
Rasa kecewa di hati Viona tiba-tiba muncul tanpa bisa ia utarakan ketika mendengar sang ibu yang menolak untuk di ajak masuk oleh Axel. Bahkan pria itu baru saja berniat membatalkan janji temu dengan rekan kerjanya justru kembali ia urungkan kala mendengar sang mertua yang tidak bisa berlama-lama di sana. Nada hanya memeluk Viona dan bertanya beberapa hal terkait sang cucu yang sempat ia gedong sejenak. Hingga akhirnya wanita itu bergegas pamit untuk pulang. Sebelumnya Viona berpikir jika mungkin sang ibu akan menunggu ayahnya pulang bekerja dengan menghabiskan waktu bersamanya di rumah itu. Ternyata tidak, Nada justru akan pulang dengan mengantar sang suami ke kantor lebih dulu.
"Bu, tidak bisakah tinggal lebih lama?" tanya Viona entah mengapa ia merindukan wanita ini. Sudah beberapa hari ia tidak melihat Nada memperhatikannya justru membuat Viona sadar akan kehilangan perhatian seorang ibu. Dan kini ia sangat menginginan hal itu.
Nada tersenyum meski dalam hatinya sangat sedih mendengar ucapan sang anak. Dimana ia ingin sekali menuruti permintaan Viona namun tak bisa ia lakukan saat ini. Dan itu semua juga demi Viona. Ia tidak ingin menambah kesedihan sang anak.
__ADS_1
"Ibu akan kesini lagi, kamu baik-baik dengan Axel yah?" ujarnya yang meninggalkan Viona dengan tatapan sendu. Menatap punggung kedua orangtuanya yang kian menjauh hingga tak terlihat lagi ketika mobil sudah membawanya pergi.
"Vio, aku harus segera berangkat ke kantor. Nenek, titip Viona yah?" ujar Axel berbicara pada Lillia usai mencium kening wanita itu.
Melihat anggukan kepala dari sang nenek akhirnya Axel beranjak pergi meninggalkan rumah. Viona masuk bersama Lillia dengan perasaan yang masih ganjal. Pikirannya terus terfokus pada sang ibu yang berubah padanya. Meski terasa sentuhan pelukan hangat sang ibu begitu membuatnya tenang, namun tatapan mata wanita paruh baya itu tentu membuat Viona sadar jika ada yang salah. Ada yang tidak beres dengan ini semua pastinya.
__ADS_1
Hari itu setelah menemui Viona di rumahnya melihat keadaan sang anak semakin membaik, rasanya Nada tak ingin melewatkan banyak moment tanpa Viona dan sang cucu. Entah mengapa ia merasa semakin ingin sekali dekat dengan Viona dan Vino. Sepanjang jalan menuju pulang ke rumah usai mengantar sang suami ke kantor, Nada justru meminta berbalik arah ke pemakaman sang anak. Dimana ia merindukan Tiara saat ini, mungkin jika biasanya Tiara akan selalu mendengarkan semua ceritanya sebagai seorang ibu. Tak jarang Tiara bahkan memberikan nasihat jika pikiran sang ibu sedang kalut.
Air mata kali ini tak lagi menetes, seiring berjalannya waktu Nada mulai bisa menerima kepergian sang anak dengan ikhlas. Di usapnya nisan bertuliskan nama Tiara di sana.
"Ra, ibu rindu sekali. Ibu lagi pengen cerita dan dengar saran kamu sekarang. Ibu bingung apa yang harus ibu lakukan. Nenekmu begitu keras menolak adikmu, Ra. Ibu benar-benar tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Viona pun sedang tidak sehat, bagaimana bisa ibu membiarkan nenek mu menemui Viona dengan mengatakan semua kebenarannya?" wanita itu menunduk mencurahkan semua isi pikirannya.
__ADS_1
Bayangan Tiara yang tersenyum memeluk dirinya dan mencium pipi sang ibu biasa akan mendapat respon senyuman dari Nada saat itu juga. Tiara selalu bisa menghibur sang ibu di tengah kesibukannya bekerja.