
“Jangan pernah berani meminta pertanggung jawaban atas apa yang tidak aku inginkan! Mengerti kau? Ingat baik-baik, apa pun yang terjadi aku tidak akan pernah mau menyentuhmu.” Viona tak lagi mengeluarkan kata, sebab apa pun yang ia ucapkan pria tersebut tidak akan mau mendengarnya. Kini Axel pergi setelah menghempas kuat tubuh Viona ke dinding taman itu. Ia bergegas pergi dari rumah meninggalkan Viona yang sangat menyedihkan.
“Nyonya, mari saya bantu.” Seorang kepala pelayan yang datang meraih tubuh Viona.
Sebagai wanita ia merasa tak sampai hati melihat sang majikan begitu kasar pada istrinya. Sekali pun Viona tak pernah menampakkan sisi buruknya selama tinggal bersama mereka. Andai Viona wanita yang buruk, tentu saja ia akan melawan atau melakukan hal yang tidak baik di belakang Axel.
Namun, selama ini Viona hanya berkunjung ke rumah orangtuanya. Itupun hanya beberapa kali saja. Sebab setelah itu tak mendapat sambutan hangat dari sang ibu, Viona memilih mengurung diri di rumah sang suami.
“Terimakasih, Bibi.” sahut Viona dengan tangis yang masih saja terlihat sepanjang ia berjalan masuk ke dalam kamar.
Miris tentu saja, Bi Sila sedih melihat Viona yang bahkan hanya boleh tidur di kamar itu dengan beralaskan sofa bukan kasur empuk yang luas. Viona paham akan tatapan pelayan itu yang bergerak memperhatikan tempat tidur besar dan mahal di sisi lain kamar itu.
“Saya tidur di sini, Bi. Jangan di permasalahkan. Sebab Kak Axel memang tidak mau berdekatan dengan saya.” ujar Viona dan pelayan tersebut memilih pamit untuk keluar.
Viona membersihkan diri sore itu merasa tubuhnya kusam terlalu banyak menangis. Ia membereskan keadaan kamar yang kacau. Air matanya jauh sekali lagi melihat darah yang sudah mengering di sprei itu. Tak rela rasanya membiarkan hal yang paling berharga di renggut secara paksa seperti itu. Bahkan Viona mengingat jelas ucapan Axel yang tidak akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi ke depannya.
Sejak hari itu Axel tak pernah lagi mau tidur di kamar yang sama dengan Viona. Ia merasa takut jika sampai menyentuh wanita itu lagi. Setiap hari Axel akan pulang di atas jam dua belas malam. Dan tidur di kamar yang sudah ia sediakan untuknya. Yah, kamar yang penuh dengan barang kenangan Tiara.
“Tuan, sarapan sudah siap.” Pelayan mengetuk pintu kamar Axel pagi itu setelah dua bulan kembali berlalu.
Viona bahkan tak pernah lagi melihat pria itu selama dua bulan. Ia benar-benar mengurung diri di kamar dan tak mau keluar kamar selain untuk makan.
“Saya akan segera keluar.” Teriak Axel dari dalam kamar yang tidak tertutup rapat pintunya.
Pelayan pun ingin pergi namun Axel memintanya masuk.
“Bi, kemarilah.” pintah Axel.
“Iya, Tuan.” Pelayan itu masuk dan menunduk menunggu perintah sang atasan.
Meski setiap hari ia melihat, namun dadanya tetap merasa sesak sebagai wanita. Kamar yang ia datangi setiap pagi penuh dengan kenangan sang mantan dari tuannya. Bagaimana mungkin pria itu hidup dengan semua kenangan masa lalu. Sementara sang istri ia biarkan di kamar seorang diri tanpa menanyakan kabarnya.
“Spreinya ganti dengan yang itu. Saya ingin yang itu untuk malam ini. Ingat bersihkan tapi jangan memindahkan satu barangpun di kamar ini.” Seperti biasa itulah yang Axel perintahkan. Sang pelayan pun hanya bisa patuh saja.
Foto Tiara, lemari baju berisi semua pakaian Tiara, hingga sprei dan pernak pernik kamar semua adalah miliki Tiara. Axel hanya menambahkan beberapa benda pajangan lainnya yang ia beli, dan itu semua adalah kesukaan sang mantan kekasih.
“Kasihan Nyonya Viona.” tuturnya dalam hati.
__ADS_1
Pagi itu Axel pergi bekerja seperti biasa usai sarapan. Tak ada yang tahu jika di kamar yang satu kini Viona sudah tak bisa bangun dari tempat tidurnya. Kepalanya berat dan tubuhnya lemas. Wajah cantik milik Viona begitu terlihat pucat saat ini.
“Nyonya Viona! Nyonya, sarapan sudah siap. Bibi bawakan ke kamar kah?” Lama Bi Sila mengetuk pintu kamar Viona namun tak ada jawaban sama sekali.
Wanita paruh baya itu terheran kala tak mendengar suara apa pun di dalam kamar. Pintu ia buka namun tak bisa. Baru teringat jika sejak kemarin sore Viona sama sekali tak keluar kamar.
“Aduh kalau Nyonya Viona kenapa-napa bagaimana di dalam?” Ia pun panik dan berlari meminta bantuan. Seorang pelayan laki-laki datang membuka pintu dengan kunci cadangan nyatanya tak membuahkan hasil sebab dari dalam Viona sudah menguncinya. Hingga akhirnya mereka harus membongkar kunci pintu kamar tersebut.
Terlihatlah Viona berbaring tak berdaya. Ia hanya melihat nanar kedatangan para pelayan. Ada tawa miris di dalam hati. Dalam keadaan seperti ini pun Viona tak mendapatkan perhatian dari sang suami dan juga keluarganya. Sungguh jika bisa memilih ingin rasanya Viona meminta pada Tuhan untuk di cabut saja nyawanya. Bukan di sembuhkan.
Jika dulu ia berharap setelah mendapat donor dan sembuh dirinya akan menikmati hidup dengan penuh bahagia. Di kelilingi orang-orang yang begitu menyayanginya. Nyatanya semua hanyalah hayalan. Sebab satu pun orang tak ada yang perduli pada Viona. Tiara satu-satunya sosok yang memanjakannya pun entah pergi kemana tanpa kabar.
“Nyonya! Nyonya Viona! Anda kenapa?” Suara panik kepala pelayan pun terdengar begitu saja. Mereka semua panik dan ingin menghubungi Axel, tetapi urung ia lakukan saat Viona memegang tangan Bi Sila dan menggeleng pelan.
“Saya baik-baik saja, Bi. Jangan beri tahu Kak Axel.” Permintaan Viona benar tak di tolak. Sebab Bi Sila sangat tahu sang tuan begitu galak pada istrinya.
Jangan sampai Viona merasakan sakit yang bertambah kala mendapat kemarahan dari Axel.
“Saya hanya pusing, Bi. Mungkin belum makan dari kemarin.” Viona berusaha kuat. Ia tak sanggup jika dalam keadaan seperti ini harus menghadapi kembali kemarahan Axel yang sudah dua bulan tak pernah ia dapatkan.
“Nyonya di sini dengan yang lain. Biar saya siapkan makan hangat yah. Salah satunya bantu jaga Nyonya Viona.” Viona merasa bersyukur melihat perhatian pelayan itu padanya.
Wajah yang pucat berangsur segar saat ini. Meski pun Viona masih hanya berbaring saja tak kuat untuk bangun dari tidurnya.
“Bibi, terimakasih yah sudah rawat Vio hari ini.” tutur Viona menggenggam tangan Bi Sila.
“Ini sudah kewajiban saya, Nyonya. Tapi ada satu hal yang ingin saya tanya.” Kening Viona mengerut mendengar ucapan Bi Sila.
“Apa, Bi?”
“Apakah sebelumnya…em mohon maaf sekali Nyonya kalau saya lancang. Apa Nyonya pernah berhubungan dengan Tuan? Aduh, maksud saya…apa kalian-“
“Memangnya ada apa yah, Bi?” Viona nampak penasaran. Takut jika apa yang ada di dalam dugaannya benar terjadi.
“Sepertinya jika benar, kemungkinan Nyonya hamil.” Melihat dari gejala yahg Viona rasakan dan jarak pernikahan mereka, Bi Sila menduga jika Viona saat ini tengah masa hamil muda.
Terdiam Viona mendengar kata hamil. Astaga Tuhan…apa lagi ini? Belum saja masalahnya selesai, bagaimana dirinya hamil? Bagaimana nasib kandungannya nanti? Viona benar-benar tak tahu lagi sekarang harus berbuat apa.
__ADS_1
Wajahnya sedih sekali membayangkan ia hamil dengan status menjadi istri Axel namun ketika sang anak lahir, pria itu justru tak mau menghiraukan sang anak.
“Mungkin itu hanya perasaan bibi saja, saya juga semula berpikir seperti itu, Bi. Tapi tidak kok. Ini hanya sakit karena magg saja.” ujar Viona yang mengelak ucapan Bi Sila.
Hari itu Viona memutuskan untuk kembali keluar rumah berniat menjenguk sang ayah di perusahaan sembari membeli alat yang harus ia pastikan jika dirinya tidak hamil.
Tepat pada pukuldua belas siang, Viona tiba di perusahaan dimana sang ayah pasti akan istirahat dan makan siang.
“Ayah,” panggil Viona begitu melihat seorang pria membuka pintu ruang kerjanya. Sepertinya Danish ingin menuju restauran untuk makan siang.
“Vio? Kamu kenapa, Nak? Wajahmu pucat dan kurus sekali?” Danish cukup terkejut saat lama tak melihat sang anak.
Rasanya dada Viona begitu nyeri mendengar ucapan sang ayah. Dua bulan di tambah satu bulan, tiga bulan sejak ia menikah tak pernah sekali pun ayah dan ibunya datang menjenguk di rumah sang suami. Kecuali Viona sendiri yang datang ke rumah mereka. Apa setelah menikah anak perempuan akan di buang seperti itu?
Mengapa baru saat ini sang ayah bertanya hal seperti itu?
“Hanya perasaan ayah saja. Ini Viona bawa makan siang buat ayah. Boleh kita makan bersama di ruangan ayah saja?” Danish mengangguk cepat dan membawa sang anak masuk ke ruang kerjanya.
Lama ia memperhatikan Viona yang sibuk menata makan di meja.
“Sebelum makan, Vio mau beri tahu Ayah sesuatu. Entah ini berita baik atau buruk untuk ayah. Yang jelas Vio tidak tahu harus membagi ini dengan siapa lagi jika bukan ayah.” Rasanya ingin sekali Viona menangis saat itu, namun sekuat mungkin ia berusaha tenang.
“Viona…” tangan Danish bergetar kala melihat sebuah alat tes kehamilan dimana sang anak saat ini tengah mengandung.
Danish menjatuhkan air mata bahagia dan berhambur memeluk tubuh anak kecilnya ini. Sekali pun Viona sudah menikah, bagi Danish ia tetaplah anak yang kecil dan manja.
“Ayah akan punya cucu, Vi. Selamat yah, Nak. Lalu apa Axel sudah tahu hal ini?” Viona pun hanya mengangguk, tak mau jika sang ayah memintanya memberi tahu pada Axel. Biarlah saat ini hanya ia dan sang ayah yang tahu. Lagi pula, Viona yakin jika Axel tahu tentu pria itu bukan senang justru akan sangat marah.
“Ayo di makan yah?” Viona siang itu makan dengan sang ayah. Tidak tahu saja Danish jika pernikahan sang anak saat ini begitu di ambang kehancuran. Bahkan sebelum tiba di perusahaan Viona menyempatkan diri singgah di sebuah mall untuk memeriksakan kehamilannya. Takut jika di rumah akan meninggalkan jejak dan terdengar sampai ke telinga Axel.
“Pernikahanmu dengan Axel bagaimana? Baik-baik saja kan?” tanya Danish sembari menikmati makanan. Viona hanya tersenyum mengiyakan.
Tak banyak keduanya berbicara sebab Danish mengeluhkan perusahaan miliknya yang tengah banyak masalah. Viona tak tega jika harus banyak menuntut jawaban dari sang ayah hingga akhirnya ia pun memilih untuk pergi setelah makan siang bersama Danish.
Ketika terik matahari mulai bergerak menjadi sore, kini Viona sudah di rumah kembali lanjut dengan mengurung diri di kamar. Ia tahu menjauh dari hadapan Axel akan lebih aman untuknya dan juga kesehatan janinnya. Jangan sampai pria itu berlaku kasar padanya dan berpengaruh pada janin di rahim Viona.
Hal yang berbeda tengah Axel lakukan. Pria itu duduk menatap pusara sang kekasih yang kembali ia taburkan bunga indah di atasnya. Axel menatap nisan yang bertuliskan nama Tiara. Tiga bulan sudah berlalu namun semua masih terasa seperti mimpi.
__ADS_1
“Ini semua terlalu berat, Ra. Sulit aku menjalani kehidupan aku tanpamu. Bisa kah kau kembali untukku dan untuk adikmu? Bukankah kau mencintai kami? Mengapa kau justru pergi, Sayang?” Axel tak lagi menjatuhkan air matanya. Rasanya air mata itu sudah mengering seiring berjalannya waktu yang ia lewati tanpa sosok Tiara.