Heart For My Sister

Heart For My Sister
Viona Belum Kembali


__ADS_3

"Usia kita sepertinya tidak begitu jauh..." pria tua itu nampak berbicara pada Lillia yang tersenyum kikuk. Mendapat tatapan seperti itu dari orang asing rasanya begitu aneh. Dan semua yang ada di meja makan saling menahan senyum mereka masing-masing.


"Hehehe...iya. Tapi maaf di usia tua seperti ini saya tidak ingin berteman dengan siapa pun. Sudah cukup saya menghibur diri dengan semua cucu dan cicit yang akan hadir nantinya." Semua pun terkekeh mendengar penolakan yang langsung Lillia utarakan.


Hingga tawa kehebohan di meja makan tak sadar membuat seorang wanita merasa penasaran. Apa yang sebenarnya membuat keluarganya begitu terhibur?


"Siapa sih tamu Kak Axel? Apa dia seorang wanita? Mengapa semua ikut tertawa bahkan melupakan aku di kamar." gerutu Viona kesal seolah dirinya di lupakan saat ini.


Pelan namun pasti ia pun melangkah menuju meja makan dengan mengendap-endap hingga tiba di sudut ruangan antara ruang tengah dan meja makan, Viona tak juga bisa melihat sosok yang membuatnya penasaran.


"Jika teman tidak bisa, pendamping hidup artinya bisa bukan? Iya kan Axel?" celoteh Danish yang di sambut tawa semuanya. Padahal mereka saat ini sedang menggoda Lillia dan tamu dari Axel. Namun, tak sadar jika mereka telah membuat Viona mengeluarkan tanduk berpikir jika Axel dan sang ayah sedang menggoda satu wanita asing.


Berjingkrak-jingkrak seorang diri, Viona memukul-mukul dinding karena tidak bisa melihat siapa sosok yang membuatnya penasaran, akhirnya Viona hanya berdiri di balik tiang pembatas itu. Hingga tak sadar gerakannya justru menggeser nakas yang terpajang rapi di sudut tiang itu.


Semua mata menatap ke arah tempat Viona berdiri.


"Viona?" Danish bersuara lebih dulu, dan Viona yang mendengar namanya di sebut pun menoleh ke sumber suara. Gugup dan malu tentu saja ia rasakan saat ini.


"Ayah, aku mau ke dapur ambil minum." buru-buru Viona menuju dapur mengambil gelas sembari merutuki kebodohannya. Ingatannya sangat jelas melihat wajah pria tua satu-satunya yang asing di sana. Tidak ada satu pun orang lagi yang asing duduk di kursi meja makan.

__ADS_1


"Argh...kenapa sih aku?" kesalnya sendiri.


"Ehm." Viona begitu kaget mendengar deheman dari Axel. Ia berbalik badan dan melihat pria tampan itu sudah berdiri di depannya saat ini.


"Ayo," tangannya di genggam hangat oleh Axel menuju meja makan. Viona tak berkata apa-apa lagi selain menurut ajakan sang suami.


"Tuan, ini istri saya. Viona, ini Tuan Raul rekan kerjaku dan juga calon dari nenek." semua terkekeh kembali namun tidak dengan Viona yang hanya diam saat menyapa dengan hormat pria tua di depannya.


Pikirannya masih sibuk memikirkan semua yang terjadi. Sungguh kebodohan yang hakiki. Bagaimana mungkin Viona merasa penasaran dengan sosok pria tua yang menjadi tamu sang suami.


Ingin kembali ke kamar rasanya tidak mungkin bagi Viona, akhirnya ia pun bergabung makan di meja makan dengan Axel yang begitu menunjukkan sikap perhatiannya pada sang istri. Ia mengambilkan makanan ke piring Viona bahkan sampai menyuapi wanita itu.


"Tidak, ayo aku suapi saja." pintah Axel lagi kekeuh.


Mereka semua pun makan bersama dan ini adalah pertama kalinya Viona ikut makan kembali di meja makan bersama keluarganya.


Sejak saat itu pun kehidupan di rumah Axel nampak lebih ramai dengan Viona yang perlahan mulai mau keluar kamar. Ia sering membantu Lillia di dapur ketika membuat kue hingga memasak. Berkat Lillia pula ia sering ikut makan di meja makan.


Hingga pada suatu ketika, Viona memutuskan untuk keluar mencari alat-alat lukis siang hari. Dimana ketika ia ingin melukis ada alat yang sudah habis.

__ADS_1


"Viona, biar nenek temani yah?" ajak Lillia yang melihat Viona tengah bersiap.


"Tidak, Nek. Viona pergi sendiri saja. Sekali-sekali Viona mau lihat keadaan di luar rumah sendirian." jawabnya masih tetap pada pendiriannya.


"Apa itu termasuk ngidam?" tanya Lillia yang di sambut tawa kekehan oleh Viona.


"Yah nggak dong, Nek. Mana ada ngidam pengen jalan sendiri. Lagian cuman sebentar aja kok." ujarnya yang mencium Lillia dan memeluknya saat berpamitan.


Melihat Viona pergi menggunakan taksi, Nada mendekati Lillia dan bertanya. "Bu, Viona mau kemana?" tanya wanita itu yang memang belum bisa mendekati Viona. Ia takut jika keceriaan Viona kembali hilang ketika ia memaksakan diri untuk akrab lagi dengan sang anak.


Sampai detik ini pun Viona masih menyangka jika Axel dan sang ibu tak tulus padanya. Itulah sebabnya ia hanya akan mau bicara dengan Lillia dan juga sang ayah. Sementara Axel, ia tetap bungkam sekali pun tidur satu kamar dan satu ranjang.


"Katanya mau beli alat lukis. Ibu mau antar dia nggak mau katanya cuman sebentar saja langsung pulang." Nada pun menghela napasnya kasar mendengar ucapan Lillia.


Ia sedih melihat sang anak yang menjauhi dirinya. "Sabar, ada waktunya semua akan baik-baik saja. Yang penting tetap dukung Viona dalam hal apa pun itu." tutur Lillia memegang bahu Nada memberikan semangat.


Mereka pun masuk ke rumah kembali setelah Viona pergi. Dan waktu yang berjalan begitu cepat tak terasa sudah hampir lima jam perginya Viona dari rumah hingga saat ini ia tak kunjung kembali. Lillia yang baru bangun dari tidurnya melihat Nada berjalan keluar dari kamar Viona.


"Sedang apa, Viona?" tanya Lillia pada Nada.

__ADS_1


"Saya baru memastikan Viona sudah pulang atau belum, Bu. Ternyata kamarnya masih kosong. Saya mau telepon Viona dulu." ujar Nada yang di angguki cepat oleh Lillia.


__ADS_2