
"Viona bukanlah anak kami, Axel. Dia memang adiknya Tiara tetapi bukan anak dari rahim saya. Dulu seorang wanita menjebak ayahnya Tiara tidur dengannya ketika terpengaruh obat yang di berikan seorang lawan bisnisnya. Entah sejak kapan wanita itu memiliki ketertarikan dengan ayahnya Tiara. Hingga saat usia Tira berkisar lima tahun kami di kejutkan dengan kedatangan ayahnya bersama anak kecil cantik dengan mata bulat polos miliknya. Saya jatuh cinta melihat tatapan mata indah milik bocah itu. Hingga pada akhirnya tak di sangka hari itu adalah kehancuran hati saya pada ayah Tiara. Kami bertengkar hebat sampai berlarut-larut. Kejadian itu di ceritakan dan sampai terdengar di telinga Ama dan Apa. Kami panik ketika mendengar kabar Ama jatuh sakit mendengar keributan kami. Dan sejak saat itulah kami berakhir dengan memilih sendiri-sendiri dulu meski ayahnya Tiara sangat menolaknya. Saya pikir saya bisa meninggalkan Ayah Tiara begitu saja dengan amarah ternyata tidak. Kami berdua sama-sama mengakui tidak bisa jika hidup sendiri-sendiri. Dan kami pun membuat kesepakatan untuk tetap bersama dan merawat Viona seperti anak saya sendiri. Hingga di usia sepuluh tahun anak ini, ibunya kecelakaan sebelum benar-benar menghembuskan napasnya ia berpesan padaku meminta untuk menjaga Viona dan sangat meminta maaf atas perbuatannya. Saya menerima semua itu sebagai anggapan jika pernikahan kami sedang di uji. Dan kabar meninggalnya sang ibu tidak kami beri tahu pada Ama sebab apa pun yang terjadi Ama sama sekali tidak ingin mendengarnya." panjang Axel mendengar kisah masa lalu sang mertua.
"Jadi, apa Ama juga membenci saya seperti membenci Viona, Bu?" sahut Axel kembali terdengar.
"Dia bukan membencimu, Axel. Ama hanya tidak terima apa yang Tiara miliki di rebut oleh Viona. Sabarlah semoga kelak ada keajaiban Ama akan menerima mu dan juga Viona."
Malam itu pun mereka tidur dengan tenang setelah dongeng panjang kisah nyata Danish dan Nada. Ketika subuh suara tangis Viona kembali menggema hingga membuat semuanya terbangun tiba-tiba.
"Kak Tiara!" teriakan yang sangat kuat dan wanita itu terlihat masih memejamkan mata. Namun air mata sudah kembali mengalir di wajahnya.
Axel dan kedua orangtuanya bangun dengan cepat.
__ADS_1
"Vi! Viona! Bangun sayang. Bangun, hei..." pelan Axel mengusap wajah sang istri. Sedih rasanya melihat wajah sang istri yang begitu kurus saat ini.
"Kak Tiara! Aku minta maaf. Aku tidak mau ini semua. Ambil jantungku, Kak. Ambil." Viona menangis dengan membuka sayup kedua matanya.
Axel bergerak memeluk sang istri, namun bukannya tenang Viona justru memukul wajah tampan sang suami.
"Pergi! Pergi dariku!" teriak Viona kembali lagi.
"Hei anak Ayah...Viona. Kak Tiara sedih melihatmu seperti ini." ujar Danish begitu sabar.
Tak perduli siapa yang berbicara padanya, Viona tak mau melihat ia justru menutup wajahnya menangis kembali histeris. Semua kembali bingung sementara Nada kini baru sadar jika Viona tak akan bisa menurut padanya. Sebab anak itu tak memiliki ikatan batin dengannya. Tetapi, mengapa dengan Lillia bisa tenang? Apa Nada masih kurang menyalurkan ketulusannya pada Viona.
__ADS_1
Hanya menangis yang bisa di lakukan Viona saat ini tanpa bisa bangun. Hingga sejak saat itu berlalu kini tak terasa sudah waktunya sidang putusan Raisa. Dimana Viona pun sudah kembali ke rumah sang suami. Ia akan mendapatkan therapi dari seorang psikolog nantinya.
Semua duduk tegang menanti putusan hakim setelah beberapa kali melewati sidang. Raisa benar-benar tak bisa meloloskan diri dari tuntutan seorang Axel. Kedua orangtuanya pun juga sudah memasrahkan semua pada keluarga Viona.
Hingga semua tampak menghela napas saat mendengar vonis hakim untuk Raisa dimana terdengar putusan penjara selama tiga tahun enam bulan. Raisa terduduk meneteskan air mata mendengar hukumannya yang sangat lama itu. Padahal dirinya sama sekali tidak menyentuh Viona saat itu. Bagaimana mungkin dirinya justru mendapat hukuman hingga hitungan tahun.
Tanpa ia tahu jika Viona berbulan-bulan pun terus menderita dengan ulahnya. Hingga kini perut wanita itu sudah kian membesar keadaan masih tak kunjung ada perubahan.
Danish bahkan tak hadir saat bacaan vonis tersebut. Sebab pria itu yang menjaga Viona di rumah, sementara Nada dan juga Axel yang datang menyaksikan semuanya. Memastikan jika semua sesuai dengan keinginan mereka.
"Mah, Papah! Tolong aku!" Raisa di giring polisi untuk di bawa ke dalam sel tahanan dengan teriakan menangis memohon. Kedua orang tuanya hanya saling memeluk menguatkan menangis melihat satu-satunya anak mereka sudah menjadi tahanan. Jika pun bebas nantinya, Raisa akan menyandang status mantan narapidana. Tentu sebutan itu tak akan bisa di hilangkan seumur hidup.
__ADS_1