
Di kamar nuansa putih bersih pagi itu seorang wanita yang berperut buncit nampak duduk menyendiri. Keadaan yang sangat menyedihkan terlihat jelas di wajah wanita itu sampai detik ini. Waktu yang berjalan sudah cukup lama tak kunjung membuatnya berangsung sehat. Meski sedikit jauh lebih tenang dari sebelumnya. Hanya saja untuk berbicara masih tidak mau ia lakukan. Usia kandungan yang sudah menginjak sembilan bulan membuat Viona terlihat semakin cantik dan segar. Napsu makannya pun juga mulai semakin banyak akibat perkembangan janin yang semakin besar saat ini.
Dari arah pintu terlihat sepasang mata menatap hangat padanya dengan makanan di tangan yang ia pegang. Pagi itu Axel sudah nampak rapi dengan pakaian kerjanya. Pria itu menghampiri sang istri untuk memberikan maka sebelum ia pergi.
"Sayang, makan dulu yah? Dedeknya pasti juga sudah lapar banget ini." ujar pria tampan itu mengusap perut buncit Viona.
Seperti biasa Viona sama sekali tak bersuara, bibirnya terbuka untuk menerima suapan dari sang suami. Setidaknya begini sudah lebih dari cukup untuknya.
"Setelah ini aku harus pergi ke kantor. Kamu sama ibu dan nenek baik-baik di rumah yah?" ujar Axel masih dengan telaten mengajak bicara sang istri sembari mengusap kepalanya lembut.
Axel pun pamit pada Nada dan juga Lillia ketika berangat menuju kantor. Dua wanita itu yang akan menjaga Viona di rumah. Beruntung mereka sama-sama tidak keberatan untuk membantu Axel melihat keadaan psikis Viona yang memang kurang memungkinkan untuk di tinggal dengan pelayan saja. Terlebih keadaan tubuhnya yang tinggal menunggu hari untuk melahirkan saat ini.
Baru saja keduanya hendak memasuki rumah, tiba-tiba sebuah mobil datang kembali memasuki halam rumah milik Axel. Dan Nada tahu mobil milik siapa itu. Kini ia menghela napas lelah mengetahui seseorang yang datang saat ini.
"Ibu masuk duluan yah?" ujar Lillia saat baru saja usai menyapa siapa yang datang. Ia merasa ingin memberikan ruang untuk Nada dan ibunya.
Yah benar, yang datang adalah Yara dan sang suami pagi itu. Entah apa tujuannya ke rumah Axel. Yang jelas sejak pertama menginjakkan kaki di halaman itu tampak jelas wajahnya mengedar memandangi setiap sudut bangunan megah milik Axel dan Viona. Tatapannya menampakkan aura sangat tidak suka. Dan Lillia bisa melihat itu, sebab itulah ia memilih pergi sadar akan ada masalah di bawa wanita tua yang sebaya dengannya.
"Masih betah kamu tinggal di sini jadi pembantunya, Nada?" sinis pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Yara.
"Ama, tadi katanya kesini mau jenguk Nada." sahut sang suami yang mengingatkan ucapan sang istri ketika meminta di temani pergi.
Bukannya sadar, Nada justru berdecih kesal pada sang suami. Nada pun bergegas mempersilahkan sang ama untuk masuk ke dalam rumah. Ia tidak ingin ribut di depan rumah. Berbicara dengan wanita tua itu tentu akan sangat membutuhkan tenaga yang lebih ekstra.
__ADS_1
"Nada, kita pulang ke rumah hari ini. Ama mau tinggal di rumahmu." tutur Yara dengan wajah masa bodohnya melihat sang anak mendongak kaget.
"Ama, tidak bisa. Bagaimana dengan-"
"Viona lagi viona lagi? Kamu sadar kamu itu di perbudak sama dia. Mau sampai nenek-nenek kamu jagain dia tetap saja dia itu bukan anak mu. Sudah jangan terlalu membodohi diri sendiri. Dia sudah menikah dan punya keluarga sendiri, Nada. Kita pulang, Ama tidak mau anak Ama di jadikan babu seumur hidupnya yah." Nada menggeleng tak percaya dengan ucapan sang ama.
Matanya berkaca-kaca, sekali pun Viona bukan anak kandungnya tapi ia sudah menyayangi Viona dengan tulus seperti anaknya sendiri. Tidak seharusnya Yara berbicara sekasar itu padanya.
"Ama, kita pulang. Ini di luar kesepakatan kita dari rumah." tegur sang suami yang hendak menarik tangan wanita tua itu dari rumah Axel.
"Apa sih? Apa itu diam saja. Saya yang mengandung dan melahirkan Nada. Saya yang berhak atas anak yang saya kandung. Saya susah payah mengandung mempertaruhkan nyawa melahirkan bagaimana mungkin saya rela melihat anak saya hanya merawat anak dari wanita hina seperti itu? Dia merusak kebahagiaan Nada, Apa. Ingat!"
Keributan yang terjadi tentu terdengar sampai di kamar Lillia. Wanita itu menggeleng mendengar bagaimana kerasnya hati wanita tua itu. Hanya mengusap dada berharap dirinya selalu bisa berlembut hati pada siapa pun.
"Jauhkan aku dari sikap buruk, Tuhan..." tuturnya dalam hati.
"Bu, sudah hentikan." ujar Nada memohon begitu pun dengan sang suami yang juga meminta berhenti. Namun, cekalan tangan wanita tua itu begitu sangat kuat saat ini hingga sulit untuk di lepaskan.
Tari menarik yang semakin riuh tanpa sadar membuat seseorang yang terfokus dengan lamunannya teralihkan seketika. Tatapan kosong dan nanar itu bergerak memutar ke arah pintu kamar yang terbuka. Viona berjalan keluar kamar dengan langkah gemetar mendengar keributan yang terjadi hingga akhirnya ia pun berjalan cepat dan...
"Viona..." lirih bibir Nada berucap saat tangannya di tarik kuat oleh Viona.
Entah mendapat kekuatan dari mana wanita hamil itu sekuat tenaga ia menarik paksa tangan sang ibu.
__ADS_1
"Jangan sakiti ibuku!" teriaknya menggema di ruangan itu dan terlepaslah tarikan tangan dari Yara pada Nada.
Saat itu juga suara teriakan menggema begitu kuatnya.
"Viona!!!" Nada membulatkan mata syok melihat Viona tersungkur ke lantai dengan memegang perutnya yang terasa sakit terlihat dari ringisan dan raut wajahnya menahan sakit.
Semua terdiam syok. Yara yang di tahan oleh sang suami juga turut membungkam bibirnya tak menyangka kejadian akan seperti ini.
"Viona!"
"Argh sakittt!!" Viona menangis di saat Nada meraih tubuhnya untuk membantu berdiri.
"Astaga, Viona." Di kamar ini Lillia mendadak keluar saat mendengar teriakan Nada yang menyebut nama Viona. Sudah bisa di pastikan jika terjadi sesuatu pada sang cucu menantu.
Ketika pintu kamar ia buka, Lillia terdiam sesaat melihat Viona sudah di bantu oleh Nada untuk bangun. Wanita tua itu berjalan cepat menghampiri Viona dengan wajah cemasnya.
"Sakit! Sakit!" teriak Viona yang memegangi perut dan semua semakin kaget melihat di lantai sudah mulai mengalir air yang sepertinya adalah ketuban pecah.
"Bibi, suruh supir siapkan mobil kita ke rumah sakit sekarang." Lillia mondar mandir berteriak karena panik bukan kepalang.
Dan jangan di tanya bagaimana ekspresi wajah dari sepasang suami istri yang membuat kerusuhan di rumah itu, lebih tepatnya hanya sang istrilah perusuhnya. Wanita itu tampak terdiam takut jika sampai terjadi sesuatu pada Viona. Meski tak suka padanya jelas ia tidak ingin jika sampai Axel marah dan menuntutnya seperti Raisa yang membuat Viona depresi sampai saat ini.
Ia tidak ingin bernasib sama dengan Raisa yang saat ini menikmati hari-harinya dengan pakaian paling cerah yaitu berwarna orange.
__ADS_1
Air mata Nada tak terasa jatuh mengingat apa yang terjadi pada Viona. Tak di sangka jika jiwanya yang depresi berat tergerak menolongnya ketika mendengar suara Nada berteriak. Viona begitu refleks menarik kuat tangan sang ibu sembari meminta untuk tidak menyakiti Nada.
Tentu perasaan Nada sebagai ibu menghangat mendapat pembelaan dari Viona. Itu artinya Viona tak sepenuhnya marah padanya selama ini. Ia hanya belum siap menerima semua yang terjadi. Viona tulus memiliki kasih sayang untuk wanita yang sudah baik hati menerimanya sejak kecil dan merawat dengan ikhlas sampai dewasa. Dimana semua tidaklah mudah untuk Nada menghabiskan masa indah keluarganya dengan mengurus bocah kecil yang terus saja sakit-sakitan.