Heart For My Sister

Heart For My Sister
Meminta Ke Makam


__ADS_3

Pagi yang cerah menampakkan sinar mentari yang begitu indah berwarna kuning. Jalanan yang semula tak terlalu padat kini mulai di penuhi kendaraan bermacam-macam. Kesibukan di kota pagi itu mulai terlihat semakin jelas dimana kegiatan akan di mulai kembali.


Axel yang sudah bersiap diri di rumah sakit untuk pergi ke kantor beberapa kali mencium kening wanitanya. Kesempatan hanya bisa di gunakan ketika Viona terlelap. Bahkan wanita itu sangat nyenyak sampai tidak bisa menyadari jika dirinya di kecup sang suami beberapa kali. Jangan tanya dimana sang anak. Selama keadaan Viona belum di nyatakan sembuh total mereka akan menaruh terpisah dengan sang anak.


Axel sendiri tak berani mempercayakan sang istri sepenuhnya tidur dengan bayi mungil itu.


“Aku pergi kerja dulu, Nek. Kabari kalau ada apa-apa. Ibu dan ayah pasti sebentar lagi datang.” tutur Axel mengingat sang mertua berjanji akan tiba pagi hari.


Lillia mengangguk. Baginya tak masalah jika ia menjaga Viona. Toh dengannya, Viona tentu akan menurut.


“Hati-hati yah?” Axel pergi ke kantor usai menjenguk sang anak di ruang bayi. Sebentar lagi suster akan membawa bayi itu ke ruang sang ibu untuk minum asi.


Hingga pukul sembilan pun Lillia masih juga tak mendapati kedatangan Nada dan juga Danish.


“Tumben mereka belum datang juga…” gumam wanita tua itu hingga akhirnya pintu terbuka.

__ADS_1


Bukan yang di tunggu yang datang. Melainkan Anna dan Danny lah yang datang membawakan kue serta buah segar untuk Viona.


Beruntung Viona menemukan mertua yang begitu baik dan perhatian padanya.


Kedatangan Anna seketika membuatnya mengedarkan pandangan melihat sekitar. Orang yang mereka cari ternyata tidak ada di tempat.


“Bu, ibunya Viona mana?” tanyanya heran. Merasa kasihan jika Lillia seorang diri di ruangan itu menjaga Viona.


Belum saja Lillia menjawab, tiba-tiba suara dari arah pintu terdengar kala itu. Muncul dua orang wanita beda usia memasuki ruang rawat Viona.


“Nah Silvi, ini ruangan Viona. Kamu tidak apa-apa kan menggantikan Nada menjaga Viona?” ucapan dari Yara membuat Lillia dan Anna sempat terdiam mencerna.


“Ini sepupunya Viona, dia menggantikan Nada menjaga Viona. Lagi pula sudah ada Axel juga. Saya harus segera pergi sekarang.” Tanpa bersalaman atau cipika cipiki wanita tua itu pergi meninggalkan rumah sakit dengan sang supir.


Merasa sedikit canggung Silvi mendapat tatapan dari semuanya. Ia hanya tersenyum kecil lalu duduk di kursi yang kosong.

__ADS_1


“Memangnya ibunya Viona kemana?” Pertanyaan dari Anna membuat Silvi langsung mengangkat wajahnya.


“Di rumah, Tan.” sahutnya singkat.


Mereka semua bisa menebak dari raut wajah Yara tadi, jelas jika sepertinya terjadi sesuatu dengan mereka di rumah. Sebab tak biasanya Nada mau meninggalkan Viona begini.


Sejak kehadiran Viona, sepasang mata milik Danny tak hentinya menatap penuh selidik gadis yang katanya adalah sepupu dari Viona. Entah mengapa ia merasa ada yang aneh rasanya.


“Nenek…” panggilan lirih namun jelas terdengar. Lillia bangkit berdiri dari duduknya.


Ia tahu siapa yang di inginkan Viona, tentu dirinya. Segera wanita tua itu pun mendekati brankar tempat Viona berbaring.


“Ada apa, Vi?” Lembut Lillia bertanya tak lupa tangannya mengusap kepala Viona.


Di lihat wanita yang baru menyandang status ibu itu meneteskan air mata.

__ADS_1


“Ke makam Kakak…” tuturnya dengan memohon.


Mendengar hal itu sontak Lillia menoleh pada Anna dan Danny. Meminta persetujuan sebab saat ini Axel tidak ada di tempat.


__ADS_2