang pada dasarnya seperti itu atau karena bawaan hamil. Namun, jelas sejak hidup bersama Axel mulai melihat sosok Viona yang sangat keras dengan pendiriannya. Berbeda dengan Tiara yang lebih banyak mengalah demi ketenangan.
"Vio, tolong mengerti...jangan keras kepala seperti ini. Ayo kita pergi sekarang. Kita akan pindah ke tempat yang lebih nyaman aku janji."
"Tidak, Kak." sentak Viona membulatkan mata. Sumpah demi apa pun Viona tidak ingin terlihat lemah di depan Raisa. Cukup sang kakak yang selama ini hanya diam berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Vio, jangan seperti ini. Kenapa sih kamu beda sekali dengan Tiara? Kamu terlalu keras kepala! Egois!" tak sadar Axel berucap demikian dimana Viona membulatkan mata marah mendengar ucapan sang suami.
Apa harus dengan kata membandingkan seperti itu untuk memaksa Viona. Sadar jika dirinya memang keras kepala. Viona memilih keluar dari kamar meninggalkan Axel, wanita itu bergegas kembali duduk di tepi danau menenangkan diri meski air mata sesekali menetes di kedua pipinya.
__ADS_1
Axel yang hendak menyusul sang istri menghentikan langkah sejenak melihat punggung Viona dari kejauhan.