
Dengan persetujuan akhirnya malam ini Lillia datang kembali ke kediaman sang cucu dengan membawa serta barang-barang yang ia butuhkan. Axel senang memiliki nenek yang begitu pengertian. Bahkan di usianya tua ini sama sekali Lillia tak menunjukkan keinginan sama sekali untuk mencari pendamping hidup.
“Bibi, tolong bantu nenek. Ayo Nek saya antar ke kamar.” ajak Axel yang di angguki oleh wanita tua itu.
Viona yang masih mengurung diri di dalam kamar sudah sejak tadi terlelap dalam tidurnya.
“Nek, istirahatlah. Nenek jangan capek-capek. Aku harus kembali ke kamar dulu.” ujar Axel begitu perhatian pada sang nenek dan Lillia mengangguk setuju.
Wanita tua itu pun segera membaringkan tubuhnya di atas kasur memejamkan mata lelap. Sedang Axel kini heran saat melihat pesan dari Raisa.
“Xel, i miss you so much…”
“Wanita gila!” umpat Axel kesal lalu meletakkan ponsel tanpa berniat membalasnya.
Menoleh melihat Viona yang sudah tidur, Axel mendesah kasar. Entah sampai kapan pernikahannya terus di uji. Rasanya lelah ketika ia hendak memperbaiki semuanya justru kemarahan berada di diri Viona. Padahal di awal pernikahan dirinya yang sangat menolak keras pernikahan tersebut.
Pelan tanpa ragu Axel berbaring dekat dengan sang istri. Keinginannya tidur memeluk tubuh Viona nyatanya tak bisa ia tahan saat ini. Axel pun terpejam saat merasa bisa menyetuh tubuh Viona.
Sudah dua minggu terlewatkan, anak buah dari Raisa tak kunjung membawa Viona ke hadapannya. Sejak wanita itu benar-benar tak keluar dari rumah. Rasanya begitu kesal tentunya.
“Ngapain sih wanita itu? Dua minggu di rumah terus apa nggak stress?” tanyanya pada diri sendiri, begitu pun dengan Axel yang juga nampak betah di rumah setiap selesai dengan kerjaan.
Dan selama dua minggu itu Viona yang kembali melukis di kamar selalu di temani oleh sang nenek.
“Nenek suka dengan lukisan kamu, Vio. Boleh kah kau melukis wajah Nenek sebagai kenang-kenangan?” tanya Lillia yang mengagumi lukisan di depannya saat ini.
“Kenapa sebagai kenang-kenangan? Nenek boleh aku lukis setiap hari jika nenek mau.” Bertambah sudah teman bicara Viona selain sang ayah. Lillia pandai dalam hal membujuk sang cucu menantu.
“Wah wah sekarang ayah sudah di cuekin yah, Vi?” celetuk Danish yang tersenyum melihat percakapan Viona dan Lillia.
“Ayah, bukan begitu.” ujar Viona. Danish dan Lillia terkekeh bersama.
Mereka pun memperhatikan gerakan tangan Viona yang mulai melukis satu keluarga besar. Di sana ada dirinya, Tiara, kedua orangtua, keluarga dari Axel namun tidak menampakkan wajah sang suami sama sekali. Tentu saja itu mengundang perhatian Danish dan Lillia.
“Vio, kayaknya ada yang kurang deh siapa yah?” ujar Lillia menerka-nerka.
__ADS_1
“Viona nggak bisa lukis wajah lelaki kejam itu, Nek.” sahut Viona tanpa basa basi jika ia tidak melukis Axel.
Tak sadar jika nama yang di sebut barusan kini berdiri entah sejak kapan di depan pintu dengan tatapan mata yang tidak bisa di artikan. Sedih mungkin Axel merasa sedih sang istri begitu menghindarinya.
“Nenek, malam ini rekan kerja Axel akan datang. Axel minta tolong nenek buat sedikit kue yah biarkan pelayan yang membantu nenek.” Lillia mengangguk menyetujui permintaan sang cucu.
Setelah itu pria tersebut pun pergi. Jika ada orang yang bersama sang istri ia merasa lebih baik menjauh dari Viona.
Raut ceria wajah Viona menghilang saat melihat suaminya justru pergi tanpa mengajaknya bicara sedikit pun dan itu membuat Viona merasa ada yang kurang.
Lillia pun meninggalkan kamar itu di susul oleh Danish yang hendak bekerja. Di sini Viona sendiri lagi merenung nasibnya.
“Apa dia sudah muak denganku? Bahkan dua minggu ini aku tidak mendengar suaranya sama sekali.” gumam Viona yang merasa kehilangan sosok Axel.
Jika sebelumnya pria itu terus membujuk meminta maaf dan melakukan segala cara. Tidak kali ini. Sedangkan di luar ternyata bukan hanya Viona yang merasakan hal itu, tetapi sang ayah pun juga sama.
“Axel, apa kau sudah lelah?” tanya Danish membuat Axel menoleh ke belakang.
“Ayah,” sahut Axel.
“Ayah perhatikan sikapmu begitu dingin pada Viona.”
Axel yang mendengar ucapan sang ayah mertua menghela napasnya kasar. Ternyata sikap yang ia pilih justru salah di mata orang.
“Aku hanya membiarkan Viona tenang tanpa mau membuatnya marah, Ayah. Bukankah dokter sudah berpesan untuk tidak membuatnya darah tinggi? Bahaya untuk keselamatannya sebab sedang hamil. Biarkan Viona tenang dulu.” ujar Axel dan sepertinya Danish kali ini tak cukup setuju mendengarnya.
“Sepertinya itu akan salah di mata Viona, Axel. Wanita hamil akan sangat sensitif dan pasti lebih ingin di perhatikan. Bisa di bilang ingin di kejar-kejar. Ayah bukan bermaksud mendukung Viona, tapi itulah kenyataannya.” tutur Danish.
Keduanya terus mengobrol sembari keluar dari rumah. Axel mulai paham dengan apa yang di pikirkan sang ayah mertua.
Singkat cerita sore pun sudah tiba, dimana Lillia sibuk di bantu Nada menyiapkan kue untuk tamu dari Axel. Sementara Axel baru tiba dengan sebuah buket bunga di tangannya.
“Bu, Viona di kamar kan?” tanyanya menuju arah kamar setelah mendapat anggukan kepala dari Nada.
Ketukan pintu serta suara sapaan dari luar membuat Viona menoleh sejenak lalu kembai memejamkan mata acuh, hingga ia di buat penasaran dengan sesuatu yang di letakkan di depannya.
__ADS_1
“Vio, maafin aku yah? Ini bunga aku bawakan semoga kamu mau memaafkan semua kesalahanku. Jujur aku tidak ada niat sama sekali untuk menutupi semuanya jika bukan permintaan dari dia. Sekarang kita sudah menikah dan sebentar lagi akan punya anak. Aku ingin hubungan kita baik-baik saja dan bahagia ketika pernikahan kita sudah lengkap. Aku bukan suami yang sempurna, tapi aku akan belajar bukan demi Tiara, melainkan demi masa depan kita dan anak-anak kita.”
Panjang lebar Axel berucap meski melihat kedua mata Viona tertutup rapat. Pria itu bergerak memeluk tubuh Viona dan mengecup kening wanita itu.
“Aku tidak masalah jika kau tidak mendengar semuanya kali ini, aku akan mencoba kembali setelah kau bangun nanti.” Melihat sama sekali tak ada respon yang Viona berikan. Axel pun kembali turun dari ranjang dan memilih untuk mandi.
Sebab sebentar lagi ia akan kedatangan tamu rekan kerjanya. Merasa dang suami sudah tak ada, Viona menjatuhkan air mata saat membuka mata dan melihat bunga yang indah di depan matanya saat ini.
Ada perasaan yang tidak bisa di jelaskan di hati Viona saat ini, ia pun menatap bunga itu cukup lama sembari mengingat-ingat setiap perkataan dari Axel.
“Apa yang harus ku lakukan saat ini? Apa benar semua yang dia ucapkan? Tapi kenapa rasanya sulit percaya dengannya. Kak Axel begitu sangat mencintai Kak Tiara. Bagaimana mungkin dengan mudah ia akan memulai semua denganku. Ini tidak mungkin bisa terjadi. Aku tahu Kak Axel melakukan ini semua pasti karena anak yang sedang aku kandung.” gumam Viona dalam hati bertanya-tanya.
Tak terasa waktu begitu cepat berputar dan kini tamu yang di nantikan akhirnya tiba juga. Axel kembali membisikkan kata pamit pada sang istri untuk menjamu tamu kerjanya.
“Vio, aku ke meja makan dulu, ada tamu klien bisnis yang akan makan malam di rumah ini. Segeralah bergabung jika ingin makan bersama. Jangan lupa dandan yang cantik yah?” Axel berlalu pergi sontak membuat Viona membuka cepat kedua matanya.
Bukan tentang Axel atau dirinya, tapi pertanyaan jatuh pada siapa yang menjadi tamu sang suami? Mengapa sampai di undang ke rumah. Atau jangan-jangan seorang wanita cantik. Mendadak pikiran Viona kacau saat ini.
“Siapa sih tamunya? Kenapa tidak ada juga yang datang ke kamarku? Kemana semuanya?” Viona mulai di buat penasaran. Ingin keluar kamar ia merasa gengsi sekali.
Di meja makan terdengar tawa menggelegar dari seorang pria tua yang bisa di lihat sepantaran dengan Lillia.
“Tuan Raul, nenek saya single loh,” semua tersedak kaget mendengar ucapan Axel.
Mendengar namanya di sebut, sontak Lillia mendelik tak setuju.
“Axel!” kesalnya yang hanya di jawab senyuman oleh pria tampan itu. Sebab ia tahu jika pria tua di depannya pun juga duda.
“Benarkah?” Tuan Raul bersuara sembari menatap Lillia dengan penuh tanya.
Wanita tua yang begitu terlihat masih cantik.
“Benar sekali, Tuan. Oh iya ini kue juga hasil buatan Nenek saya.” sambung Axel lagi-lagi mempromosikan Lillia.
Nada dan Danish yang mendengar hanya terkekeh. Sepertinya Axel memang berniat ingin mencarikan jodoh sang nenek di usia tuanya.
__ADS_1