
Baru saja terlihat Axel bekerja, tiba-tiba wajah pria itu berubah sangat cemas mendapati kabar sang istri yang kini di larikan ke rumah sakit. Wajah tampan nan berwibawa milik Axel berubah pucat seketika. Ia berlari bahkan tak sabar menunggu lift, ia berlari kembali menuruni tangga dari lantai sepuluh. Sungguh Axel kehilangan akal saat mendapati keadaan sang istri yang sangat menegangkan saat ini. Tak ada pikiran lain selain tentang Viona saja di kepalanya saat ini.
"Tuhan...selamatkan istri dan anakku." ujarnya sepanjang menuruni anak tangga satu persatu hingga terdengar salah satu karyawan memanggilnya untuk menuju ke lift yang sudah mereka kosongkan dengan waktu begitu cepat.
"Pak, silahkan masuk Pak." panggilnya ketika Axel sudah berada di lantai delapan.
Tentu mereka tidak akan tega membiarkan Axel terus berlari dalam keadaan panik dan itu akan sangat bahaya untuknya. Menoleh Axel buru-buru mendekat dan masuk ke lift. Kemeja yang ia gunakan bahkan sampai basah saat ini oleh keringat.
Di rumah sakit kini Viona menjerit kesakitan ketika perutnya terasa kembali kontraksi. Nada di samping wanita itu menggenggam erat tangan Viona. Tak di sangka selama berbulan-bulan ia di diamkan kini justru Viona memohon pada Nada.
"Sakit, Bu. Sakit." keluhnya menangis. Nada mengangguk paham apa yang Viona rasakan seperti yang pernah ia rasakan saat menantikan kelahiran Tiara. Sedih tentu saja sedih mengingat perjuangan sulit itu dan kini anak yang ia perjuangkan sudah tak ada di duna.
"Sabar, Vio. Tarik napas lagi hembuskan pelan. Jangan ngejan dulu, Nak. Tunggu perintah dokter sebentar lagi yah?" Viona berubah menjadi anak penurut. Ia menganggukkan kepala patuh mendengar ucapan Nada.
Nada merasa terharu sebab di keadaan seperti ini mendadak Viona berubah padanya lagi. Di usapnya lembut kening sang anak yang penuh keringat saat ini. Di luar ruangan bahkan Lillia yang baru saja bertemu dengan Danish tampak menceritakan kejadian yang terjadi.
"Ibumu dan Nada sempat bertengkar. Ibu tidak tahu apa yang terjadi tiba-tiba pas ibu keluar Viona sudah terjatuh di lantai." ujar Lillia memberi keterangan pada sang besan.
Jangan tanyakan di mana keberadaan Yura dan sang suami. Pasangan tua itu justru kembali ke rumah sebab sang suami menarik paksa sang istri untuk pulang setelah apa yang Yura lakukan pada Nada.
__ADS_1
Sepanjang jalan Eko terus memarahi sang istri sebab terlalu ikut campur dengan rumah tangga Nada dan Danish.
"Ama, kalau tahu seperti ini jadinya, Apa tidak akan mau membiarkan Ama pergi ke rumah Axel. Janjinya mau kesana ingin menjenguk Nada kenapa jadi bikin keributan begitu sampai buat Viona celaka? Ama bisa di tuntut sama suaminya kalau sampai ada apa-apa dengan Viona."
Raut wajah Yara nampak takut mendengar ucapan sang suami. Masa iya di usianya yang senja harus menghabiskan waktu di penjara atau membuat kenangan di dalam penjara. Rasanya tidak mungkin itu. Ia tidak mau merasakan tempat terkutuk itu. Bahunya bergidik ngeri membayangkan semua itu.
"Apa jangan bicara begitu. Ama tidak mau pokoknya." sahut wanita tua itu.
"Makanya Ama tidak pernah mau mendengar suami kalau bicara. Kenapa coba tarik-tarik Nada seperti itu? Ingat umur, Ama. Kita sudah tua, Nad pun sudah tua juga bukan gadis belia lagi yang bisa di tarik-tarik paksa pulang seperti itu."
Tak ada perlawanan yang wanita tua itu lontarkan pada sang suami selain bibir yang maju ke depan kesal di ceramahi dan terus di salahkan
Ia duduk menunggu dengan gelisah hingga Axel pun datang di bagian akhir.
"Ayah," panggilanya langsung di sambut Danish yang berdiri.
"Axel, Viona di dalam masuklah gantian dengan ibumu," pintah pria itu dan Axel pun patuh.
Ia berjalan cepat masuk di saat itu pula Nada keluar karena tugasnya usai mendampingi Viona. Di sana sudah ada dokter dan suster yang tengah memberikan istruksi pada Viona.
__ADS_1
"Vio, yang kuat dan semangat yah?" ujar Axel yang ternyata tak mendapatkan jawaban hanya mata Viona yang menatapnya sendu.
Entah apa yang ia pikirkan saat ini ketika mendengar sang suami berkata demikian padanya. Viona meneteskan air mata saat mengejan pertama ia lakukan. Axel hanya terus menggenggam tangan Viona yang mengerat di tangannya. Bahkan terasa begitu menusuk kuku pendek sang istri di tangannya saat ini.
"Ayo Ibu Viona, lanjut tarik nafas dalam lagi..." sebuah intruksi demi intruksi terus di utarakan sang dokter dan Axel hanya membisikkan kata semangat di samping telinga sang istri hingga Viona terdengar menjerit begitu panjang.
"Aaaaaaaaaa!!!"
Suara bayi pun terdengar setelahnya. Axel membulatkan mata tak percaya melihat tubuh merah di bawah kaki sang istri kini keluar dengan tangisan yang begitu memekakkan telinga. Air mata pria itu jatuh saat itu juga dan bibirnya tersenyum lebar.
"Anaknya laki-laki, Bapak." ujar sang dokter memperlihatkan bayi itu pada Axel. Di bersihkan seadanya bayi tersebut dan di berikannya pada Axel untuk di adzani. Viona melihat semua itu dengan pandangan sayu sampai akhirnya ia memejamkan mata tak sanggup menahan kesadarannya.
Dokter yang mengetahui Viona pingsan segera mengambil tindakan, sementara bayi itu segera di bawa ke ruang bayi khusus. Dan Axel pun masih tetap di tempat itu menunggu sang istri.
Infus kembali di periksa dan beberapa obat di berikan pada suntikan infus tersebut setelah Viona di larikan ke ruang perawatan usai mendapatkan pelayanan kebersihan dari bidan.
"Axel, bagaimana Viona?" tanya semua keluarga yang sudah berkumpul di depan ruangan itu melihat Axel keluar lebih dulu.
"Viona pingsan, Bu. Setelah ini dokter akan memindahkan ke ruang rawat. Semoga hanya karena lelah saja tidak ada masalah serius yang Viona dapatkan." semua tegang mendengar ucapan Axel.
__ADS_1