Heart For My Sister

Heart For My Sister
Permohonan Maaf Keluarga Raisa


__ADS_3

Duduk bertiga menatap fokus pada sosok wanita yang tengah terborgol di kedua tangannya, pria berjas yang duduk di dampingi wanita paruh baya itu menatap penuh kekecewaan. Berkali-kali ia menghela napasnya kasar tak habis pikir dengan apa yang di lakukan sang anak. Tak tahu harus berkata apa saat ini, mengeluarkan dari penjara pun rasanya tak bisa mengubah semua kekecewaannya pada sang anak. Di didik dengan begitu baik dan penuh kasih sayang nyatanya tak mampu membuat pola pikir anak tunggalnya itu bisa bersikap dewasa. Apalagi ketika tahu siapa lawan keluarga yang ia hadapi saat ini, tentu tak akan mudah untuk menjangkau mereka.


"Bagaimana nasib anak kita, Papah?" sahut wanita yang bernama Yuli Andriana, mamah dari Raisa berusaha mencairkan keadaan yang tegang.


"Kita harus memohon dengan kelurga korban, Mah. Tidak ada cara lain." ujar Agam Hendrawan yang sangat paham soal hukum.


Perkara seperti ini sulit untuk di selesaikan apalagi pihat penggugat bukanlah keluarga sembarangan. Tentu sedikit saja salah sangka akan membuat semua masalah ini menjadi besar. Axel tentu tak akan diam saja tanpa menelusuri semua kejadian demi kejadian jika saja Agam menggunakan kekuasaan yang tak seberapa di bandingkan Axel.


Mereka semua adalah keluarga yang memiliki masing-masing nama yang cukup di kenal di kalangan bisnis. Dan Raisa tentu tahu hal itu. Mendengar ucapan sang papah, wanita itu baru terpikirkan jika tak semudah yang ia pikirkan untuk bisa bebas dari sini. Semua pikirannya tertutup kala melihat Viona yang ingin sekali ia habisi. Setelah semua terlewatkan, barulah Raisa berpikir tentang dirinya tentang masa depan keluarga dan dirinya.


Bahkan demi keegoisan dan pikiran yang labil itu ia sampai harus membuat kedua orangtuanya menjatuhkan harga diri di depan Axel. Sungguh keterlaluan bukan? Raisa terdiam menyesali dengan apa yang ia lakukan pada Viona. Murni menyesal untuk keluarga, tetapi rasa tak rela jika Viona bersama Axel tentu masih mendominasi hati wanita itu.


"Papah benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepalamu itu, Viona. Viona adalah adiknya Tiara, sahabatmu. Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan itu? Axel itu suami Viona, dan itu yang kamu inginkan?" Raisa menunduk tak berani menatap wajah sang papah yang penuh kecewa padanya.


Agam menggeleng mendesah frustasi. "Pria baik dan juga tampan begitu banyak yang kamu temui setiap bekerja. Mengapa harus suami orang?" lanjut pria itu kembali.


"Jangan lupa dengan hukum karma, Nak. Mamah selalu mengingatkan kamu untuk berbuat baiklah pada orang yang jahat pada kita, apalagi dengan Tiara yang begitu baik padamu hingga keluarganya...apa kamu tidak malu dengan itu semua? Meski Axel bisa kamu dapatkan saat ini, tidak menutup kemungkinan karma akan datang berikutnya dengan begitu sangat kejam. Apa kamu lupa dengan yang terjadi pada almarhum nenek mu?" Air mata Raisa pun jatuh pada akhirnya setelah mendengar ucapan lembut dari sang mamah.


"Dia meninggal dengan sangat mengenaskan, Raisa. Merebut suami orang sampai di tinggal dengan suaminya sendiri untuk wanita lain pada usia yang sudah cukup tua, semua anaknya pergi meninggalkan dia tanpa mau merawat ketika sakit bahkan papahmu juga enggan merawatnya. Hanya mamah sebagai menantu yang mau mengambilnya. Siksaan tak berhenti di situ saja, nenek mu perlahan kehilangan satu persatu anggota tubuhnya karena penyakit diabetes. Itu semua tak luput dari hukuman Tuhan. Apa kamu tidak takut seperti itu? Meski murni adalah sebuah penyakit. Tapi campur tangan Tuhan untuk memberi pelajaran pada hambanya pasti ada."


Agam pun terdiam mengingat mendiang sang ibu yang memang benar semua apa yang di katakan sang istri. Agam beruntung ia memiliki istri yang begitu tulus padanya dan juja keluarganya. Yuli sampai mengurus semua kebutuhan sang ibu hingga wanita tua itu benar-benar pergi meninggalkannya selamanya. Dan kejadian itu tentu di saksikan langsung oleh Raisa tentunya.

__ADS_1


Bergegas Agam meminta petugas untuk membawa kembali sang anak masuk dan mengajak sang istri pergi dari sana. Kini mereka akan lebih dulu menuju ke rumah sakit dimana polisi mengatakan Viona tengah menjalani perawatan. Bertemu Axel rasanya mereka belum memiliki keberanian sebelum bertemu dengan kedua orang tua Viona lebih dulu.


Tentu semua berita tentang kepergian Tiara sudah mereka dengar, dan kini Agam bersama Yuli akan meminta maaf lebih dulu pada keluarga Viona. Setidaknya berbicara dengan yang sepantaran akan jauh lebih mudah dari pada mereka harus langsung berhadapan dengan Axel.


"Pak Danish, Bu Nada." sapa Agam menggandeng sang istri mendekati sepasang suami istri yang baru saja hendak memasuki ruang perawatan Viona. Sepertinya mereka baru saja datang dari luar atau lebih tepatnya dari rumah ketika melihat di tangan mereka ada tas pakaian dan barang lainnya.


Melihat kedatangan kedua orang tua gadis yang menyebabkan anak mereka menjadi depresi berat tentu sebuah rasa serba salah bagi Nada dan Danish saat ini. Tak langsung menyambut dengan ramah, keduanya berdiri diam saling pandang seolah bertanya apa yang harus mereka tunjukkan saat ini? Marah, kecewa? Sedih? Atau lainnya? Hingga pada akhirnya Nada yang bersikap lebih dulu.


"Mau jenguk Viona, Pak? Bu?" sapa wanita itu jauh lebih lembut meski di wajahnya tak menampakkan senyum sama sekali.


Tentu kesal mengingat anak sepasang suami istri inilah yang sudah menyebabkan Viona seperti saat ini.


Segera Agam dan Yuli pun menganggukkan kepala mereka dan keduanya di persilahkan masuk. Betapa kaget sepasang suami istri itu melihat Viona hanya berbaring dengan bibir yang terus berbicara entah apa yang ia katakan sebab sangat lirih, sedang kedua tangannya tengah di ikat di kiri dan kanan ranang pasien.


Ia pikir Raisa di tangkap hanya murni untuk menculik dan menyakiti Viona, tapi nyatanya sang anak melakukan hal yang mereka sendiri tak tahu sampai bisa membuat Viona depresi seperti ini.


"Papah, Raisa melakukan apa padanya?" tanya Yuli yang mendekati ranjang Viona sedih melihatnya.


"Papah pun tidak tahu, Mah. Tapi Raisa memiliki kemampuan untuk mengatasi orang depresi itu artinya ia pun mampu membuat seseorang mengalami depresi." sahut Agam yang ingat dengan kemampuan belajar sang anak selama ini bahkan ia sering ikut seminar sebagai narasumber.


Semua keluarga yang ada di ruangan itu hanya diam mendengar perbincangan Agam dan sang istri. Hingga akhirnya mereka pun kedatangan sosok Axel. Pintu ruangan terbuka terlihatlah pria tampan itu masuk dengan di sambut oleh sang ibu, Anna.

__ADS_1


Takut Axel marah, Anna mendekati dan memegang lengannya. "Orang tua Raisa datang mau menjenguk Viona, Xel." ujar Anna yang hanya di angguki pria itu.


Kedatangan Agam dan Yuli pun kini mulai mereka bicarakan. Sebagai tujuan untuk meminta maaf dengan sebesar-besarnya. Mereka semula sangat ingin memohon dengan jalur damai, namun mendengar ucapan Axel yang tak mau melewatkan begitu saja yang terjadi pada sang istri, Agam pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia pasrah jika sang anak harus di jatuhi hukuman. Sebab keadaan Viona pun sangat memprihatinkan saat ini. Dimana jika mereka yang di posisi keluarga Viona pun akan melakukan hal yang sama.


Pulang dengan hasil yang tak sesuai harapan, Agam menghela napas kasar setibanya di dalam rumah. Pria itu duduk lemas bersandar pada sofa di temani sang istri.


Mereka harus merelakan hukuman di jatuhkan pada satu-satunya anak gadis mereka.


Sementara di rumah sakit, Viona kembali berulah. Semua terkejut saat sebuah mangkuk bubur di tangan Nada di hempas begitu kasar oleh wanita itu.


"Ibu mau meracuni aku? Pergi! Jangan dekat-dekat." teriak Viona menjerit bahkan ia memberontak dari ikatan tali di tangannya itu.


Nada yang semula berusaha lembut membuju sang anak untuk makan mundur dengan wajah syok.


"Viona, ibu sama sekali tidak mau meracuni kamu. Lihat ini bubur dari suster. Bukan ibu yang buat." ujar Nada memberi pengertian.


"Kalian semua jahat. Kak Tiara, aku mau ikut kakak. Biar aku yang mati. Ibu tidak suka denganku. Dan pria itu, dia sangat kejam denganku, Kak. Aku mau mati saja. Aku mau mati!!" teriak Viona menggema kembali.


Semua menatap dengan tatapan nanar. Lillia yang ingin mendekat bahkan di larang oleh Axel. Ia tak ingin wanita tua kesayangannya harus mendapat kekerasa dari Viona. Keadaan jiwa Viona saat ini sedang tidak stabil.


"Axel, kami pulang dulu. Nanti besok kami ke sini lagi. Ada yang mau di titip kah?" Zaniah dan Firhan pamit undur diri ketika Axel mengatakan tak menitip apa pun.

__ADS_1


Begitu juga dengan kedua orang tua Danny yang pamit undur diri. Di sini tersisa kedua orang tua Viona, Axel, dan juga Lillia yang setia menunggu di rumah sakit. Serta Anna dan Danny.


__ADS_2