
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Axel tengah bangun dari tempat tidur. Ia membersihkan diri lalu bergegas keluar dari kamar. Menyiapkan sarapan hingga akhirnya ia di kejutkan dengan kedatangan Raisa yang tiba-tiba bersuara di belakangnya. Entah kapan wanita itu memasuki vila. Wajah tampan dan apron yang melekat di tubuh tinggi pria itu membuat Raisa terpesona berkali-kali lipat pagi ini.
"Hai, Xel?" sapanya dengan ramah.
"Hai." balas Axel yang berbalik badan kembali meneruskan memasaknya.
Raisa beberapa kali melihat sekitar mencari sosok wanita pengganggu yang tidak ingin ia lihat, sepertinya harapannya benar. Jika Viona tak akan keluar pagi itu. Pada akhirnya ia pun merasa lebih leluasa berdua dengan Axel.
"Aku bantu yah?"
"Jangan Raisa."
"Sudah, nggak apa-apa aku bantuin. Nanti aku pulang juga kok tanpa di usir. Setelah dari sini aku mau jalan-jalan soalnya." akhirnya mendengar ucapan Raisa yang sepertinya baik-baik saja, Axel pun memilih membiarkan saja. Toh mereka tak melakukan apa pun saat ini.
Keduanya nampak memasak dengan saling membantu, lebih tepatnya Raisa yang terus bertanya butuh apa lagi untuk di siapkan. Lalu Axel pun menerima semua campuran masakan yang ia dapat dari Raisa.
"Ternyata Tiara sudah meninggal yah, Xel? Kok nggak ada yang kasih tahu aku yah?" mendengar ucapan Raisa seketika Axel terdiam mematikan kompor di depannya.
Pria itu menarik cepat tangan Raisa dan membawanya keluar dari villa. Menjauh dari Viona adalah cara yang paling aman ia lakukan saat ini. Axel membuat Raisa menyandarkan tubuhnya di pohon rindang yang ada di tepi danau itu.
"Kamu bicara apa, Raisa?" tanya Axel begitu kaget. Sedangkan Raisa justru tersenyum tenang saat ini.
"Aku mau bicara ini semua sama kamu di restauran malam ini, aku tunggu Xel. Akan aku kirimkan alamatnya sama kamu. Bye..." dengan santai wanita itu justru meninggalkan Axel tanpa mengatakan apa pun lagi.
Axel yang kaget tak bisa melakukan apa-apa saat ini. Bagaimana mungkin Raisa bisa tahu kepergian Tiara? Segera pria itu menghubungi sang mertua demi menanyakan sumber berita yang Raisa dapatkan. Dari sini Axel tidak sadar jika di dalam vila sana Viona tengah memperhatikan pergerakan pria itu yang begitu gelisah saat bertelponan dengan Danish.
Viona duduk di meja makan sarapan seorang diri lalu kembali masuk ke dalam kamar.
Di sini Axel tak mendapatkan informasi apa pun dari sang mertua, pasalnya Danish sendiri juga tidak ada komunikasi dengan Raisa setelah kepergian wanita itu keluar negeri. Begitu juga dengan Nada yang tak mengatakan apa pun pada Raisa.
Wanita yang baru saja pergi meninggalkan rasa penasaran di hati Axel nampak tersenyum puas. Semula ia sendiri merasa tak percaya atas berita yang tanpa sengaja ia dapatkan dari salah satu teman sekolahnya dan juga teman sekolah Tiara.
"Sa, waktu Tiara meninggal lu dimana? Kok nggak kelihatan sih?" tanya Sonia seorang gadis cantik yang memiliki kedua orang tua sama-sama berprofesi sebagai dokter.
"Tiara siapa, Sonia?" sahut Raisa dengan santai saat dii video call oleh sang teman.
Pikiran Raisa tengah fokus pada masalahnya yang sulit mendapatkan jalan untuk mendekati Axel. Bahkan pria itu semakin ke sini justru semakin lengket dengan Viona.
"Lu nggak bercanda kan, Raisa? Lu bener-bener nggak tahu? Atau lupa?" sahut Sonia lagi yang semula duduk santai di ayunan segera duduk menegakkan tubuhnya.
Semula ia berniat menghubungi Raisa untuk menanyakan liburannya sampai kapan, sebab ia berniat ingin menyusul ke swiss juga. Justru kali ini pembahasan mereka jadi berubah.
__ADS_1
"Yah gue nggak tahu maksud lu, Son." sahut Raisa lagi.
"Tiara, Tiara sahabat dekat lu. Meninggal lu nggak tahu, Raisa? Ini bener-bener gila." ujar Sonia yang menggelengkan kepala tak percaya dengan berita yang ia dengar.
Begitu pun dengan Raisa yang berdiri dari tempat pembaringannya. Ia menatap serius pada layar ponsel di depannya. Dimana wajah cantik Sonia terlihat jelas.
"Tira Mustika? Sahabat gue meninggal? Son, lu nggak bercanda kan?" tanya Raisa sangat kaget bukan keplang.
Sonia pun tidak tahu apa-apa perihal hubungan Raisa dan Tiara yang ternyata tidak sedekat yang ia lihat, ia berkata sejujur-jujurnya pada Raisa tanpa menutupi satu pun kejadian. Salah besar jika Sonia mengira Raisa akan menangis sedih, wanita itu justru di sini terduduk diam seolah sulit percaya dan juga senang bersamaan.
Mendengar semua kenyataan dimana keluarga meminta para dokter untuk tidak berkata pada Viona, adik dari Tiara demi rasa bersalah yang mungkin bisa membuat Viona terpuruk, mereka semua sepakat untuk mengikuti permintaan Tiara. Sayang, semua sudah terbongkar ketika berita itu sampai di telinga Raisa saat ini.
"Sa, lu nggak nangis?" tanya Sonia membuayarkan lamunan Raisa saat itu juga.
Segera Raisa pun menggelengkan kepala. "Son, sudah dulu yah. Gue mau nelpon orang tua Tiara dulu. Kenapa mereka tega banget sih nggak kasih tahu gue selama ini?" Sonia pun hanya mengangguk saja dan panggilan pun terputus.
Satu hari penuh, Raisa habiskan dengan berbelanja semua barang yang ingin ia beli. Wanita itu benar-benar merayakan harinya saat ini sebelum malam nanti tiba waktunya ia makan malam dengan Axel. Momen yang tak pernah terbesit di dalam pikiran wanita itu terjadi seperti sebuah kejutan.
"Viona...Viona...malang sekali nasibmu. Jadi Axel menikah denganmu karena ada jantung Tiara di tubuh kamu. Bagaimana reaksinya ketika kamu tahu pria yang menikahimu hanya ingin menjaga organ tubuh kekasihnya? Hahahaha ini akan menjadi sebuah kejutan yang menyenangkan yah, Viona?" gumam Raisa tertawa sepanjang jalan menuju pusat perbelanjaan di negara tersebut.
Kedatangan Raisa sukses membuat Axel beberapa kali kedapatan melamun oleh Viona. Padahal janji pria itu jika hari ini mereka akan berjalan-jalan menuju Jungfraujoch, dimana mereka bisa menikmati pemandangan pegunungan Alpen. Tempat yang membuat mata pengunjung termanjakan dengan pemandangan indah sekali. Bahkan Axel memikirkan semua transportasi untuk menuju tempat yang ingin ia tuju, dimana mereka akan menaiki kereta listrik.
"Kak, aku sudah siap." sahut Viona kesal sejak tadi berdiri di samping Axel, namun pria itu hanya diam saja tanpa bergerak sedikit pun.
"Ayo," ajak Axel yang segera berdiri menggandeng tangan Viona.
Keduanya akui jika selama berada di swiss, perlahan hubungan mereka mulai dekat meski seperti roda selalu berputar, terkadang baik terkadang bertengkar, selalu saja seperti itu terus menerus.
Rasanya selama perjalanan Viona sedikit bosan, sebab pria di sampingnya selalu diam tanpa berniat bicara. Hingga perjalanan pun berakhir juga di tempat tujuan, Axel benar-benar terlihat seperti banyak pikiran.
Viona yang begitu antusias menikmati momen hari itu pun merasa sedikit tak nyaman sebab Axel sama sekali tak perduli padanya. Andai Viona tahu apa yang terjadi sebenarnya bagaimana reaksinya, dan Axel merasa belum mampu memenuhi permintaan Tiara untuk membuat hubungan pernikahan mereka lebih dekat.
Ketakutan Tiara jika sampai Viona meninggalkan Axel saat tahu kebenarannya, siapa yang akan menjaga sang adik.
"Sudahlah kita pulang saja." Viona yang usai menikmati beberapa waktu di tempat itu merasa ingin pulang.
"Viona, hari masih panjang. Kenapa harus pulang?" tanya Axel pada akhirnya. Namun Viona sama sekali tak menjawab.
Wanita itu kembali menaiki kereta dan menuju mobil, Axel terus mengikuti sang istri pergi kemana pun. Mungkin memang lebih baik jika mereka pulang sebab pikiran pria itu saat ini juga sangat tidak tenang.
***
__ADS_1
Waktu yang sangat di nantikan Raisa pun akhirnya tiba. Hal yang membuat kedua orang tua Tiara dan Viona nampak kepikiran setelah mendapatkan telepon dari Axel. Bahkan mereka berniat untuk meminta Axel membawa Viona kembali pulang dan menjaganya lebih baik di Indonesia.
"Akhirnya kamu datang juga, Xel." ujar Raisa mencium pipi Axel kanan dan kiri.
Melihat banyak orang di tempat itu rasanya Axel risih sekali, ingin menolak ia tak ingin membuar Raisa malu di depan umum. Menerima saja, rasanya enggan ia lakukan. Terlebih wanita itu justru menempelkan tubuhnya di dada bidang Axel.
Pakaian sedikit terbuka di bagian dada membuat Raisa tampil begitu anggun dan seksi malam ini.
Axel duduk setelah menarik kursi untuk Raisa duduki. Memang seperti itulah yang terjadi di kalangan atas ketika menghormati teman wanitanya.
"Raisa, katakan. Siapa yang memberi tahu semua berita itu? Dan-"
"Ssst...tenanglah Axel. Kita bisa menikmati malam ini dulu sebelum bebicara pada intinya bukan? Bukankah istrimu hanya untuk kau jaga jantungnya? Aku rasa tidak masalah kau meninggalkannya demi bersama denganku malam ini?" Axel hanya diam tak menjawab ucapan Raisa.
Jujur saja wanita di depannya memang sangat menarik untuk di nikmati. Namun, Axel berusaha memalingkan pandangannya sebab hati dan tubuhnya sudah ada yang memiliki. Sebagai seorang pria yang sudah cukup mapan, Axel pun ingin mendapatkan sentuhan dari sang istri. Untuk saat ini keadaan memang begitu membuat Axel tersiksa.
Raisa yang melihat keterdiaman Axel justru mengangkat tanganya untuk menggenggam tangan Axel di atas meja. Wanita itu mengelus dengan lembut dimana gejolak terasa mengalir dari atas kepala pria itu hingga ke bawah tubuhnya. Entah apa yang terjadi pada Axel malam ini. Pikirannya yang kacau justru membuat dirinya sulit berpikir jernih.
"Cheers." ujar Raisa mengangkat gelas berisi wine di tangannya dan Axel mengikuti.
"Aku minta lupakan masalah itu, Raisa. Tiara akan sedih jika tahu kau akan setega itu pada Viona, adiknya. Jangan membuat Viona semakin berat berpikir."
"Viona, adik yang tega membuat kakaknya pergi demi mendapatkan jantung? Lalu mengambil juga belahan jiwa Tiara? Axel, ada aku yang sejak dulu jauh lebih mencintaimu. Malam ini aku menyerahkan semua diriku untukmu, setelah itu aku berjanji tidak akan mengingat masalah itu lagi. Jadilah milikku, Xel. Viona tidak akan tahu semuanya dan semua akan baik-baik saja."
Mendengar ucapan Raisa, Axel menggelengkan kepala tak percaya. Pria itu tak habis pikir dengan perasaan Raisa yang benar-benar gila. Di depanya saat ini wanita itu semakin membentuk tubuhnya dari cara duduk yang terlihat sangat menggoda.
"Aku menikahi Viona tidak main-main, Raisa. Jangan membuat hal yang gila. Aku tidak akan mau mengikuti permintaanmu. Ingat itu." ujar Axel.
Raisa tersenyum santai dan kembali menahan tangan Axel yang hendak bergegas pergi dari meja makan itu.
"Xel, ayolah makan dulu. Setidaknya temani aku makan."
"Persetan!" umpat Axel begitu kasar dan melempar tangan Raisa begitu kuatnya.
Pria itu hendak pergi setelah merasa tak ada yang bisa di bicarakan dan di harapkan dari Raisa. Wanita itu mengancamnya dengan cara halus agar bisa mendapatkan Axel. Tidak, Axel tentu tak sebodoh itu menuruti ucapan Raisa. Dimana ia akan terjebak dengan tawaran yang Raisa berikan.
"Kak," suara lirih dan bergemetar membuat Alex menoleh ke samping.
Betapa kagetnya Axel melihat Viona yang sudah berdiri di sampingnya dengan air mata yang berderai begitu deras di wajah cantik itu.
"Vi-Viona?" tanya Axel gugup melihat sang istri.
__ADS_1
Sebab setahunya Viona saat ia tinggal sedang tidur dan bagaimana mungkin Viona tahu tempatnya bertemu dengan Raisa.
Jelas jika di lihat dari reaksi Viona, saat ini wanita itu sudah pasti mendengar semua yang di katakan Raisa pada Axel tadi.