
Beberapa mobil telah berkumpul di kediaman milik Danish. Semua menantikan hal apa yang ingin pria itu sampaikan pada mereka. Pagi-pagi sekali, mereka semua siap berangkat menuju lokasi yang mereka sendiri tidak tahu. Melihat wajah Nada yang kembali sedih membuat Anna dan ibu kandung Danny mendekat mengusap lengan sang besan. Mereka semakin penasaran saat ini.
“Ayo kita berangkat sekarang.” ajak Danish yang di ikuti oleh mereka semua.
Mobil pun beriringan di jalan besar membelah kemacetan pagi itu. Hingga beberapa waktu berlalu sebuah gerbang pemakaman yang terletak di daerah pusat kota telah mereka masuki, semua saling pandang di dalam mobil seolah bertanya apa ini? Siapa yang akan mereka kunjungi di makam tersebut?
Danis pun turun lebih dulu memegang bahu sang istri. Berbagai bunga untuk ziarah telah mereka bawa dari dalam mobil.
Semua terus melangkah tanpa ada yang bersuara. Sebentar lagi semuanya akan terjawab dan benarlah. Tak ada satu pun dari mereka yang tenang melihat nama nisan di makam itu. Serempat mereka membulatkan mata dan membungkam bibir mereka.
“Hah? T-tiara?”
“T-tiara Mustika? Tiara?”
Begitulah suara dari bibir mereka terdengar sangat syok. Nada yang tak kuasa melihat makam sang anak kembali menangis memeluk sang suami. Ia pikir dirinya telah kuat menatap makam sang anak tanpa meneteskan air mata. Ternyata salah, baginya Tiara masih ia harapkan hidup dan ini hanya mimpi buruk.
“Tiara…” suara pilu Nada terdengar bergetar di dada bidang sang suami.
Danish mengusap kepala sang istri sembari terus membisikkan kata-kata menenangkan sang istri.
“Bu, tenang. Jangan buat Tiara kita sedih. Sudah cukup kesedihannya ketika pergi. Ayah yakin ini semua sangat sulit ia terima meski pada akhirnya Tiara memilih mempercepat usianya…”
__ADS_1
“Nada, ayo kita doakan Tiara.” Pelan Lillia berucap sembari mengusap bahu Nada.
Ingin bertanya ada apa ini? Apa penyebabnya? Kapan? Dan bagaimana bisa mereka tidak tahu? Tapi Lillia rasa ini bukanlah waktu yang tepat. Yah, sepulang dari sini mungkin mereka bisa bertanya demikian.
Firhan yang jongkok pun mulai membacakan surah-surah pada almarhumah Tiara. Dimana gadis periang dan cantik yang selama ini mereka pertanyakan keberadaannya tengah lebih dulu menghadap sang kuasa menanti doa-doa dari orang yang sayang padanya.
Semua duduk mengaminkan doa Firhan, sedangkan Danish terus berusaha menenangkan sang istri yang terisak di pelukannya.
Selang beberapa menit bunga indah berwarna warni mulai mereka tebarkan bergantian. Setelahnya barulah Nada memeluk nisan sang anak dan menciumnya berkali-kali. Semua turut merasakan kesedihan mendalam wanita itu. Bahkan Danish pun menunduk mengusap air matanya yang jatuh beberapa kali meski suaranya tak ada terdengar sama sekali.
“Terimakasih banyak semuanya atas ketersediaan kalian untuk menjenguk Tiara pagi ini…” belum usai Danish berkata, Danny justru memeluk sang baesan dan menepuk pundaknya.
Memiliki anak tentu bisa membuatnya turut merasakan apa yang Danish rasakan juga. Ia melihat Danish kesulitan bicara karena menahan sesak di dadanya.
Anna yang bergabung dengan sang supir dan juga sang ibu. Sementara Firhan satu mobil dengan Zaniah. Dan mobil satunya lagi adalah kedua orang tua kandung Danny.
Sepanjang jalan Nada kembali terus meneteskan air mata. Berpikir selama ini ia sudah bisa lebih baik dan memulai semuanya tanpa air mata, nyatanya melihat pusara sang anak membuatnya tak bisa lagi mengontrol tangis sedihnya.
Semua ibu pasti akan merasakan hal yang sama dengan Nada. Tak ada satu pun ibu yang bisa menahan kesedihan sebab kepergian sang anak. Membesarkan bertahun-tahun hingga tumbuh dewasa tentu bukan hal yang singkat. Begitu banyak kenangan yang terukir dan sangat sulit untuk di lupakan.
Setiba di rumah pun, Nada hanya bisa masuk kamar di atar sang suami dan membaringkannya. Danish yang melihat tangisan sang istri mulai reda segera beranjak menuju ruang tamu.
__ADS_1
Semua yang duduk ia lihat tentu menatapnya penuh tuntutan. Meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya.
Danish menarik napasnya dalam lalu menghembuskan perlahan. Ia pun mulai bercerita sejak Tiara di vonis memiliki penyakit yang bahkan sudah stadium akhir. Dan itu baru mereka ketahui dalam waktu dekat. Tak ada gejala yang menurut mereka serius selama ini hingga hal tersebut cukup membuat keluarga sangat syok. Terutama sang ibu. Bahkan Axel pun juga tak kalah syoknya mengetahui apa yang terjadi pada sang kekasih.
Hingga keputusan Tiara yang mendonorkan jantung pada sang adik terdengar dari bibir Danish. Semua serentak menegapkan tubuh mereka dari dududknya dengan bibir yang terbuka lebar. Kebenaran yang begitu sangat mengejutkan tentunya.
Berakhir dengan pesan Tiara untuk mereka semua dan termasuk Axel yang harus merahasiakan ini semua dari Viona. Setidaknya sampai Viona bisa menerima pernikahan mereka dan memiliki anak. Sebab Tiara yakin sekali, jika sampai Viona tahu kebenarannya di saat ini, pasti ia akan meninggalkan Axel dengan rasa bersalah pada sang kakak yang begitu besar.
Viona pasti akan merasa dirinya sumber masalah, yang membuat sang kakak pergi demi mendonorkan jantung. Dan ia sendiri begitu kejamnya justru menikahi pria yang begitu di cintai oleh Tiara.
“Tiara…dia memang gadis yang sangat baik. Kenapa bisa seperti ini nasibnya?” Ayah kandung Danny berucap sembari menggelengkan kepala tak menyangka.
Danish berkaca-kaca usai menceritakan ketulusan sang anak untuk adiknya. Merelakan jantung dan juga belahan jiwanya dalam waktu hampir bersamaan untuk sang adik. Sungguh luar biasa kekuatan Tiara.
“Tapi syukurlah sekarang Axel dan Viona sudah menikah. Itu artinya keinginan terakhir Tiara sudah terwujudkan. Semoga saja mereka baik-baik saja sampai akhir nanti.” ucapan Firhan hanya bisa mereka aminkan.
Anna terduduk lemas mendengarnya. Kemana ia selama ini terus mencari Tiara. Ternyata wanita itu sudah tiada.
“Maafkan kami yang tidak tahu soal semuanya, Pak Danish. Kami benar-benar tidak mendengar kabar apa pun.” ujar Anna yang merasa sungkan dengan sang besan.
Danish yang mengangguk. “Tidak apa-apa, Bu Anna. Sebab memang pemakamannya tidak banyak di ketahui orang. Kami hanya takut jika sampai Viona mendengar ini semua dari orang lain nantinya.
__ADS_1
Hari itu kedua belah pihak keluarga pun berakhir menenangkan dan memberi semangat pada kedua orang tua Tiara.
Mereka merasa dengan adanya pernikahan Axel dan Viona mereka begitu semakin dekat saat ini.