
Ketakutan di wajah Viona membuat Nada segera meminta sang anak untuk tenang. Ia memegang kedua tangan Viona sembari tersenyum.
“Bu, nanti nenek tahu. Bagaimana kalau marah dengan ibu? Sekarang ibu pulang yah? Biarkan Viona menyelesaikan dengan nenek lebih dulu, Viona bisa kok. Ini pasti sedikit lagi nenek akan memaafkan Viona.”
“Untuk apa meminta maaf? Tidak ada yang salah, Viona. Sekarang nenek mau makan yang banyak kue buatan kamu. Bisakan?” Viona menoleh ke arah pintu utama.
Dimana Yara berjalan dengan wajah tersenyum padanya di ikuti oleh sang suami juga.
Axel yang melihat raut wajah wanita tua itu tampak mengerutkan kening heran. Apa gerangan yang bisa membuat wajah kaku itu berubah tersenyum. Yang Axel ingat setiap kali bertemu Yara, wanita itu selalu saja menampakkan wajah marahnya.
“Nenek,” gumam Viona lirih.
Ia menatap bingung tak berani mendekat. Rasanya ini seperti halusinasi dirinya saja yang terlalu berharap bisa berhubungan baik dengan sang nenek.
“Viona, awas.” Axel yang sigap ketika Yara mendekati Viona, kini tubuh sang istri tertutup tubuh Axel.
Melihat itu Yara sama sekali tak menunjukkan wajah marahnya.
“Axel, cepat biarkan Viona membuat kue untukku. Jangan halangi. Aku sangat ingin makan kue yang puas saat ini.” Lagi-lagi Axel pun di buat bengong.
Di belakangnya Nada tampak memerintah Viona mengikuti permintaan sang ama. Ia berbisik jika nenek sudah menerima semuanya. Segera saat itu jiga Viona beranjak membuat kue tanpa mau di bantu oleh siapa pun. Sepanjang waktu Viona bekerja ia selalu menunjukkan senyumannya.
__ADS_1
Hal yang sangat ia nantikan akhirnya tiba meski dalam hati Viona begitu sangat penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya oleh sang nenek. Terakhir kali ia tahu hanya video yang di kirim oleh sang ibu.
Semua duduk di meja makan pagi itu dengan Viona membuat satu macam kue dengan porsi yang cukup banyak. Kue tradisional yang Viona pilih saat ini.
Kue dari sulawesi namanya adalah kue perahu, kue yang tidak begitu banyak di kenal orang namun cita rasanya sangat memanjakan lidah siapa pun yang memakannya.
“Nenek akan memakan semuanya sebagai permintaan maaf, boleh?” Yara bertanya saat Viona meletakkan satu nampan kue buatannya di depan sang nenek.
Senyum kaku Viona tunjukkan, bagaimana pun ia masih canggung dengan perubahan sang nenek yang mendadak tentunya. Ia mengangguk dan Yara terlihat sangat menikmati kue itu.
“Nenek minta maaf. Nenek salah sudah menghakimi kamu, Vio. Nenek sadar setiap manusia tak ada yang hidup sempurna tanpa dosa. Tapi, kamu justru benar-benar bersih dari hal itu. Nenek tahu benar kehidupan kamu, tapi nenek justru selalu menyangkut pautkan kamu dengan semua yang terjadi. Maafkan Nenek Viona. Mau kah kau memaafkan nenek yang sok suci ini?” Pandangan mata tua itu menatap begitu dalam kedua mata Viona.
Viona menggeleng tak setuju dengan ucapan Yara. Bagaimana pun semua yang di lakukan Yara tentu ada alasannya.
Keduanya berdiri berhadapan dengan Viona yang sejak tadi berada di samping sang nenek. Dua pasang tangan pun saling memeluk satu sama lain.
Lega rasanya Nada melihat keduanya bisa berdamai. Meski Axel masih menatap penuh curiga. Sebagai suami siaga ia tak boleh lengah sedikit pun.
“Nenekmu sudah mengakui semuanya, Viona. Nenekmu juga pernah berbuat salah di masa lalu dan itu membuatnya bisa membuka mata untuk tidak membencimu. Dia harus bisa memaafkan semua orang di sekelilingnya, termasuk Axel juga. Yang sudah menikah denganmu adiknya Tiara. Kamu tidak perlu sedih lagi saat ini. Kehamilanmu sangat bahaya jika terus menerus kamu memikirkan hal berat.” Sang kakek akhirnya buka suara juga kali ini.
Perubahan sikap sang istri tentunya pengaruh dari sikapnya sebagai suami yang mampu menyadarkan sang istri.
__ADS_1
Sejak saat saat itu pun Viona tak lagi sedih hingga detik ia melahirkan pun kini tiba. Sepanjang kehamilan tua ia selalu di dampingin sang nenek.
“Sayang, jangan lari-lari! Sini, lihat Kak Vino pintar.” Teriakan dari Viona nampak di dengar dengan patuh oleh anak keduanya yang di beri nama Vita.
Mereka semua satu keluarga besar tampak membersihkan makam Tiara yang nampak terawat. Bunga indah sudah di taburkan di atas makam yang di beri keramik rapi dan bersih.
Viona memeluk nisan bertuliskan nama sang kakak, Axel mengusap punggung sang istri. Kedua anaknya Vino dan Vita nampak bermain di sekitar makam itu. Yara mengusap pusara sang cucu di dampingi oleh Nada dan juga sang suami.
Anna, Danny, dan Danish semua turut hadir di makam itu untuk mengirimkan doa pada Tiara yang sudah di yakini tersenyum senang melihat mereka semua bahagia dan bersatu saat ini.
Kepergian yang di putuskan untuk sebuah kebaikan tentu akan menghasilkan kebaikan pula pada semuanya. Meski raganya sudah tiada, namun nama Tiara masih terasa hidup di sekitar mereka semua. Viona pun turut merasakan kehadiran sang kakak yang selalu menemaninya dengan jantung yang ia dapatkan dari Tiara.
“Terimakasih, Tuhan. Terimakasih, Kak Tiara sudah memberikan Viona jalan kehidupan lebih panjang. Aku akan menjaga semua yang kakak ingin aku jaga.”
Axel pun hanya tersenyum mendengar sang istri berucap.
“Terimakasih, Ra. Kamu benar-benar wanita berhati mulia. Cintamu begitu besar dan tulus ingin membuat aku bahagia. Aku benar-benar bahagia berkatmu. Aku akan menjaga amanahmu, Ra. Aku akan menjaga Viona, istriku dengan segenap jiwaku.”
Axel mencium kepala sang istri dan mereka semua mengabadikan moment tersebut sebelum akhirnya pulang ke rumah dengan wajah bahagianya.
“Namamu akan selalu hidup, Nak.” kini Danish menatap penuh kerinduan pada nisan di depannya.
__ADS_1
TAMAT